Thursday, 18 September 2014

The Wings


"Jauh sekali. Kenapa tidak coba menyewa kost saja di sini? Jarak dan waktu tempuhmu tidak dekat loh,” ujar seorang kawan yang ditemuinya di ambang pintu bilik toilet. Ia menjawabnya dengan gelengan pelan, lantas tersenyum.
“Hanya tiga kali seminggu, selagi masih bisa pulang ke rumah, aku lebih memilih pulang,” jawabnya santai. Teringat olehnya kedua orang tuanya yang sudah renta, tapi masih membanting tulang dan memeras tenaga untuknya berkuliah.
“Kalau aku jadi kamu, aku sudah pilih housing di sini saja deh. Ambil jarak dengan orang tua.” Kawannya, seorang perempuan berambut panjang itu mengibaskan rambutnya, mencoba merapikan anak-anak rambutnya yang dimainkan angin. Ia masih mempertahankan senyumnya, tak tahu harus menjawab apa. Karena yang ada di benaknya kini adalah sepasang mata sayu kedua orang tuanya yang masih berbinar walau dirundung letih dan lelah tak berkesudahan, seluruhnya untuk pemenuhan hari-hari kuliahnya.
“Aku tidak pernah memilih untuk kuliah. Tapi tetap dipaksa. Kalau bisa berontak, aku mau bikin ulah saja. Siapa suruh orang tua nyuruh-nyuruh aku kuliah,” timpal kawannya sembari menghentakkan kaki dan melangkah pergi meninggalkannya. Ia diam, dipandanginya pantulan wajahnya di permukaan kaca cermin toilet. Pikirannya mengajaknya menerawang pada waktu-waktu dulu, dan mengembara pada tebak-tebakkan waktu-waktu esok.
Ini cerita tentangnya. Tentang seorang perempuan yang lahir di sebuah kota kecil, yang hidup sederhana – dengan ritme hidup yang lebih banyak jatuh dibandingkan menanjak. Tapi ia percaya satu hal; jatuh berkali-kali tak apa, asalkan ia mampu bangkit. Dibanding ia harus terus menanjak dan tergelincir.
Ia hidup dengan sebuah tas punggung kelabu yang gembel. Berjalan sedikit membungkuk, kepala tertunduk dan langkah yang terseok-seok. Ia pikir, ia malu dengan dirinya sendiri; ia tak terlalu menarik untuk diperhatikan lawan jenis, ia juga tak begitu keren karena tidak mengendarai mobil (ia menaiki kereta dan sesekali motor usang), ia kerap kali kesulitan mengikuti kelas-kelas yang mengharuskannya membeli barang-barang ‘wah’, dan ia dipastikan selalu terlambat dalam pelunasan administrasi. Tapi, ada jua banyak hal yang tak ia pikir. Jika ia punya bongkah impian, sekepal mimpi dan segenggam harapan. Hal-hal yang tak dijual di toko dan dibeli uang. Ia punya ketiganya di pundak kanannya, dan di pundak kirinya, ada semangkuk air mata dan sesendok cinta yang selalu ia bawa kemana-mana. Itu adalah titipan kasih dan doa dari kedua orang tuanya; untuknya.
“Aku melangkah dengan tiap bait doa orang tuaku, menapaki tebing-tebing terjal untuk menyentuh awan-awan mimpiku, dan menjadi diriku sendiri. Karenanya, aku percaya. Aku bisa terbang, dan Tuhan tengah memeluk mimpi-mimpiku dalam tiap harapan yang kubisikkan di tepi malam tiap harinya.”
Lalu, terdengar isak kecil setelahnya. Tak ada yang tahu, bahkan ia sendiri pun, jikalau ia kini telah bersayap. Suatu hari, kamu akan melihatnya terbang.
This entry was posted in

0 Comments:

Post a comment