Sunday, 23 December 2012

Fall...(15) : The Story Of Us



I used to think one day we’d tell the story of us. How we met and the sparks flew instantly…  
Suatu waktu, aku menemukan lagu yang melantunkan kisah kita. Cerita tentang kita. Tentang bagaimana aku berpikir untuk menuliskan rasa yang pernah ada, yang kemudian harus lenyap sebelum sempat aku mengatakan rasa itu cinta. Maka, episode Fall ini tercipta. ‘Tuk kubiarkan ia bercerita tentang kita.
I used to know my spot was next to you, now I’m searching the room for an empty seat…
Maka, kisah ini dimulai. Saat aku berjalan memasuki ruang kelas, aku mencari bangku kosong. Mungkin banyak bangku kosong yang menungguku untuk duduk, namun, aku tidak mencari bangku kosong semacam itu. Yang kucari adalah bangku kosong di sampingmu.
So many things that I wish you knew, so many walls up, I can’t break through…
Lalu, kita duduk di sebuah pertemuan penting. Kita duduk berhadapan. Dengan mudah aku bisa menikmati senyum bisu dan mata teduhmu, tapi, jarak singkat di antara kita seolah membentuk tembok besar yang sulit untuk kurangkak naik dan hancurkan karena banyak hal yang aku ingin kamu tahu, tentang aku yang bergetar ketika membisikkan namamu, tentang aku yang berpacu ketika menemukanmu, tentang banyak rasa yang bermain ketika melihatmu…namun kamu tak pernah tahu.
Now I’m standing alone in a crowded room and we’re not speaking…and I’m dying to know, is it killing you? Like it’s killing me.
Aku berdiri sendiri di sebuah ruang kelas ramai, dimana kamu ada di dalamnya dan hanya mencipta bisu untuk melawan keramaian, sedangkan aku terpaku, tersiksa lalu terbunuh oleh satu pertanyaan, mengapa kita tidak saling bertukar kata? Aku tidak pernah melihat diam yang sesempurna ini. I’ve never heard silence quite this loud.
See me nervously pulling at my clothes and trying to look busy, and you’re doing your best to avoid me…
Kamu pernah melihatku sibuk? Atau aku terlihat selalu sibuk di matamu? Karena aku tidak bisa hanya diam menemukanmu satu ruangan denganku dan kamu dengan sempurna menjadi patung manekin ketika sudut matamu mendapatiku.
I’m scared to see the ending. Why are we pretending this is nothing? I’d tell you I miss you, but, I don’t know how…
Ini cerita tentang kita dan aku takut menemui akhir cerita ini, yang akan menyapaku dan berkata bahwa kebersamaan bukan milik kita. Ingin sekali aku menyentakmu, mengapa kamu bisa berlaku seolah-olah semuanya tak ada apa-apa sedangkan kamu tahu aku tersiksa memikirkan cara bagaimana untuk mengatakan bahwa aku merindukan mata teduhmu setiap malam.
This is looking like a contest of who can act like they careless. The battle’s in your hands now, but I would lay my armor down if you’d say you’d rather love than fight.
Kita benar-benar seperti tengah berlomba siapakah yang mampu menahan rasa ini lebih lama. Tahukah kamu, menahannya hanya membuatku tertekan hingga merasa sesak? Pada akhirnya, pilihan untuk memilih ada padamu karena kapanpun aku akan lebih memilih cinta dibanding perang konyol ini. Namun, kamu memenangkan kontes. Tetap mempertahankan rasa bisu ini. Menahannya hingga aku hanya bisa membisikkan kata cinta saat jarak membuatmu tak mendengarnya.
And, the story of us looks a lot like tragedy now. The end.

Sebuah lagu milik Taylor Swift, The Story Of Us, yang menceritakan juga tentang kisah kita…

0 Comments:

Post a comment