Saturday, 22 May 2021

Dunia dengan Segala Kehilangan di Dalamnya

Kemarin, aku bekerja sampai cukup malam di kota tetangga. Mobil berbasis pemesanan daring tidak kunjung datang dan membatalkan rencana perjalanan karena alasan akses macet. Akhirnya kuputuskan memilih motor agar mudah menyalip dan menembus padat kendaraan yang berjalan tersendat. Pilihan yang kemudian mengundang segala ingatan tentangmu. 

Sumber: Pinterest

Nyaris seluruh kenangan kita dimulai dari atas motor. Punggungmu yang dibalut jaket biru dongker kusam dari jok belakang adalah pemandangan rutin tiap pagi dan sore, sesekali malam. Kamu dan motormu selalu siap sedia mengantarku ke mana saja, menjemputku dari mana saja seperti pintu ajaib Doraemon.

Saat aku mendapat izin pertama kali dari ibu untuk menginap di rumah teman pada malam tahun baru. Besok paginya, kamu sudah melajukan motor untuk membawaku pulang. Ketika aku bersikeras ingin aktif di salah satu komunitas literasi pinggir kota, kamu mengajakku berkeliling dengan motormu untuk mencari alamat tempat komunitasnya bergiat. Pernah juga, aku memintamu datang karena waktu bekerjaku sudah usai tapi ternyata masih ada beberapa berkas yang perlu diselesaikan. Kamu tiba tepat waktu dan menunggu di seberang gedung sembari duduk di atas motormu.

Kamu selalu berhasil hadir di momen sederhana tapi penting. Setelahnya, percakapan kita sepanjang perjalanan menjelma diari tak kasat mata. Kita mengomentari orang-orang, memikirkan nanti malam makan apa, mengutuk kesialan-kesialan, hingga memilih film untuk ditonton pada akhir pekan dengan tiket setengah harga. Semua kita lakukan di atas motor karena hanya di atas kendaraan itulah, kita berdua tidak sibuk dengan ponsel masing-masing – aku tidak gila kerja dan kau tidak kecanduan media sosial.

Merah berpendar dari lampu lalu lintas sehingga motor asing yang kutumpangi memilih berhenti. Aku mengambil napas dalam dan mengunci sebentar laci kenangan tentangmu. Ingatan akanmu sudah terlalu basah hingga membuat mataku lembap.

Kamu pergi dan tidak pernah sehari pun seisi semesta absen untuk mengingatkanku padamu. Kamu sudah tiada dan aku tidak bisa apa-apa kecuali memeliharamu dalam kepala dan merawatmu sebagai kenangan.

Motor kembali melaju untuk menuntaskan perjalanan menuju rumah. Malam itu, aku melihat apartemen yang gedungnya begitu menjulang tinggi seperti ingin menusuk langit. Aku membayangkan bisa lompat dari motor dan memanjati balkon demi balkonnya untuk bertemu denganmu di atas sana. 

Namun, nyaring klakson menyadarkanku jika ini bukan dongeng ‘Jack dan Pohon Kacang’, melainkan dunia dengan segala kehilangan di dalamnya.

 - Tangerang, 15.41 pm, dua hari menuju ulang tahun papa

0 Comments:

Post a Comment