Showing posts with label Still Eps.. Show all posts
Showing posts with label Still Eps.. Show all posts

Sunday, 18 May 2014

Pangeran Rembulan


Itu lorong yang cukup ramai. Beberapa teman yang lewat menyapaku ramah atau hanya menyinggahi senyum. Lalu, aku melihatmu duduk di atas meja yang sudah tak terpakai, teronggok di depan mading sekolah. Ia mengamati lalu lalang orang-orang. Sepertinya tengah menunggu seseorang. Cukup lama, membuatmu turun dari meja, bersandar sejenak sambil mengamati perubahan mading sekolah yang sudah dua tahun ditinggalkanmu. Dua tahun sudah berlalu, sejak kukatakan padamu untuk menunggu. Dan, kamu hanya diam, tertawa kecil. Menggantung jawab tak pasti. Hingga sekarang, kulihat kamu melempar mata rembulanmu pada gadis lain. Gadis berambut panjang, bermata sipit, kulitnya putih mulus. Gadis yang berminggu-minggu lalu datang kepadaku, mencurahkan galuh hatinya yang tertambat oleh baris-baris kalimatmu. Gadis yang kukatakan padanya untuk menerimamu. Nyatanya, kamu tengah jatuh cinta lagi, seperti yang pernah kamu katakan padaku; gue gampang jatuh cinta, Ver. Kamu; si lelaki pemotong rembulan, apa kabar? Sudah lama sekali.
Ah, tiga tahun lalu, aku tahu ketika kamu katakan cinta, itu bukan gurauan. Sebab kulewati malam-malam menyiksa setelahnya, mencoba mengusir bayangmu yang menghantui tiap bagian mimpiku, menangisi lagu-lagu yang mengisahkan awal pertemuan kita. Kamu; si lelaki pemanah rembulan, membuat hari-hariku selalu lebih bersemangat dibanding sebelumnya. Tapi, kini, purnama berubah menjadi hampa. Ada saat dimana bulan penuh menjadi bulan hampa. Void Moon. Detik-detik dimana semuanya bergerak menjadi sebuah kesialan dalam astrologi Cina yang terkadang kita percayai. Dan aku percaya, sejak kamu berikan ide cerita pertamamu untuk kutulis, itu terjadi saat bulan hampa. Kamu hanya mengganti tinta hitam pada pena milikku dengan darah yang menggenang di hati yang luka.
Malam ini, tak ada bulan. Tak juga ada bayangmu lagi. Sebab semuanya telah berganti hujan. Lalu senja. Dan, sekarang, aku bergelut dengan lelaki lain yang penuh jenaka. Namun, terkadang aku mengingatmu. Terlebih ketika kutemukan pigura yang membingkai potretmu dengan gadis itu. Aku tersenyum, diam cukup lama mengamati lengkung senyummu, sebab kamu terlihat bahagia, tidak seperti dulu; saat membincangkan cinta denganku. Mungkin sejak awal, kita memang sudah berjalan di garis rapuh yang penuh dengan kesalahan.
Lalu, aku melangkah melewati mading, tatap mata kita bertemu. Aku memicingkan mata, haruskah kita menukar sapa? Bukankah dulu kamu berjanji menjadi kakakku selamanya? Menjagaku dari ganasnya malam, menerangiku dari gelap malam dan menemaniku dari kesendirian malam yang meringkus jiwa. Seharusnya tak ada sekat canggung di antara kita. Lalu, kamu melambai tanganmu kecil. Aku menunduk kepala sedikit, berusaha menyembunyikan senyum hambar. Kamu berlalu bersama gadis itu. Usailah cerita kita.
Kamu; si lelaki pencuri bulan, membiarkan bulan malam itu menjadi sabit. Kamu memotongnya, menawariku apakah aku akan menyimpannya untukmu. Untuk kita. Kukatakan padamu, aku tidak ingin mengusik malam. Dan, kamu mengembalikan rembulan di tempatnya menggantung – atau justru kamu berikan pada gadis itu? Tapi, kuyakin ia pun tidak menyimpannya, sebab rembulan tepat ada di atas kepalaku. Kini, rembulan melihatku; menertawaiku.
*ini kamu; si pangeran rembulan; yang kutulis kisah-kisahnya dalam episode Still. Sebab, rembulan masih menggantung di sana. Masih.

