Thursday, 18 June 2015

Senja Meluka


Petang merangkak dengan berdarah, sebelum akhirnya merahnya mengental semakin gelap menjadi malam. Mungkin itu alasan mengapa bulan kerap buram – ada halimun tipis yang naik dari anyir darah senja. Kenapa senja meluka? Itu pertanyaan bagus dari perbincangan bisu kita yang berjarak sekitar tiga hingga empat bangku panjang – dengan kamu sibuk mengernyitkan dahi di hadapan dua orang teman lelakimu, dan aku mengobrol tanpa arah bersama seorang kawan perempuan yang baru kukenal beberapa hari – tapi mata kita nyatanya lebih liar menyarangkan cerita tanpa orang tahu. Dan, aku lebih tertarik dengan sepasang lirik matamu yang tertahan dan senyummu yang ragu untuk dilemparkan padaku. Mengingat kita sama-sama dikunci keramaian yang mengurung dari sekitar kita, teman yang kita bawa untuk sekadar menyatakan kita tidak sendiri melalui hari tanpa satu sama lain, dan  bagian dari ruang pikir kita yang menciptakan timbang-timbang ego tak berkesudahan; kurasa itu yang menjadi alasan, mengapa temu mata kita yang begitu sunyi itu terasa sangat nyaring pesannya. 
Tatapanmu kembali dibungkus – sorot yang mampu membuatku melindurkan namamu dan itu cukup berbahaya. Karenanya, aku mengumpulkan kembali sebagian sadarku yang lari padamu – ini alasan aku menggila – dan memutar ulang tanya heningmu; kenapa senja meluka?
Kita berdua tahu, aku tak pernah benar-benar menjawab pertanyaan. Kamu bilang, aku menjajakan cerita dan membiarkan mereka yang membeli kisah-kisahku menemukan sendiri apa yang mereka cari. Jika begitu, aku punya cerita untuk menjawab pertanyaan sederhanamu yang menari-nari begitu tangguh di gendang telingaku. Kamu bisa siapkan kopi hangat, berbaring di tepi ranjang dan aku akan mengisahkan dongeng hingga lelap menjatuhkanmu dalam mimpi; tempat cerita-ceritaku hidup. Lalu, aku menghidupkan notasi-notasi musik Chopin – itu cara yang kamu suka untuk menemani tokoh-tokoh ceritaku bermain di panggung; dengan nada. 
“…aku menyebutnya seiris malam yang pucat. Hal awal yang terlintas di benakmu saat mendengar pucat adalah putih, buram, sakit, mengabur, dan kabut. Itu benar. Pada hari yang tak kuingat nama dan tanggalnya, wajah dan tubuh malam tampil benar-bencar pucat – terutama saat waktu merayap naik. Kicau radio yang biasa kudengar tiba-tiba sayup dan hanya seperti sepintas berisik tanpa arti. Lampu neon yang bergantung di ruang tamu meredup, seolah menyuarakan jika malam tak ingin ada cahaya yang terang benderang. Sepasang mata yang maish menyala dan menjaga, menjelma sayu. Kantuk tidak menyerang, tapi saat sudut matamu melempar pandang ke luar jendela yang sudah tak bening lagi oleh debu waktu, kamu akan menemukan malam tidak gelap; ia sedikit kelabu dan menyerupai pucat, sebab diselimuti kabut tebal. Dan, aku melihat seorang perempuan penjaja kenangan, duduk di selasar sebuah rumah, menangis dalam diam dengan mata yang meneriakkan hati yang tak lagi bisa ditambal rindu,” ceritaku.
Hening merajai kita. Kamu seperti sudah mendapat jawabannya – atau mungkin tidak. Karena aku melihat sepiring makananmu sudah usai, cengrama bersama temanmu juga telah berakhir, waktu dan timbunan kerjaan pun bersungut-sungut minta dilayani, kamu beranjak pergi. Menyisakan aku, yang mungkin saja adalah perempuan penjaja kenangan dalam cerita itu. Dan, kenangan itu adalah kamu.
This entry was posted in

0 Comments:

Post a comment