Sepotong lagu cinta yang manis bernyanyi dari radio tuapada pukul dua, hanya tiga menit lamanya2Aku habis bercinta dengan kenangan-kenangan akanmuMereka pasangan yang kasar, rasanya menyakitkan tapi aku menikmatinya3Kita berjalan menuju lift yang baru terbuka di suatu malamSaat yang mana kamu bilang ini adalah angka yang kamu sukaKeesokannya kamu menghidupi ceritadengan keganjilan-keganjilan4Hari ini ulang tahunku. Aku punya satu permintaanBerbohonglah sekali saja padaku dengan mengatakan,‘aku cinta kamu’5Mencintaimu,seperti duduk di kursi malas yang bergoyang-goyangMenyenangkan. Begitu saja, tidak ke mana-mana6Beberapa kado untukmu dari hari peringatan kelahiran Yesus tahun lalu hingga ulang tahunmu, sudah siap kukirimkanSendiriSampai kuterima alamat rumah resepsionismudi mejaku7Sebuah puisi kuberi judul ‘menunggumu’Sajaknya singkat, satu kalimat saja: ‘aku jadi pohon’8Hari-hari dengan pinang namamu,Mencipta ingatan-ingatan yang tak ingin kusambangi, tapi tetap saja kusimpanDan kukunjungi diam-diam tiap malamSebelum tidur. Kadang disertai pundak yang berguncang.9Dengan Urutan bulan keempat pada perhitungan waktu menurut Masehi, yang spesial untukmu.Setahun lalu. Apa yang kamu ingat?Selain, rasa yang kamu bilang tanyakan saja pada langit biru
Saturday, 8 October 2016
Tentang Surat-surat yang Tak Pernah Kamu Tulis
Aku
tidak akan memulai surat ini dengan sapaan klasik ‘hai, apa kabar’, sedangkan
kita berdua sudah sepakat, tak ada yang benar-benar sembuh dan sehat – dan aku kerap menebak-nebak berapa jumlah
kebohongan yang dihasilkan seseorang hanya dari menjawab pertanyaan itu.
Lagipula, aku bisa membayangkan kamu di seberang sana – menerima suratku yang
sampai di meja kerjamu setelah melewati tangan-tangan usil di kantormu, dengan
kening berkerut berpikir ‘apa lagi yang berusaha ia lakukan?’ – daripada
mengawali sepotong surat ini dengan tanya yang kita sudah tahu jawabannya
masing-masing, hingga bisa disebut basa-basi yang hanya menegaskan betapa
asingnya sapa kita satu sama lain, aku lebih memilih menyelesaikan
kebingunganmu mendapati suratku yang datangnya tiba-tiba.
![]() |
| sumber gambar: huffingtonpost |
Dan, apakah
kamu ingat, permintaanku sebelum Natal setahun lalu, yang mendesakmu menulis
surat?
Hey, mari
kuajak kamu sejenak jalan-jalan ke sana – kamu bilang, mudah jika hanya menulis
surat. Dan aku berani bertaruh, kamu tidak menulisnya sampai sekarang. Kita
kerap mengatakan mudah untuk hal-hal yang sesungguhnya tak benar-benar bisa
kita kerjakan. Kamu tahu apa yang Shakespeare punya untuk menjelaskan hal ini?
Akan kukutip untukmu di sini – jika kamu
masih membacanya hingga kalimat ini dan belum berpikir untuk meremasnya jadi
kertas bola yang akan kamu lempar pada salah satu rekan kerjamu dan membuat
lelucon tentang ini.
“Kamu
bilang menyukai hujan, tapi ketika hujan datang, kamu justru mengembangkan
payungmu. Kamu bilang menyukai matahari, tapi ketika cuaca sedang cerah, kamu
justru cepat-cepat meneduhkan diri di bawah atap genteng. Aku pun teringat
ketika kamu bilang, kamu mencintaiku.”