Sunday, 5 August 2012

The Last Still


I hope I can write another ending…but,
The last moment when I throw a silence promises for you to waiting, you just replied by those mysterious smile, trapped in your own silent and walked away behind me, leave me with a loneliness, then now, I got you staring at her with those deeply look eyes that you ever given to me for the first time we met.
Back to this September Rain…remember when I fake a smile in front of you, so you can’t see what I feel deep inside. When you back to me, try to haunt me in my dream, try to catch me back, try to touch this painfull heart again after everything mess between you and her. Who do you think you are?
I realized. I’m not a kind of girl who will be fool for love. I use heart to love you, but, I use mind to remember you. So, I won’t be blind. Remember all of your silence when I ask you to keep the love. Those silent means you won’t stand under the pouring rain to scream that love. You neglected me at that time, so far, I just knew.
I wipe my every single tears with my own hand. I’m lying in my own bed, never in your arms here for me. I hugs my own night bolster, not you. And, I cry every middle-night, I found that just another sad love song who accompany me to cheer me up, not your sounds. I found that just a little sparkling star and a warm moon who here beside me, not you. I never feel your linger here. Now, you just a stanger.
But, you’re not must be sorry or everything after this writing published. I thank you for ever love you, I will not be regret, because, maybe, that’s my favorite mistake.
I hope I can write another ending…but,
This ending, whatever the condition, nust become the ending. The tears ever drop must to be laughter…

Still…(14)


Ini episode tentang lagu dan kamu.
I will write a thousand songs to make you comprehend how beautiful you are…
Tik Tok. Jarum jam mulai bersuara, ia menyela di antara sunyi yang sedang berkuasa ketika detik-detik tengah merangkak menuju tengah malam, saat ketika malam menidurkan kita dengan mimpi manis untuk menutupi keganasannya. Ruang tamu yang mengukungku telah gelap, tak ada cahaya lampu yang menyilaukan lagi. Hanya ada pantulan cahaya dari luar, aku berjalan keluar dari kegelapan ruang ke arah pantulan cahaya malam. Lalu berhenti di sebuah jendela, teringat akan suaramu yang pernah berbisik sama dengan lirik lagu yang memiliki nada-nada malam itu…
My heart says louder than my head…
Kamu berbagi lantunan lagu dengannya dan tertawa bersamanya. Saat itu aku tahu, ada lagu lain yang menyeruak di antara lagu yang kuberi. Kamu menolak lagu-laguku. Kini, lagu lain itu masih bertengger di ingatanku, sesekali terdengar begitu menusuk mengingat kamu dengan lagu itu menjadikan kamu ialah hal yang semu untuk diraih.
Dear God, its my dilemma.
He’s so much faraway. I’m tired to missing someone. In this lonely road with a drop of rainfall, I just found that he accrosed this mind for a thousand times. And, I’m realized, I’m missing him to hold on. But, how I can answer if to make him stay is I must leave?
Aku berkata “Tinggalkan aku!”, sesungguhnya itu berarti, aku berharap kamu berlari mengejarku, menyambar lenganku dan menarikku ke dalam pelukanmu lalu berkata; I got nothing to leave each other.

Sunday, 15 July 2012

Still...(13)


This the way I want you to love me…
“Jangan cintai aku selamanya, karena bagaimana jika ‘selamanya’ ini berakhir detik ini? Maka, cintailah aku selama kamu yakin untuk itu, karena, yakin itu bukan berujung pada akhir, sebab ia bukan waktu.”
“Jangan mengingatku, tapi , rasakanlah aku. Karena, ingatan mungkin saja hilang, namun, rasa tidak, justru, ia menuntun ingatan untuk kembali mengingat.”
“Jangan mencintaiku seolah-olah kamu tak bisa hidup tanpaku, karena itu berarti, aku adalah malaikat mautmu. Tapi, cintailah aku sebagai tempatmu untuk kembali.”
“Aku tak memintamu untuk mengarungi samudra dan melewtai lautan luas, aku hanya memintamu mengerti kebisuanku.”
“Aku ingin jika kamu berkata kamu mencintaiku tanpa alasan, itu berarti karena kamu tak dapat melihat alasan itu, sebab cinta itu buta.”
“Aku ingin kamu bisa berbicara denganku lewat tatapan matamu, menciumku lewat senyumanmu dan menyentuhku lewat suara hatimu.”
“Cinta itu bukan kamu. Tapi, cinta itu adalah kamu dan aku.”
So, With what do you thinkin’ of me, by your heart or mind?
But, the ending is…we just pretending each other…

