Saturday, 1 March 2014

Tentang Kenangan

“...sepeninggal Morrie, aku membuka-buka sejumlah kotak berisi barang-barang kenangan masa silam. Aku menemukan kembali sebuah makalah akhir yang telah kutulis untuk salah satu mata kuliahnya. Tak terasa dua puluh tahun telah berlalu....” – Mitch Albom, Tuesday with Morrie
Aku menatap lembayung senja yang bergerak bisu menuju malam. Perlahan, aku menangkap kilas memori lalu. Ah, kenangan selalu terasa senyap untuk dicecap kalbu. Dan, membuat jiwa terseok-seok olehnya. Ini sore yang pucat, sebab samar oleh bayang masa silam dan terka-terka akan waktu yang akan datang. Di pangkuanku, tergeletak sebuah buku milik Mitch Albom yang tengah merapikan kenangannya akan seseorang. Lalu, aku tenggelam akan banyak hal; tentang ucapan pisah dan serpih-serpih peristiwa yang mungkin terjadi. Lalu, ia mengiris hati pelan-pelan, mengatakan jika tak ada yang mampu kulakukan pada akhirnya kecuali mengucapkan selamat tinggal.

“Vero, akankah suatu saat nanti, belasan tahun dari sekarang, kamu akan kembali ke ruang kerja saya? Walau mungkin saja, meja kantor saya yang sudah diisi oleh orang lain. Lalu, meniti satu persatu kenang yang ranum disana lewat berkas-berkas soal milikmu yang saya nilai?”
Aku tengah berusaha menguraikan sejumlah ketakutan pada sesuatu hal yang akan hilang pada akhirnya. Sampai aku menerima sepotong pesan singkat di ponselku.  Dan, sama seperti jeratan kenangan di senja dan malam-malam sebelumnya, aku kembali berkubang dengan air mata. Membiarkan diri menjelajah masa depan seolah aku memiliki kunci untuk membukanya. Mengizinkan diri menelanjangi masa lalu seperti aku bisa mengembalikannya kembali.  
 “Vero, percayalah, kita mencintaimu. Tidak akan ada yang pergi, maupun beranjak. Kita tidak akan ke mana-mana.”
Lalu, aku menerima pesan-pesan lain yang serupa. Dari mereka yang layaknya lembayung senja...
Terkadang, aku ingin memeluk mereka satu persatu, peluk yang erat seolah aku begitu takut kehilangan mereka. Peluk yang tak akan kulepas. Sebab aku takut jika melepas peluk itu, maka semuanya melebur sebagai kenangan di ruang memori. Dan, kenangan tak mampu kupeluk. Kenangan hanya menjelma menjadi rindu yang mencekik.
Seperti apa yang pernah dikatakan, kenangan layaknya lembayung senja di sore hari. Mungkin akan kikis bersama waktu, akan berlalu dengan cepat, tapi ia nyata. Masih meninggalkan terang dan kehangatan bagi kita.
This entry was posted in

0 Comments:

Post a comment