Saturday, 30 January 2021

Percakapan

Pagi ini kau bangun seperti biasa. Boneka Santa Claus masih tiga dan berbaris rapi di pinggir ranjang. Ibu sudah sibuk di dapur merebus sup sayur katuk seperti pesannya kemarin. Gorden kamar yang belum dibuka. Ponsel di samping bantal. Dan, kau masih bernapas. Semua baik-baik saja, tapi mengapa rasanya ada yang salah?

Sumber foto: Favim


Tanpa membasuh tubuh, kau mengambil jaket panjang berukuran besar dan memutuskan ke luar rumah begitu saja. Kaubilang pada ibu mau memberi makan kucing kompleks seperti yang sudah-sudah, padahal tidak kaubawa apapun di kantong.

Kau hanya berjalan dalam diam sepanjang pagi menuju siang. Di persimpangan kompleks, kau berhenti untuk duduk di bahu jalan yang sudah dibangun dengan bata bersemen tinggi yang kokoh. Lalu, kau mulai menggugat banyak hal.

“Menurutku, konsep kematian sangat tidak adil. Kita bukan hanya tidak tahu kapan mati, tapi juga tidak pernah tahu kabar seseorang yang sudah tiada. Apa yang dilakukannnya sekarang? Bagaimana kabarnya?”

Kau tak henti-hentinya menatap langit yang kata kau lebih mampu menyimpan rahasia daripada buku harian bergembok. Atau lebih tepatnya karena kau menganggap langit adalah nisan paling tepat bagi orang-orang yang meninggal, karena bukankah katanya masuk surga?

Kau masih gelisah.

“Kau tahu apa yang paling terasa tidak benar setelah kau kehilangan seseorang? Dunia di sekelilingmu berjalan seperti tidak terjadi apa-apa, sementara dunia di kedalaman dirimu hancur berantakan. Seolah-olah semesta tidak berduka atas apa yang menimpamu.”

Kau terdiam. Lama sekali sampai kukira kau tidak ada di sampingku. Lalu tiba-tiba kau mulai menangis.

“Saat ia pergi, baru kusadari rutinitas adalah bukti konsistensi darinya. Bukan bentuk kebosanan yang kukeluhkan. Bagaimana harus kujelaskan ini? Penyesalan?”

 

“Aku lebih suka menyebutnya kerinduan,” ujarku pada akhirnya.

 

“Kupikir Tuhan punya konsep kematian yang adil. Kita tidak diberi tahu kapan kita mati untuk menghargai siapa yang masih kita miliki hari ini. Kita tidak diberi tahu bagaimana kabar ia yang sudah berpulang agar kita tidak hidup dengan terus menoleh ke belakang.”

 

“Bumi masih berputar, fajar masih terbit, senja masih terbenam, bulan masih menjadi sabit dan kemudian Kembali purnama. Semesta berjalan semestinya untuk memberi tahu jika hidup kita masih perlu berlanjut.”

Tiba-tiba kau beranjak. Tidak menghirauku, berjalan begitu saja…

menembus tubuhku. 

Saat itulah kulihat para malaikat bernyanyi tapi tidak ada satupun yang terdengar oleh telingaku.

 

0 Comments:

Post a comment