Still...(12)


I never think ‘bout you again, because, i always feel you now
Aku jadi teringat. Di suatu pagi aku terbangun dengan mata yang begitu berat, aku berjalan keluar kamar terhuyung menuju ruang tamu dan duduk. Mataku masih setengah terpejam ketika sebuah earphone tergeletak di meja begitu menggoda untuk mendengar lagu-lagu yang melewati kabel itu. Aku meraihnya dan memasangnya pada handphone yang setiap waktu berada digenggamanku. Lagu-lagu pun berputar. Terus berputar sampai kudengar lagumu menari-nari di telingaku. Dan segalanya bukan lagi gelap hasil pejaman mata. Aku tersentak. Pagi buta itu, aku dibutakan olehmu, lagi.
It was late in September, and I’ve seen you before. You were always the cold one, but I was never that sure. You were all bye yourself…
Inilah kamu. Kamu adalah kamu dalam lagu itu. Dimana segalanya bersamamu hanya berupa kenangan biru sejak September….Kita berdua berakhir dalam lukisan semu, lagu cinta kelabu dan kata-kata kaku.
Kebisuan bukan lagi meminta untuk saling megerti, melainkan meminta untuk saling menjauhi.
I’m just a girl who ask him to love her…
Selalu ada getaran dan sedikit rasa antusias yang membuncah ketika namamu tersebut, ketika namamu kubaca dan ketika kamu memanggilku dalam kekakuan ruang percakapan kecil di layar monitor. Di suatu malam dimana kekosongan yang mengisi jiwa karena adanya rindu yang tertinggal. Lalu, kamu datang, ya, sebah sapaan kecil yang menyalakan. Namun, lewat pertanyaan kecil setelahnya yang juga menyesaakkan, meredupkan, menggelapkan, menghancurkan.
You ever thought just maybe…you belong with me?
Ada yang sakit. Ketika kamu bertanya mengenai seseorang lain padahal ada seseorang di depanmu yang siap terluka untukmu. Aku rapuh. Lalu, aku retak. Ketika kamu bercerita dan kudapat, bahwa kamu memakai cara yang sama ketika kamu berkata kamu mencintaiku walau dalam bisikan angin yang hening yang terbungkus begitu erat dalam berkas cahaya rembulan di kala malam saat kita melihat langit senja gelap yang sama walau dengan jarak yang jauh dan jendela yang berbeda. Kusentuh pipiku, tak ada air mata yang jatuh untukmu. Kering. Mungkin, sudah habis bersama lagu-lagu itu. Mungkin, seharusnya cerita kita pun habis bersamanya. Karena, tak ada lagi sisa yang kutemukan. Mungkin, sudah lama, rasa itu kauhilangkan.

Monday, 2 July 2012

Still...(11)

We found love in the hopeless place.
Aku telah berada terlalu jauh. Mungkin tepatnya terperangkap dalam sisa jerat yang dibuatmu dalam diriku dan jaring-jaring yang tak kusangka kubentuk yang seharusnya berguna untuk balik memenjarakan jeratmu, justru berputar seperti bumerang, mengenaiku, menghantamku, menghancurkanku, kembali padamu.
Kuputar sebuah lagu, lagu yang tak pernah kuperhatikan liriknya ketika penyanyi melantunkannya. Lalu, entah mengapa, di suatu siang, ketika aku membaca salah satu kalimat di akun sosialmu, aku merasa aku mengenali kalimat itu. Aku pun tersadar, itu sebuah lirik lagu yang kerap kali terlintas melewati gendang telingaku tapi tak pernah berhenti untuk terserap oleh otakku yang terlalu penuh dan sesak akan tebaran namamu.
Ini terlalu berlebihan. Maka itu, aku sadar, aku terlempar begitu jauh. Ini liburanku, liburan keduaku yang anehnya, bahkan sebuah kata berharga ‘liburan’ ditengah waktuku yang begitu sibuk terasa tidak cukup menutupi dan mendorong namamu dan ingatanku akanmu. Ingatanku tidak pernah berlibur untuk mengingatmu. Berkali-kali aku berjanji untuk melepas diriku darimu atau melepasmu dariku hanya berupa gertakan yang menyulitkan tapi tidak menghentikan.
Be the one that i can waiting for...
Kini segalanya hanyalah pertanyaan yang menggantung di udara. Layaknya pertanyaan yang menggantung menanti jawaban, aku pun menggantung di suatu keadaan yang tak bisa kulukiskan dengan goresan penaku; menantimu, menunggumu...ketidakmungkinan yang kau tawarkan dalam tatapan mataku mungkin cukup keras menghantamku, tapi, tak cukup mengubah rasa yang pernah kamu tawarkan padaku, walau kini itu berupa kepingan, namun, ada kalanya genggaman tangan ini terus menjaganya...

