Monday, 28 May 2012

Still...(8)


Like what my heart ever shouted in every night ago; I just tried to say good bye. I also tried to live without you, but, I found that I can’t.  I pretend to play cool, but, everyone know, that I’m fallin’ into you. 

Aku ingin kamu tahu satu hal tentang cinta. Cinta itu bukan seperti apa yang ada di pikiranmu. Cinta itu bukan sentuhan. Cinta itu bukan kegalauan. Cinta itu bukanlah sepotong hati. Cinta itu ialah ketika kamu masih bisa mendengar di antara kebisuan. Cinta itu ketika kamu masih bisa melihat di antara kebutaan. Cinta itu ketika kamu masih bisa menyentuh di antara kejauhan jarak. Cinta itu ialah ketika kamu melihat rembulan dan mengatakan rembulan itu begitu cantik memesona lalu saat itu, kamu menyadari, bukan rembulan itu yang cantik, tapi karena kamu melihat bayangan cinta di sana.  Dan, satu lagi, cinta itu…kamu.
Di suatu sore, saat senja mencoba mengusir pergi matahari siang, aku duduk di pinggir sebuah lapangan basket. Saat itu, kosong. Lapangan hanya disirami dan dimainkan hingga mengering oleh pertarungan sengit senja dan terik siang. Lalu, sekelompok mahasiswa sekitar empat orang, berlari mengisi lapangan itu, dua orang lainnya sibuk dengan bola futsal mereka, dan dua lainnya mendribel bola basket, aku tertarik mengamati seorang mahasiswa bertubuh sedang berkaus hijau tua, ia memainkan bola basket dengan baik, membuat bola itu mengelilinginya, lay up shoot berkali-kali dan banyak hal. Lalu, semakin lama, hingga setengah jam, aku merasakan ia menjadi objek seluit dari senja yang akhrinya memenangkan pertarungan. Ingin sekali aku memotretnya, namun, kurungkan itu. Aku biarkan itu menjadi potret tak berbingkai.
Lalu, saat itu, kamu melintas di benakku, aku ingat ketika kamu berkata kamu mencintai basket, aku pun ingat, aku tak pernah melihatmu bermain dengan bola itu, terakhir, aku hanya melihatmu menentengnya di lorong kelas. Saat itu, perhatianku buyar terhadap mahasiswa basket itu, seorang sahabtaku menepuk bahuku dan mengajakku pulang. Ragaku mungkin pulang, tapi, pikiranku yang merekam mahasiswa itu tak pernah kembali pulang, ia terus di sana, dan, benakku yang memotret sekilas bayanganmu pun tak pernah kembali pulang seperti semula, potert bayangmu, walau samar, masih ada. Walau terkadang, tak kurasakan lagi getaran tiap menyebut namamu, tak kudapati lagi diriku tersenyum kecil tanpa sebab karenamu, dan yang terpenting, tak lagi ada cinta yang penuh di hati ini untukmu. Karena, aku akhirnya lelah.
Like what my close friend always said to me that; Nothing hurts more than waiting…

0 Comments:

Post a comment