Sastrawan
Inggris yang satu itu menguraikannya dengan cukup manis, tapi lagi-lagi, kamu
tentu paham ini tentang tragedi – kita berdua tahu persis bagaimana nasib
tokoh-tokoh yang diciptakan Shakerspeare.
Dan, kita juga paham lamat-lamat bagaimana sepasang manik mata kita digantikan punggung kita yang bertatap-tatapan.
Surat-surat yang tak pernah kamu tulis, bertemu dengan surat-suratku yang tak pernah sampai. Bisakah kamu bayangkan bagaimana pertemuan mereka?
Hem,
aku suka surat, juga kartu ucapan. Aku masih punya sekitar selusin kartu ucapan
Natal yang masih kosong, dan ilustrasi kartunya dilukis oleh anak-anak
disabilitas berbakat hebat, yang
sekarang tersimpan di gudang rumah. Aku juga punya satu hingga tiga gulung
kertas surat, yang sudah koyak di berbagai sisinya dan menguning. Tapi, menulis
dan mengiriminya pada orang-orang adalah tentang kesukaan yang lain.
Bagiku,
selain karena menulis surat atau kartu ucapan/pos membutuhkan proses yang
panjang, mulai dari menyiapkan bolpoin, memilah perangko, melampirkan cetakan
foto, menyemprotkan parfum pada amplop, dan persiapan teknis lainnya yang mampu
membuat si penerima menyadari kalau ia adalah orang cukup spesial hingga
mendapat perlakuan sedemikian rupa hanya untuk sebuah pesan dibaca olehnya.
Alasan lainnya adalah, lewat surat, kamu sekaligus bisa membaca perasaan si
penulis. Aku bisa membalik kertas suratnya dan meraba-raba tubuh kertas yang
timbul-tenggelam berkat tekanan bolpoin si penulis surat., yang menunjukkan emosinya
Kamu bisa mencerna kepribadiaannya lewat caranya menyusun huruf-huruf lewat
tulisan tangannya – kamu pun mendadak menjadi grafolog yang handal. Kamu bisa
menemukan tekukan-tekukan tertentu atau jejak lipatan tak disengaja di beberapa
sisi kertas, atau bahkan tumpahan kopi, cipratan liur, helai rambut yang
terjatuh, bubuk bedak bayi, cap bibir, hingga air mata yang baru mengering. Dan
hal-hal tersebut lebih ‘bersurat’ daripada kata-kata yang mengisinya. Ada yang
tersirat dalam pesan surat.
Alih-alih
mengetiknya dan memilih font berjenis handwriting.
Itulah alasan khusus – salah satunya mengapa surat selalu berkenaan tentang hal-hal yang roman di hari kasih sayang dan orang istimewa. Ini juga jadi alasan mengapa aku menyuratimu, berkali-kali.Berulang-ulang.dan, memintamu untuk melakukannya juga....
...
kepalamu menggeleng, balasan suratmu yang tak pernah kamu tulis ituberkatatidak
*aku mendengar Letter-Yiruma ketika menulis ini
Saturday, 24 September 2016
Kematian Kecil
Kupikir
setiap orang punya kematian-kematian kecil yang mereka simpan sendiri. Aku
bertemu dengan masing-masing dari mereka hampir setiap hari; orang-orang yang
menyembunyikan kata ‘tidak’ saat ‘iya’ menjadi suara paling nyaring,
orang-orang yang menolak mengakui rindu, orang-orang yang menghapus isi
pesannya sebelum sempat mengirimnya, orang-orang yang menyimpan surat-surat
cinta tanpa alamat yang disembunyikannya di kolong tempat tidur, orang-orang
yang membeli banyak buku puisi dan membiarkannya teronggok lama hanya untuk
melihatnya berdebu.