Sunday, 10 June 2012

Still...(10)


“I miss you to hold on…I just wanna hold you close…closer…to make you know that I have a heart that always feel you.”
 Lembayung senja memangku tubuhku di belakang rumah, menemaniku selagi bahuku yang berguncang kecil dan bergetar karena ada tangis yang tengah tercipta. Aku melihat sentuhan tanganmu pada potret terakhirmu bersamanya yang kamu pasang dalam layar mayaku. Lalu setelahnya, aku mematikan layar itu secepatnya, secepat aku merasakan ada yang mati dalam diriku.
Sesungguhnya, kamu dan aku hanyalah memiliki sebongkah rasa yang sederhana. Tidak serumit keadaan yang dihadapi anak manusia yang harus berani mencintai vampire yang menahan dirinya untuk tidak menghisap darahnya. Tidak semenegangkan keadaan yang dihadapi manusia yang harus mempersembahkan pilihan kematian pada kekasihnya dalam sebuah pertarungan sehingga ia harus memilih antara cinta dan hidupnya. Tidak sesulit keadaan yang dihadapi malaikat yang jatuh cinta dengan setan. Tidak seperti mereka-mereka. Kita sederhana. Tanpa harus berlari dan menjatuhkan sepatu kaca. Tanpa harus mengorbankan diri layaknya kisah dramatis Romeo Juliet. Tanpa harus ada banyak hal yang menjadikan persoalan lebih dominan dari permasalahan sesungguhnya; sebuah cinta dan sebuah rasa.
Love is when you feel me eventhough you’re not try it.
Tapi, cinta itu memang hadir bukan untuk dimengerti, tapi untuk dirasa, karena ia tak muncul akibat pemahaman ilmu pengetahuan, namun sebuah hati yang siap dipinjamkan dan meminjamkan. Cinta ada bukan untuk diingat, tapi untuk untuk dirasa, karena ia ada bukan dari sebuah pikiran, melainkan hati yang harus siap rapuh atau hancur. Maka, cinta itu muncul bukan karena kamu, tapi karena aku merasakanmu. I feel you when you faraway or not.
Kerumitan cinta bukan untuk dipecah, karena ia bukan matematika. Ketegangan dalam cinta bukan untuk diselesaikan, karena ia bukan masalah. Kekhawatiran akan cinta bukan untuk digenggam agar tidak lepas, karena ia bukan benda. Karena cinta ialah sebuah rasa, maka kamu hanya butuh membangkitkan rasa.
Namun, ketika teori-teori indah yang kubuat dan kurangkai dalam kata-kata ini terasa begitu indah untuk dinikmati, tapi, itu semua hanyalah kekosongan ketika aku tahu, ini semua berbicara mengenai kamu yang telah melepaskan rasa…

Thursday, 31 May 2012

Still...(9)


“Love. Its already happened. I can’t change this feelin’, but, i can try it to be forgotten. Its such of another sad words for you, when some love songs already sung to memorize and remember moment of you. When i hope you hold my my hand, take me to the place we were use to be together, but, it just like ur broken promises. And, i want you know that i never moving on from you.”
 

