Saturday, 17 January 2015

Perihal Gelap dan Lentera yang Menyala Di belakang Rumah


Jarang sekali aku menghabiskan waktu di tanah belakang rumahku. Padahal, senja yang jatuh di sana tiap sorenya, selalu tampak indah. Ada pepohonan lebat yang tumbuh di sana, tiap jingga menggurat, burung-burung kecil hinggap di dahan pohon, terbang ke sana-sini. Kabel-kabel listrik dan antena yang terpancang di atap-atap rumah, terlihat jelas dari belakang rumahku. Itu pemandangan sederhana yang teduh. Tapi, karena suatu hal, aku jarang mengunjungi tanah belakang rumahku.
Sekitar seminggu yang lalu, sekelompok pemuda dan Pak RT beramai-ramai menancapkan sebuah lampu temaram berpendar oranye di balik tembok yang membatasi tanah belakang rumahku dengan kompleks perumahan di belakangnya. Lampu itu mirip lentera. Cahayanya berdenyar hingga memenuhi halaman belakang rumahku, menimbulkan keremangan yang tidak aku suka.
Lewat bisik-bisik yang dimainkan angin, aku mendengar, lentera itu sengaja dipasang agar jalan kompleks perumahan itu yang tidak terlalu lebar, tidak gelap dan dimakan malam. Lentera itu ada atas usulan seorang lelaki yang kerap pergi keluar rumah pada malam hari, dan selalu merasa ada mata yang mengintainya dalam gelap yang membutakannya. Warga di sana pun setuju, pada dasarnya, orang memang selalu takut pada gelap yang terlalu hitam dan menutupi pandangan. Padahal, ada alasan lain mengapa jalan itu sebelumnya tak pernah dipasang lentera. Aku tahu, dan mungkin lelaki pengusul itu pun tahu. Maka itu, ia mengusulkan lentera – berharap ada yang pergi dari kegelapan. Aku tergelak, sesungguhnya kegelapan tak pernah pergi dari mereka yang memelihara gelap lain dari dalam dirinya. Terlebih mulut terkunci untuk melindungi gelap lain dipunyainya.
Seperti yang kubilang tadi, ada alasan lain mengapa halaman belakang rumahku pun tidak pernah dipasang lampu neon sebagai penerang. Tetap dibiarkan gelap. Sama seperti jalan itu. Menancapkan tiang lampu dan menggantungkan lentera oranye di sana sama saja menampakkan sosok pemilik sepasang mata pengintai gelap itu. Jika biasanya dalam gelap ia hanya mengekori langkahmu dan menjilati bayanganmu, ketika ia sudah terlihat, bukan tak mungkin kamu akan menjerit ketakutan, berlari cepat-cepat ke tempat yang lebih ramai dan terang – yang itu berarti ujung kompleks perumahan, tempat lalu lalang kendaraan melaju kencang, tak peduli siapa yang lewat tiba-tiba, langsung diterabas. Ketika sudah terlihat, bukan tak mungkin ia akan nampak lebih jelas, matanya berdarah dan berbau busuk, kamu pun mematung dan pingsan karenanya. Saat kamu tak sadarkan diri itu, diam-diam ia mengajak sukmamu untuk ikut menunggu di sana – di jalan remang di balik halaman belakang rumahku, yang tiap malamnya kucium bau melati dan sayup isak duka, karena pernah ditemukan mayat perempuan sebaya denganku yang membusuk di kali sempitnya. Mayat yang matanya terbelalak lebar, seakan mengatakan pada siapapun yang menemukannya; ia belum siap mati, ia masih ingin hidup dan terjaga. Sebab, ada gelap lain yang harus dipasangi lentera.
This entry was posted in

0 Comments:

Post a comment