Wednesday, 5 December 2012

Fall…(14) : Dialog Gerimis



“Cause, I love you, wether its wrong or right.” –Bedingfield, Daniel-
Aku duduk di ruang tengah dengan lantunan lagu dari radio malam yang masih menyala. Kulempar pandangan ke luar kaca jendela yang tak tertutupi gorden, ada gerimis di luar sana. Aku menutup buku bacaanku dengan sekali katupan dan beranjak ke luar sana. Aku akan berdialog dengan gerimis, sekali lagi tentangmu. Sebelum aku mengakhiri tulisan tentangmu di tulisan Last Fall. Selalu tentangmu, bukan tentang kita, karena ketahulah, kebersamaan dan cinta itu bukan milik kita berdua.
“Can we talk forever and have a thousand cup of tea?” –Chance, Greyson-
Pada gerimis, aku bercerita, aku ingin kamu tahu, sesugguhnya, aku sudah menyukai teh jauh sebelum aku mendapati diriku mencintaimu dan mengetahui kamu adalah pecinta teh. Aku menghabiskan tiga cangkir teh dalam sehari, teh hijau pahit hingga teh manis. Lalu, aku pun bertanya, apakah kamu teringat padaku saat hujan itu datang menyapa kaca jendela kamarmu seperti halnya aku mengingatmu setiap kali aku menemukan sceangkir teh hangat terletak di meja komputerku? Suara gerimis dengan rintik yang jatuh perlahan pada wajah Bumi menjawabnya dengan bisu.
“I don’t want to run away, but I can’t take it, I don’t understand.”
Sepotong kalimat dalam lagu If you’re not the one benar-benar meneriakkan apa yang selama ini menjadi dilemma. Sesungguhnya, aku tengah marah ketika menuliskan ini, mungkin pada diriku juga padamu. Pada diriku, seperti saat berdiri berhadapan denganmu, mendapatkan kedua manik mata yang aku tak mengerti mengapa begitu teduh itu, aku tahu aku tak bisa pergi darinya tapi aku juga tahu, aku tak mungkin bisa memilikinya. Padamu, seperti saat aku tahu kamu menjauhiku, aku ingin sekali berbisik padamu pelan, jangan menjauh, jika kamu ingin ada jarak yang jauh di antara kita, aku bisa menciptakannya, aku saja yang menciptakan jarak jauh itu, aku saja yang menjauh, jangan kamu, karena melihatmu menjauh adalah hal yang paling  menyiksa. Ini mengoyak.
“If I don’t need you, then why am I crying on my bed?”
Mungkin itu pertanyaan yang tepat. Ini entah malam ke berapa kuucapkan, aku tak membutuhkanmu, tapi berkali-kali aku selalu menemukan alasan untuk kembali membisikkan kata sederhana; aku mencintaimu. 

0 Comments:

Post a comment