Monday, 26 November 2012

Fall...(12)



How long till we call this love?
Aku takut tulisan ini tak akan pernah habis bercerita tentangmu. Aku takut, jika angka 15 terlewat dan tulisan tentangmu belum juga berhenti. Aku takut, itu berarti aku benar-benar mencintaimu.
Please, don’t stand so close to me, I have a trouble breathing. I’m afraid of what you’ll see.
Ini akhir minggu, dua hari aku tak bertemu denganmu. Terakhir kita bertemu, di hari Jumat, di sebuah bangku yang disusun seolah menjadi meja bundar dalam sebuah bahasan penting. Perhatianku terbagi, antara menentukan kemajuan tim-ku dan kamu. Logikaku bekerja keras agar tetap focus, dan hatiku tertekan begitu dalam karena harus berusaha menyembunyikanmu.
I will take that hurf of fall, if that fall is falling into you.
Aku gelisah, waktu semakin lama semakin merangkak naik dan berbisik padaku, kamu akan segera keluar dari diskusi alot ini, dan bukankah benar? Kamu mendorong jauh bangkumu, berjanji akan kembali. Aku tahu, tidak. Bisakah kamu cukup hadir di diskusi ini bukan karena jadwal yang mengharuskanmu, cukup karena aku ada? Harapan dan binarku seketika meluap pergi bersama kamu yang membuka pintu dan keluar.
I have waited you for a thousand years, but, I’ll love you for a thousand more.
Sesungguhnya, ini tulisan khusus untuk bercerita tentang tatapan manik matamu. Yang tak hanya teduh, yang memiliki binar menenangkan dan memikat. Tapi, aku tak tahu, tulisan kali ini justru bercerita tentang kamu yang lagi-lagi membuatku tersiksa. Terlebih itu, saat aku menulis ini, aku tahu kamu tengah tersenyum dan tertawa bersama mereka, kelompok mereka yang di dalamnya ada dia, satu-satunya orang yang mungkin menjadi alasan bagimu tidak menuliskan puisi untukku.

0 Comments:

Post a comment