Sunday, 15 November 2015

Tidak Kutemukan Judul untuk Tulisan Ini



Bagaimana harus kumulai tulisan ini?
Jika disodorkan pilihan bagian waktu yang paling tidak kusukai, aku akan menjawab siang. Itu adalah keadaan ketika terik mengikutimu ke mana-mana, gunungan tugas berlabel angka-angka tenggat yang punya sihir membuatmu mati di tanggal tertentu, dan kamu berusaha agar keluh yang tersimpan di dada tidak melompat keluar. Belum lagi, saat kamu terpaksa harus membiarkan diri terjebak di lalu lintas jalan yang diisi oleh laju mesin-mesin yang tersendat-sendat. Membayangkannya saja, wajahmu segera lupa caranya tersenyum. Dan, aku menghadapinya hampir tiap hari – pulang dari kampus, membawa timbunan kerjaan yang berambisi mengalahkan gunung Himalaya, dan sukses membuat mulutku begitu enggan memulai percakapan. Siang itu – sekitar dua minggu lalu, karena lelah harus menunggu angkutan umum yang berhenti di pinggir jalan (baca: ngetem) hingga empat kali lebih, aku pun memesan ojek seperti biasanya. Kupikir, segalanya akan berjalan tak jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Nyatanya tidak. Aku lupa jika Tuhan tak pernah absen mengajakku berbicara tentang banyak hal, lewat cara-cara kecil yang mengejutkan. Kadang kali, kamu belajar banyak bukan dari sesuatu besar yang terlihat di depanmu begitu saja, tapi yang bermain petak umpet dengan mata.
Si pengendara ojek membawaku pada obrolan ringan, dimulai dari pertanyaan-pertanyaan singkat seperti semester berapa yang sedang kutempuh, jurusan apa yang kupilih, bahkan tentang apakah aku punya pacar atau tidak. Lalu, ia mulai bercerita tentang pengalamannya selama 8 bulan menjadi pengendara ojek.
“...bagus sekali Mbak kuliah. Saya engga kuliah, Mbak. Lulusan SMA saja. Awalnya buka usaha, tapi engga punya duit buat ngelanjutinnya, Kuliah yang baik ya, Mbak. Biar jadi orang cerdas, bukan pintar, karena yang pintar belum tentu cerdas,” ujarnya setengah berteriak, berusaha mengalahkan deru mesin. Kutambahkan kalau dunia ini tak butuh orang jenius terus-menerus, melainkan orang baik. Tapi ia mendebatku, katanya baik itu relatif. Akhirnya, kami sepakat baik belum tentu benar, dan yang benar pastilah baik.
“Bapak sendiri bagaimana rasanya jadi pengendara ojek?” Diam sejenak sebelum akhirnya ia kembali menyahut.
“Lumayan baik rasanya. Saya jadi lebih mengenal jalan, tahu wilayah baru, dan yang penting, saya bisa nambah teman, kayak Mbak gini,” jawabnya sederhana. Walaupun ia tahu seusai ini pun kami tidak akan berkontak ria bagai teman lama, atau saling menghubungi satu sama lain, tapi ia tetap menyebut kata ‘teman’.
Setelahnya, ia kembali bercerita tentang penumpang-penumpang yang pernah digoncengnya. Aku sudah tidak terlalu mendengarnya, yang mampir di telingaku hanyalah bahwa ia berumah di Bogor dan tiap hari bolak-balik dengan motor mengantar-jemput penumpang antara Bogor-Jakarta-Tangerang. Dan ia masih bisa tertawa-tawa, tanpa mengumpat mobil yang berbelok tiba-tiba, motor yang mengerem mendadak, atau angkutan umum yang jalannya bagai liliput. Aku teringat pertanyaan itu juga pernah kuberikan pada pengendara ojek lainnya, dan aku mendapat jawaban ‘...dinikmati saja, apa yang dinikmati rasanya jadi lebih ringan’.