Jika orang banyak yang berkata ada dua jenis cinta, yaitu cinta yang memiliki alasan dan yang tak beralasan, mungkin, aku tak masuk di antara keduanya karena aku berada di antara keduanya.
I love him with a reason, but, i have no reason to let him go.
Aku mencintainya dengan sebuah alasan, tapi, aku tidak punya alasan untuk melepaskannya.
Karena, aku tidak pernah ingin menemukan alasan agar bisa melepaskannya dan karena aku selalu ingin memiliki alasan untuk mempertahankannya walau alasan itu berupa tidak ada alasan.
Love is blind. Its because cupid painted love with heart not eyes. So, love is feel. Feel is a heart. And, the heart is in you.
Tapi, kamu terus mencari. Aku terlewati. Berusaha terganti, padahal, aku hanya bersembunyi, menunggumu berkata; inilah yang akan menemani dan kumiliki.
Like i wait and guess you’ll become the first and the last, but, i can’t denied that you never remember, just hope that you never let me go, listen to me, there’s a time to greet, so, kiss me and smile for me and say you love me...
Aku tidak memakai kata forever, selamanya.
‘Cause, i’m afraid, if this our last forever, so, what’s forever for?
Ini hanya berupa goresan kenangan yang tak pernah habis tentangmu. Mungkin, kamu kini hanyalah menjadi bagian dari pembentukan khayalanku, kamu bukan lagi kenyataan yang bisa kusadari untuk kurasa. Bukan lagi. Dan, takkan lagi. Tak pernah lagi.
Still...its you...

Monday, 28 May 2012

Still...(8)


Like what my heart ever shouted in every night ago; I just tried to say good bye. I also tried to live without you, but, I found that I can’t.  I pretend to play cool, but, everyone know, that I’m fallin’ into you. 

Aku ingin kamu tahu satu hal tentang cinta. Cinta itu bukan seperti apa yang ada di pikiranmu. Cinta itu bukan sentuhan. Cinta itu bukan kegalauan. Cinta itu bukanlah sepotong hati. Cinta itu ialah ketika kamu masih bisa mendengar di antara kebisuan. Cinta itu ketika kamu masih bisa melihat di antara kebutaan. Cinta itu ketika kamu masih bisa menyentuh di antara kejauhan jarak. Cinta itu ialah ketika kamu melihat rembulan dan mengatakan rembulan itu begitu cantik memesona lalu saat itu, kamu menyadari, bukan rembulan itu yang cantik, tapi karena kamu melihat bayangan cinta di sana.  Dan, satu lagi, cinta itu…kamu.
Di suatu sore, saat senja mencoba mengusir pergi matahari siang, aku duduk di pinggir sebuah lapangan basket. Saat itu, kosong. Lapangan hanya disirami dan dimainkan hingga mengering oleh pertarungan sengit senja dan terik siang. Lalu, sekelompok mahasiswa sekitar empat orang, berlari mengisi lapangan itu, dua orang lainnya sibuk dengan bola futsal mereka, dan dua lainnya mendribel bola basket, aku tertarik mengamati seorang mahasiswa bertubuh sedang berkaus hijau tua, ia memainkan bola basket dengan baik, membuat bola itu mengelilinginya, lay up shoot berkali-kali dan banyak hal. Lalu, semakin lama, hingga setengah jam, aku merasakan ia menjadi objek seluit dari senja yang akhrinya memenangkan pertarungan. Ingin sekali aku memotretnya, namun, kurungkan itu. Aku biarkan itu menjadi potret tak berbingkai.
Lalu, saat itu, kamu melintas di benakku, aku ingat ketika kamu berkata kamu mencintai basket, aku pun ingat, aku tak pernah melihatmu bermain dengan bola itu, terakhir, aku hanya melihatmu menentengnya di lorong kelas. Saat itu, perhatianku buyar terhadap mahasiswa basket itu, seorang sahabtaku menepuk bahuku dan mengajakku pulang. Ragaku mungkin pulang, tapi, pikiranku yang merekam mahasiswa itu tak pernah kembali pulang, ia terus di sana, dan, benakku yang memotret sekilas bayanganmu pun tak pernah kembali pulang seperti semula, potert bayangmu, walau samar, masih ada. Walau terkadang, tak kurasakan lagi getaran tiap menyebut namamu, tak kudapati lagi diriku tersenyum kecil tanpa sebab karenamu, dan yang terpenting, tak lagi ada cinta yang penuh di hati ini untukmu. Karena, aku akhirnya lelah.
Like what my close friend always said to me that; Nothing hurts more than waiting…

Sunday, 29 April 2012

Still...(7)