![]() |
| sumber foto: favim.com |
“Kalau
begitu, kupikir setiap orang juga punya kehidupan-kehidupan kecil yang mereka
pelihara sendiri,” katamu dalam tiba-tiba. Aku menengok ke arahmu – dan aku
kembali memberimu senyuman itu – lengkungan yang kamu bilang tidak pernah
benar-benar penuh karena ada yang belum sembuh. Sejenis kehilangan atau
kesedihan yang masih menimang-nimang meninggalkan diriku atau tidak. Tapi kamu
selalu bisa mengambil tangan kecilku dan bilang aku tidak pernah sendiri.
“Aku
mengobrol dengan mereka satu persatu. Motivator itu – buatku bukan orang yang
mendorong semangatmu di mataku; mereka hanyalah para pejuang yang menangis
hebat di malam hari lalu masih cukup kuat bangun di pagi harinya untuk tertawa.
Kekasih-kekasih itu – buatku bukan pasangan yang memadu kasih yang diceritakan
dongeng-dongeng; mereka adalah yang berani menikmati luka untuk mendapatkan
cinta yang jalannya selalu di persimpangan antara keraguan dan kebimbangan.
Pencerita itu – buatku bukan sosok yang andal menjajakan kisah-kisah; mereka
ialah sekelompok orang yang memanfaatkan kenangan untuk dijual. Mereka-mereka
itu, sedikit contoh tentang kematian-kematian kecil yang tak pernah kita tahu.”
Dan, aku – yang menyambar potongan-potongan puisi yang kukumpulkan dari klipping koran, membacanya keras-keras, sesekali bisik-bisik, setiap malam untuk menyembuhkan yang kamu bilang bagian-bagian yang tak pernah damai dalam diriku.
Kamu
diam. Cukup lama. Kamu melepaskan genggamanmu – menyematkan matamu di antara
mondar mandir orang di teras kafe. Kamu masih membiarkan bisu yang bicara.
Sampai lebih dari lima belas menit lamanya. Seperkian detik, singkat saja,
terlintas kamu pergi sekali lagi dengan cara yang lain. Membiarkanku menikmati
kematian kecilku sekali lagi. Dan, aku meraih Lang Leav, menelusuri sajak-sajak
sirkus duka cita dengan penuh suka. Begitukah?
Lalu
kamu kembali. Kamu pulang.
“Ver,
kupikir setiap orang punya kehidupan kecil yang mereka rawat sendiri. Kamu tahu
kamu jatuh cinta ketika kebahagiaannya menjadi kebahagiaanmu juga. Tak peduli
salah satu cara menikmati kebahagiaannya adalah dengan melepaskannya – kamu pergi.
Orang-orang bilang kalau kamu jatuh cinta, kamu tidak akan meninggalkannnya,
kamu akan memperjuangkannya, kamu tahu cinta sesungguhnya adalah memilikinya
untuk melindunginya di tempat terbaik yang bisa kamu berikan. Tapi, dengan kamu
pergi dan ia bahagia – kamu masih memilikinya: memiliki kehilangan akannya.”
Band
indie, alirannya mungkin Blues, naik ke panggung kafe. Basa basi tentang lagu
perdana yang akan dibawanya, tentang request yang memungkinkan. Aku mendadak
tuli kecuali apa yang keluar dari bibirmu.
“Kupikir, Ver, setiap orang memang menyimpan kematian kecilnya, tapi itu adalah bagian dari menjaga kehidupan kecilnya.”
Kamu
tersenyum – mengamit tanganku lagi. Aku tidak membalasnya, kamu selalu tahu
itu. Kamu selalu tahu.
Kamu kematian kecilku, sekaligus kehidupan kecilku. Sepanjang malam.
Menengok Kita dalam Obituari
Ada
hal-hal kurang (baca: tidak) penting yang ingin kukabarkan padamu kali ini.
