Monday, 3 March 2014

Blessed

Aku mendapatkan sepotong kisah berbahasa Inggris ini tadi pagi. Dari sobekkan kertas di lembar soal ujianku. Membacanya sekilas, membuatku ingin menitinya untuk kedua kalinya. Lalu, meresapinya pelan-pelan. Dan, aku ingin kita tahu akan kisah begitu singkat, yang bahkan mungkin saja nyata terjadi tanpa kita tahu.

“Aku tengah menunggu rambu lalu lintas agar menyala hijau bagi pejalan kaki. Beberapa menit menunggu sambil menikmati lalu lalang orang di sekitar yang tenggelam dengan kesibukkannya. Lampu hijau bagi pejalan kaki pun menyala. Aku hendak menyeberang jalan, namun kuurungkan niatku ketika melihat salah seorang bapak tua yang berdiri tak jauh dariku, justru berdiam di antara orang-orang yang berebut menyeberang jalan. Mengikuti rasa penasaranku, aku menghampirinya. Lalu, semua pertanyaan dan heranku runtuh seketika. Bapak tua itu menggenggam sebuah tongkat yang terarah di depannya. Beliau mengenakan kaca mata hitam. Saat itulah, aku tahu, Bapak tua tersebut buta. Pandanganku terarah pada leher bagian belakangnya yang tergantung sebuah papan berukuran kecil yang bertuliskan; aku tuli dan buta, tolong bantu aku menyeberang jalan, tepuklah pundakku. Dengan rasa yang tak mampu kurangkai saat itu, aku menepuk pundak beliau, membantunya menyeberang jalan hingga di sebuah kelokkan perumahan. Beliau mengatakan terima kasih, dengan tongkatnya, ia mulai berjalan pulang sendirian. Menebus kabut malam yang dingin. Gelap yang menenggelamkan. Hanya temaram remang lampu kota yang menakutkan. Dengan sebuah tongkat kayu dan papan kalung di lehernya. Mungkin saja, Bapak Tua itu sudah berdiri di tepi jalan tadi sekitar lebih dari sepuluh menit, menunggu belas kasih dari orang asing yang masih peduli untuk membantunya. Aku tak pernah membayangkan bagaimana Bapak Tua tersebut menempuh jalan menuju rumah. Mungkin saja beliau akan terdiam di tepi jalan lainnya dan menunggu seperti tadi lagi. Terbersit di benakku untuk mengantarnya benar-benar sampai rumah, bukankah malam belum selarut itu? Namun, bayang Bapak Tua itu sudah hilang ditelan bayang pekat milik tubuh malam. Aku pulang membawa sebuncah kecamuk yang tak henti, betapa Tuhan tengah membisikkanku tentang bersyukur. Syukur bahkan untuk setiap inci hari yang kujalani. Kulewati, dengan mata masih melihat dunia. Kutapaki, dengan telinga masih mendengar suara sekitar.”
 – sebuah kisah singkat yang kuceritakan dan kuterjemahkan ulang (dengan sejumlah pengeditan dan peambahan). Sejenak setelah membacanya, aku memejamkan mata, merasakan bahkan kesederhanaan seperti kita masih mampu menarik nafas detik ini saja, adalah kesempatan dari Tuhan yang begitu indah.
This entry was posted in

0 Comments:

Post a comment