Last night. Aku menemukan sebuah judul lagu yang dinyanyikan seorang pernyanyi, judul yang cukup menarik, lalu, aku mencoba meresapi kata-kata yang dilantunkan penyanyi itu. Aku hanya mampu duduk terpaku di depan layar televisi. Biarkan Aku Jatuh Cinta. Lagu itu melukiskan, seseorang yang tetap mencintai tanpa memperdulikan apakah orang yang ia cintai akan memberikan hatinya padanya atau tidak. Bukankah, seharusnya setiap yang memiliki cinta juga seperti itu? Termasuk aku dan kamu. Aku mematung.
Many night ago. Temanku bercerita, ia takut akan hati yang telah ia pakai untuk mencintai seseorang yang tidak jelas. Jari-jariku hanya mampu terdiam didepan layar touch handphoneku. Tak mengerti harus menari di atas huruf yang mana untuk membalas pesan teks itu. Yang ada di benakku kala itu adalah, cintailah dia, ketika kamu merasa cinta itu jelas dan nyata, orang yang kamu cintai itu tidaklah mungkin tidak jelas, ia jelas, jelas dalam tiga hal, iya, tidak dan menunggu. Dan, dalam hatiku, aku tahu jawabannya, menunggu.
Every night. Sesungguhnya, aku tidak tenggelam dalam lelah ataupun menyerah dengan waktu. Hanya saja, aku tidak lagi mencintaimu, padahal, aku tidak mencoba untuk berhenti atau melupakan. Aku hanya diam dan masih menunggu. Tidak merasa lelah karena aku tidak berkejaran dengan waktu, tidak merasa kalah dengan waktu karena aku berjalan bersamanya. Aku hanya mencoba untuk tidak peduli dengan pertanyaan apakah kamu akan tetap menunggu untuk terus mencintaiku atau tidak.
Tonight. Memandang fotomu sejenak, yang tertawa berbahagia dan merangkul kelompok temanmu.  Lalu, terus-terusan aku menulis tentangmu tanpa lelah. Aku baru sadar, walau aku mencoba utnuk tidak peduli, walau terkadang aku merasa cinta ini hanyalah sebatas aku tahu kamu selalu meraih tanganku di antara kerumunan ramai, aku baru tahu, ketika kudapati kamu menuliskan yang lain selain aku, aku hanya mampu bertanya dalam hening yang begitu menyakitkan; “Can you feel me when I think ‘bout you?” . Tak ada jawaban. Yang ada hanyalah kegalauan diriku utnuk memutuskan mana yang benar; lagu itu, atau jawaban kamu?

Tuesday, 10 April 2012

Still...(6)

Its late, but, I never forget.
Inilah aku, berdiri di bawah hujan, dengan earphone yang melantunkan lagu yang kamu beri dan menunggumu ‘tuk menjemputku. Jika kamu tak pernah datang, ada air hujan Bumi yang menyeka air mataku, namun, jika kamu datang, kamulah yang menyekaku dengan tanganmu. Dan, sesungguhnya, aku mengharapkannya, bukan aku menginginkannya, tapi, aku membutuhkannya. Cukup kamu datang dan berdiri, cukup di sampingku, segalanya pun akan baik-baik saja.
Its late, but, I will never forget.
    Inilah aku, yang memegang sekotak kado dan berdiri di balik tembok tak jauh darimu. Kamu dekat dengan jangkauanku, tapi, perkara jarak menjadi sebuah yang dipertanyakan dalam mencinta. Dan, sekotak kado di tanganku yang tak pernah berpindah ke tanganmu itulah yang menjadi bukti nyata seberapa jauh jarak di antara kita walau aku mampu menyentuhmu sekalipun.
Its maybe late, but, I never ever forget.
    Inilah aku, yang terduduk di malam yang telah retak, seretak apa yang kugunakan untuk merasakanmu. Aku yang sibuk mencari sisa-sisa alasan yang kuat agar mampu menuliskan sebuah surat dan menyelipkannya pada tasmu, sebuah surat yang begitu menyakitkan di akhir kelulusanmu, di sebuah hari dimana aku harus menerapkan prinsip dari sepotong cinta; to let it go, yaitu hari pelepasanmu dari sekolah.
    Surat dengan secarik kertas dimana di tengahnya bertuliskan;
Its late, but, I never forget...to feel you...

