Saturday, 14 January 2012

Gadis Hujan (3)


“Aku baru menyadari, betapa aku begitu mencintai hujan ketika aku sempat membencinya dan mengusirnya, lalu aku merindukannya.”
Aku berdiri dibalik jendela, menatap iri pada awan yang sedang kedinginan. Keadaan sekitar yang menggelap akibat cahaya abu merangkaka naik. Apakah ada kata lain yang bisa kugores untuk melukisnya lebih baik? Mendung. Sebuah keadaan yang memberikan kita soal dan kita hanya mampu untuk sekedar menebaknya. Mengapa? Karena ketika aku menyentak rinitk air dan berkata; “Hujan.” Justru ia menghadirkan berkas cerah menggersangkan. Lalu, ketika kukatakan; “Cerah.” Justru ia menurunkan air mata karena aku salah. Bukankah antara waktu yang mengisi, ruang yang mempertemukan dimensi yang mengelilingi kita juga seperti itu? Lalu? Kamu tahu jawabannya, ketika kamu berdiri di depan pintu yang mengubahmu untuk membenci hujan yang membuatmu melepaskannya atau yang mengubahmu untuk mencintai hujan yang membuatmu menginginkannya. Kamu hanya terjebak dalam rindu.

1 comment:

  1. you really should write a book. Who knows some hollywood people want to make a movie about one of your stories.... :D

    ReplyDelete