Aku tertegun. Mereka adalah yang berusaha memutar pandangan ke posisi positif. Selama kamu hanya fokus pada lelahnya, menghitung peluh yang mengucur dari keningmu, memandang rendah sendiri profesimu, dan berbagai respon negatif lainnya yang berusaha kamu pelihara, kamu tak akan pernah selepas itu menikmati hari-hari. Karena, ketika kamu tidak bisa mengubah keadaan, atau saat situasi itu memang harus kamu lewati, yang kamu lakukan adalah mengendalikan suasana hati. Dan aku melihat diriku sendiri, kapan terakhir kali aku tidak mengoceh tentang tanggung jawab yang semakin tidak bisa kuemban dan target yang belum jua kucapai, dan melihat itu semua sebagai kepercayaan Tuhan padaku – karena ketika hal sulit dan berat kamu terima, itu berarti Tuhan tahu kapasitas kita memang mampu untuk itu. Berkali-kali aku hanya digiring pada pikiran yang menuntut ini-itu, menangis karena kekurangan dan kelemahan, lantas lupa aku telah menerima banyak hal.
“...Mbak udah makan? Saya belum makan nih, Mbak. Ohya, saya juga baru pertama kalinya masuk ke daerah perumahan sini.” Ia masih saja mengoceh, begitu bersemangat. Saat sampai di depan rumahku, dan ia lalu menepi pada sebuah pohon rindang karena ingin rihat sebentar, kukatakan padanya ‘jangan lupa makan, kan tadi katanya belum makan siang bukan? Dan, hati-hati. Terima kasih, Pak.’. Ia terkejut – sedikit melongo, mungkin tak mengira aku akan mengingatkannya makan. Tanpa ia tahu, aku pun terkejut, tak menyangka ia akan mengingatkanku untuk melihat dunia dengan cara yang lebih positif. Sesederhana itu.
NB.
Ketika menulis ini, aku juga teringat pada suatu malam yang begitu larut, saat itu menjelang pukul setengah sebelas, dan aku tidak tahu bagaimana cara pulang. Tak ada yang menjemput, angkutan umum sudah tidak ada, ojek belum tentu ingin menarik penumpang. Aku berusaha berpikir nekad, tapi Tuhan selalu memberiku jalan dalam kata selamat. Seorang kawan menawariku tumpangan pulang, yang mana jarak rumahnya denganku bisa lebih dari 20 kilometer jauhnya. Dan ia bahkan tak tahu dan tak mengenali kawasan rumahku. Saat aku masuk ke mobilnya, yang mana ada Ayahnya yang mengemudi, kukatakan terima kasih banyak sebab begitu berbaik hati mengantarku. Jawaban Ayahnya sungguh mengejutkanku, beliau bilang, “...kalau perempuan, Bapak antar. Anak Bapak ‘kan perempuan, jadi tahu bagaimana perempuan harus dijaga dan hati-hati. Lagipula ini sudah malam”. Tangan Tuhan terulur lewat beliau dan kawanku itu. Melalui tulisan ini, aku kembali mengucapkan terima kasih.
Percayalah, aku tak tahu bagaimana harus mengakhiri dua kisah singkat dan teramat sederhana ini, selain bahwa aku menangis sejenak selesai menuliskannya dan aku sedang tidak cukup sehat (sedangkan aku bersikeras, ada cerita yang ingin segera kukabarkan). Pada kesempatan ini juga mari hening sejenak dan mengirimkan doa-doa baik ke saudara-saudara di Prancis. Dan, aku tertegun sekali lagi mengetahui bagaimana warga di Prancis saling bahu-membahu membantu korban dengan menawarkan tempat tinggal. Aku yakin, keajaiban bukan datang hanya pada mereka yang percaya, tapi juga beriman pada kebaikan. Selamat mengirim dekapan doa pada mereka yang dicinta.
This entry was posted in