Thanks to Alaya, for the precious inspiration .

Still...(5)

Di sebuah malam yang menurunkan cahaya hitamnya yang berhasil menyeruak masuk melalui celah-celah terbuka di ruangan tempat kududuk dengan radio yang tengah memainkan lagu. Lantunan lagu tersebut bericara mengenai kita;
“Untuk apa aku menunggu jika kamu tak cinta lagi.”
Lalu, aku terhentak dan sadar. Aku tengah duduk ditemani gelap tanpa suatu alasan…ternyata…aku masih sedang menunggu. Menunggu sambil mengetikkan cerita tentang apa yang bernama kamu. Di satu malam yang tak pernah lagi kutunggu kehadiran rembulannya, karena aku tahu, malam sudah kamu retakkan dan celah retakan itu telah menghisap habis potongan rembulan yang tersisa bagiku ‘tuk mengenangmu. Lagipula, aku pun tak lagi begitu mengharapkannya, karena rembulan tanpa bayangmu adalah kabut. Seperti kamu tanpa adanya cinta, ‘tuk apa harus kutunggu…seharusnya begitu. Tapi, sayangnya, hati yang tengah mengandung cerita ini tak pernah mau retak walau kamu sudah pernah mencobanya.
Karena itulah aku masih menunggu. Karena pernah kudapati diriku tersenyum tanpa alasan, duduk termenung menikmati lintasan bayangan dan meniti jalan dalam mimpi untuk menemukan satu jalan yang sama. Semuanya karena aku masih…masih kepadamu, untuk segala hal.
Still feelin’ you. Still missin’ you. I wonder, I ever cross your mind, but, for me, it’s a thousand times. Your good nite surprise message realize me that I also still waitin’ for your message text to vibrate my phone.

Saturday, 10 March 2012

Still…(4)


Kamu berdiri di depanku, mataku yang berkaca-kaca tertangkap oleh matamu. Kamu menanyakan mengapa aku akan menangis. “Karena aku tahu, kamu akan mengatakan selamat tinggal.” jawabku dalam hati yang baru saja kamu kembalikan.
“I don’t want to close my eyes, I don’t want to fall asleep, cause I miss you, baby, and I don’t want to miss a thing…”
Ini masih tentang kamu, tentang kamu semenjak terakhir kali kita bertemu lalu mendendangkan lagu biru, lalu kamu berbalik, aku ingin sekali menyentuhmu dan berkata tunggu…
Di senja lembab ini aku terbangun dengan kekuatan yang masih tersisa seperti sisa-sisa bulir air yang baru saja dimuntahkan Bumi. Aku menemukan kamu melintas di kepalaku. Aku ingin sekali menangkapmu, tapi aku tahu, sekarang, kamu hanyalah semu. Aku tersenyum sambil memandangi layar telepon genggam yang menertawaiku. Dulu, kamulah yang membuatnya bergetar menyambut setiap waktu sibukku.
Kamulah yang membuatku menatap lurus ke depan ketika aku terus menunduk melihat jalan di bawah yang penuh dengan kekosongan. Kamulah yang membentukku menjadi seseorang yang mengerti apa itu warna merah jambu lebih dalam. Kamu yang memperkenalkanku apa itu kehadiran ketika aku merasakan tak seorang pun ada. Kamu…yang membuatku memiliki tangkapan mata yang berbeda terhadap diriku sendiri. Dan, semenjak segalanya itu bergulir, aku menyadari dua hal di ujung cerita bisu ini, yaitu aku mencintaimu karena aku membutuhkanmu dan kamu adalah…segalanya di antara apa yang orang sebut segala…
Lalu, di satu hari yang dipersembahkan manusia sebagai hari cokelat, kamu menarik lenganku…dan menghancurkan segalanya. Aku berpaling menepis cengkeramanmu dan berlari keluar kelas dan tenggelam dalam lumpur air mata menyadari bahwa sekotak cokelat di tasmu atau mungkin di hatimu bukanlah untukku…melainkan untuk perempuan yang berdiri jauh dari kita yang bahkan sesungguhnya tidak melihat kamu. Akulah di sini, melihatmu seperti dulu kamu melihatku…dan aku masih menunggu dalam lelah…