Friday, 20 January 2017

Dia adalah Pemilik Patah Hati yang Kucintai Sepanjang Waktu


Malam runtuh tepat di atas kepala, dan aku masih terjaga. Menyadari pil yang baru kutegak semingguan ini tidak lagi berguna. Bulatan yang menerbitkan cahaya notifikasi ponselku berkedap-kedip merah – kupikir bukan karena kebingungan mencari cara untuk bertahan hidup, melainkan tidak tahu bagaimana meneruskan rekaman yang kunyalakan sejak dua jam lalu. Mengetahui puisi-puisi yang baru kueja semingguan ini tidak lagi berhasil. Padahal katanya, walaupun puisi tidak menyelamatkan apa-apa, di bibir sajaknya bisa kukecap senyummu berulang kali setiap redup dan berharap*. Tapi, gagal – tak jauh berbeda seperti cara bercerita lewat pesan-pesan yang dihapus sebelum sempat memencet tombol kirim. 
sumber foto: fairy tale tumblr

 Kita memang tidak bisa menyambut kesedihan yang punya baju baru dengan cara-cara dulu.

Menuju satu pagi yang kehilangan bola mata, aku menarik switer biru tua yang menolak kuganti sejak beberapa hari kemarin karena hanya itu satu-satunya benda punyamu yang lupa kamu kirim balik saat kamu bilang tak punya lagi alasan untuk tinggal di sini. Aku pergi menemani diri sendiri ke sebuah teater tua yang hampir bangkrut karena bersikeras hanya memutar filem bisu hitam putih. Ada sisa tiga sampai lima butiran popcorn yang menghitam di samping bangku, dua sedotan bengkok di tangga, dan tiga wadah minum kertas yang ketinggalan di pojokan. Kutemukan juga tiket nonton yang dicetak di kertas koran berbentuk kupon yang sudah remuk di sudut-sudut kaki bangku, sedikit bau keju busuk dan suara pendingin ruangan yang tengah bekerja keras. 

Alasan lain mengapa aku menyukai teater yang sedang batuk-batuk ini, selain karena ia menyetia untuk menyimpan apa-apa yang tertinggal, ia juga menyerupai kita kadang-kadang. 

Pincang tapi memaksa untuk melangkah, pelan-pelan, lalu lupa kalau tak ada kaki yang ke mana-mana karena sudah lama dipotong di meja lelaki berjas putih. Kita hanya pura-pura bisa jalan, menyimpan kenangan-kenangan pernah berlari jauh sampai taman-taman yang cuma ada di kepala.
Dari sana, aku bertemu seorang lelaki asing yang kujawab asal iya ketika dia mengajakku ke mana saja, kapan saja, dan jadi siapa saja. Dia melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang ganjil untuk menarik seorang perempuan masuk ke kamarnya, bagaimana kalau dia membawaku berdiri di sampingmu, saat ini juga, dan sekali lagi jadi kita. Aku tidak menjawab iya atau tidak. Karena, bahkan

aku sudah lupa cara bertanya kamu lebih suka capuccino atau tiramisu. Aku tidak ingat cara bercerita bagaimana aku bisa sampai kafe itu. Lelaki tadi melepasku di persimpangan jalan menuju rumah, katanya ia tidak bisa meniduri kesepian yang sama.

Aku pulang, melirik jam beker, masih menuju satu pagi – andai membekukan waktu semudah mengoleksi jam rusak. Lagipula, mengapa manusia membuat jam ketika kesedihan dan kebahagiaan tak pernah tepat waktu*. Dan kali ini tidak ada pil, atau buku puisi lagi. Hanya ada namamu di layar ponsel yang bergetar sekali, pesan darimu yang menanyakan switer biru tuamu. Aku tersenyum, kamu memang pemilik patah hatiku yang kucintai sepanjang waktu.


*dikutip dari ‘Puisi Tidak Menyelamatkan Apa-apa’ karya Aaan Mansyur

*dinukil dari ‘Percakapan’ karya Agus Noor

0 Comments:

Post a comment