Sunday, 15 July 2012

Still...(12)


I never think ‘bout you again, because, i always feel you now
Aku jadi teringat. Di suatu pagi aku terbangun dengan mata yang begitu berat, aku berjalan keluar kamar terhuyung menuju ruang tamu dan duduk. Mataku masih setengah terpejam ketika sebuah earphone tergeletak di meja begitu menggoda untuk mendengar lagu-lagu yang melewati kabel itu. Aku meraihnya dan memasangnya pada handphone yang setiap waktu berada digenggamanku. Lagu-lagu pun berputar. Terus berputar sampai kudengar lagumu menari-nari di telingaku. Dan segalanya bukan lagi gelap hasil pejaman mata. Aku tersentak. Pagi buta itu, aku dibutakan olehmu, lagi.
It was late in September, and I’ve seen you before. You were always the cold one, but I was never that sure. You were all bye yourself…
Inilah kamu. Kamu adalah kamu dalam lagu itu. Dimana segalanya bersamamu hanya berupa kenangan biru sejak September….Kita berdua berakhir dalam lukisan semu, lagu cinta kelabu dan kata-kata kaku.
Kebisuan bukan lagi meminta untuk saling megerti, melainkan meminta untuk saling menjauhi.
I’m just a girl who ask him to love her…
Selalu ada getaran dan sedikit rasa antusias yang membuncah ketika namamu tersebut, ketika namamu kubaca dan ketika kamu memanggilku dalam kekakuan ruang percakapan kecil di layar monitor. Di suatu malam dimana kekosongan yang mengisi jiwa karena adanya rindu yang tertinggal. Lalu, kamu datang, ya, sebah sapaan kecil yang menyalakan. Namun, lewat pertanyaan kecil setelahnya yang juga menyesaakkan, meredupkan, menggelapkan, menghancurkan.
You ever thought just maybe…you belong with me?
Ada yang sakit. Ketika kamu bertanya mengenai seseorang lain padahal ada seseorang di depanmu yang siap terluka untukmu. Aku rapuh. Lalu, aku retak. Ketika kamu bercerita dan kudapat, bahwa kamu memakai cara yang sama ketika kamu berkata kamu mencintaiku walau dalam bisikan angin yang hening yang terbungkus begitu erat dalam berkas cahaya rembulan di kala malam saat kita melihat langit senja gelap yang sama walau dengan jarak yang jauh dan jendela yang berbeda. Kusentuh pipiku, tak ada air mata yang jatuh untukmu. Kering. Mungkin, sudah habis bersama lagu-lagu itu. Mungkin, seharusnya cerita kita pun habis bersamanya. Karena, tak ada lagi sisa yang kutemukan. Mungkin, sudah lama, rasa itu kauhilangkan.

0 Comments:

Post a comment