Saturday, 10 September 2011

Cermin, Mirror!


Kulihat diriku di depan cermin. Berkaca mata minus tinggi. Tebal. Aku mencoba tersenyum dalam bisu. Senyuman yang begitu palsu. Bayanganku di cermin hingga tertawa melihatnya. Senyum palsu terus yang kuperlihatkan padanya. Padahal, air mata tengah mengalir deras di sela-sela senyuman itu. Baru kemarin malam, aku mendengar sepercik siraman kehidupan dimana, kita tidak boleh fokus pada apa yang tidak kita miliki, karena kita akan terus memandang rendah diri dan tidak maju, karena hanya bisa memiliki rasa iri. Aku diam tertunduk ketika kata-kata itu terngiang kembali dalam gendang telingaku. Tapi, aku harus bagaimana? Aku memang tidak bersyukur. Dalam hati aku menjerit, pantaslah jika aku dihukum. Aku membenamkan wajahku. Mengalihkan diri dari cermin itu. Aku masih ingat akan pesan singkat yang kuterima. Aku masih ingat bagaimana pesan singkat yang jika dibaca tidak berarti apa-apa. Namun, jika ditelusuri, kalimat sederhana itu menjelma menjadi sebilah pisau tajam yang mampu merobek-robek organ-organ tubuhku yang membuatku bernafas kini. Bagaimana rasanya jika diri sendiri mencoba membandingkan diri dengan orang lain? Ketika itu dilakukan terpaksa ataupun suka-suka. Bagaimana jika banyak sekali orang di sekitarmu yang datang menghampirimu, tersenyum, menjabat tanganmu, dan bertegur sapa denganmu, hanya untuk mendekati seseorang yang menjadi teman dekatmu? Ketika itu semua runtuh karena dibungkusi kepalsuan. Reruntuhan itu mengenai kepalaku dan rasanya begitu sakit. Hingga aku perlu tangisan. Ingin sesekali ada seseorang yang benar-benar melihatku ketika ada seseorang lebih dari segalanya disampingku. Tapi, realitanya, itu semua tidak pernah ada. Semuanya hanyalah ketulusan yang dibungkusi kepalsuan. Era sekarang, ketulusan pun bisa dipalsukan. Perlu bukti? Lihatlah ke dalam cermin. Pantulan bayangan kita sesungguhnya ada di dalam sana. Hancurkanlah ia, agar kepalsuan itu tidak menjadi momok yang menghancurkan…

0 Comments:

Post a comment