Friday, 11 September 2015

Lelaki Sejati

Seseorang pernah meneleponku, ia sekadar menanyakan bagaimana kabarku karena mendapati media sosialku berisi unggahan aktivitasku yang memadat. Sekitar setengah jam awal dan semuanya terdengar seperti basa-basi klise (dan aku menegak teh hitamku begitu ringannya) sampai ia mulai mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaan. Rasa teh hitam yang kuaduk dengan beberapa sendok gula tadi tiba-tiba menghambar, melambat jadi pahit. 
“Apakah kita bisa menemukan cinta di antara kiriman karangan bunga di meja kerja yang ditinggalkan saat jam makan siang, balon-balon huruf yang disusun membentuk nama kita lalu disandingkan dengan balon lainnya yang berbentuk daun hati, selipan puisi pada salah satu lembar buku favorit kita tanpa kita tahu, dan hal-hal konyol lainnya?”
“...yang penting ini tentang kamu, bukan dirinya. Cinta itu tentang orang lain, bukan diri sendiri.”
“Apakah kita bisa mencari seseorang yang seperti itu?”
Aku mengenyitkan dahi, kuletakkan cangkir putih porselenku. Itu percakapan yang sulit.
“...kamu tidak mencarinya, melainkan menemukannya. Berarti seluruhnya sudah ditulis dan disiapkan. Tak perlu khawatir. Kamu hanya butuh menjadikan diri sebaik-baiknya agar bisa menjadi seutuhnya diri terbaik bersama seseorang yang tepat tersebut. Kamu hanya perlu menunggu sebelum semuanya berakhir bahagia.”
Lidahku kelu.
“Apakah pada pribadi yang cerdas, cantik atau tampan, bijak dan arif, pekerja keras, kaya atau konglomerat, baik hatinya, dan berbagai personaliti terbaik lainnya, kita bisa menemukan sejatinya cinta?”
Nafasku sesak. Aku merasakan dadaku nyeri. Aku sudah lama menutup perbincangan perihal cinta – itu hanya dongeng yang buruk. Aku pun bangkit dari tepi kasur, mengambil asal salah satu naskah drama, menukil salah satu dialognya.
“...banyak laki-laki di jalanan. Tangkap salah satu. Ambil yang mana saja, sembarang dengan mata terpejam juga tidak apa-apa. Tak peduli siapa namanya, bagaimana tampangnya, apa pendidikannya, bagaimana otaknya dan tak peduli seperti apa perasaannya. Gaet sembarang laki-laki yang mana saja yang tergapai oleh tanganmu dan jadikan ia teman hidupmu! Asal, ini yang terpenting, asal dia benar-benar mencintaimu dan kamu sendiri juga sungguh-sungguh mencintainya. Karena cinta, karena cinta dapat mengubah segala-galanya. Dan lebih dari itu, lebih dari itu, karena seorang perempuan, siapapun dia, dari manapun dia, bagaimana pun dia, setiap perempuan dapat membuat seorang lelaki, siapa pun dia, bagaimana pun dia, apa pun pekerjaannya bahkan bagaimana pun kalibernya, seorang perempuan dapat membuat setiap lelaki menjadi seorang laki-laki yang sejati!*” bacaku panjang lebar, yang awalnya memelan menjadi semakin tegas. Sudah bertahun-tahun lamanya aku tidak ikut olah vokal pada klub teater yang kuikuti dulu.
Seseorang di seberang telepon itu diam cukup lama. Sebelum yang kudengar hanya isak kecil yang tertahan – dan aku teriris. Kubuang naskah itu seraya bergumam, lain kali aku akan mengajaknya kopi darat dan kuceritakan kisah-kisah sepatu kaca. Lebih lembut, pikirku. Tiba-tiba saja, nada parau yang sedikit serak mulai menyambung kembali darinya.
“Jadi,”
“Apa – “
“Apakah,”
“Apakah kamu sudah menemukannya, Ver?”
Peganganku pada tubuh ponselku pun melemah. Ponsel itu terjatuh. Tubuhku mematung, seakan dikutuk beku seperti itu selamanya. Dan waktu bergerak lambat. Aku memaksa diri duduk perlahan, sementara ponselku mengicaukan sahutan ‘halo’. Aku merasa kunang-kunang – entah jauh dari hutan mana, terbang mengerubungi sepasang mataku. Membuatnya buta – dan semenjak itu aku bertingkah bodoh.
Aku teringat padamu. 

*Nukilan dari naskah drama ‘Percakapan, Pada Suatu Sore’ karya Yussak Anugerah yang diadaptasi dari cerpen Putu Wijaya yang berjudul ‘Lelaki Sejati’. Keduanya adalah karya yang begitu indah.
This entry was posted in

0 Comments:

Post a comment