Kamu akan sekali lagi menyebutku aneh, sama seperti saat kamu menerima sajak
kecilku di ruang kerjamu tempo lalu lewat seseorang yang kutitipkan pesan
dengan tiba-tiba. Tapi, kadang kali kita menyalahi kegelapan yang buta tanpa
mengetahui bintang hanya bisa bersinar karena kehadirannya. Atau seperti cerpen
Naguib Mahfouz yang kurekomendasikan padamu di awal pertukaran pesan singkat
kita mengenai republik.
Jadi
seperti ini, kemarin – hari-hari yang lalu, waktu yang sudah lewat, masa yang
meminang diri dalam kelampauan – aku berjalan memasuki salah satu pusat
perbelanjaan, yang letaknya tak jauh dari kampus; berseberangan dan aku tak
ingin mencoba menebak apa yang mereka bincangkan setiap harinya. Saat itu jam
menjelang makan siang.
Tidak
ada yang salah. Aku hanya berjalan, tertawa seperti biasa bersama
langkah-langkah kaki kawanku yang melompat-lompat menceritakan pengalaman
liburannya. Lagu-lagu populer yang dimainkan dengan volume keras dari salah
satu pengeras suara di toko penjualan ponsel masih terdengar layaknya pagi-pagi
lainnya. Udara sejuk yang dikondisikan pendingin ruangan gedung tersebut juga
tetap sama. Sayup-sayup, kalau kamu menajamkan pendengaranmu, ada musik-musik
saxophone-nya Kenny G. yang diputar. Sepintas, tak berbeda – bagai rutinitas
yang diulang-ulang, mengingat hampir setiap hari kawan-kawanku memilih tempat
yang sama untuk membunuh waktu. Sampai akhirnya, aku akan keluar dari gedung
itu, dan aku menengok ke belakang sebentar – aku tak tahu mengapa, aku hanya
ingin melakukannya, seperti ketika kamu mengucapkan selamat tinggal dan pada
langkah ketiga kamu memutar tubuhmu ke belakang, lalu mengetahui hatimu telah
tertinggal.
Yang pasti, segalanya berubah.
Susunan
bangku besi yang biasanya menyambut tiap pengunjung yang masuk, dan letaknya di
tengah-tengah lantai dasar itu, tidak seperti sebelumnya. Lebih renggang, dan
terkesan berjauhan – asing satu sama lain kalau tidak ingin disebut bermusuhan.
Payung mejanya dibuka. Dan, sepasang bangku dan meja bundar yang letaknya
menghadap salah satu pilar tembok yang menjulang ke atas, sudah lenyap.
Pengaturan tempat duduknya tak lagi sama. Aku mengerjap-ngerjapkan mata.
Aku
pernah menunggu di sana – dan kamu pernah menyeletuk padaku keesokan harinya,
kamu tahu di mana persisnya aku duduk. Kamu bilang, terlambat datang untuk
sekadar menyapa dan memastikan aku sampai di rumah. Aku tersengat. Jalanku
melambat – apakah seseorang pernah membisikkan padamu kenyataan ini; kita tahu
seberapa berat dan kapan seseorang sedang dijerat kenangan, dari ritme langkah
dan cara jalannya. Kepalaku tertunduk, seesekali menggeleng keras; seolah ingin
memohon pada kenangan agar tidak melumatku kali ini. Tapi aku gagal –
pertanyaan ‘mengapa’ dari suara-suara di sekitarku mulai menyambangiku. Ketika
aku benar-benar keluar dari gedung, dan berusaha menahan diri untuk tidak
menengok sekali lagi, lagu-lagu dan musik yang masih samar terdengar, justru
memanggil-manggilku. Memintaku kembali, melangkah ke sana dan sekadar menyentuh
punggung bangku besi yang masih tersisa untuk mendekapmu kembali. Satu kali
lagi.
Dan,
hari-hari setelahnya jadi lebih buruk. Aku duduk menghadap air mancur kecil
yang terdapat di halaman kampus, menunggu jemputan seperti biasanya. Sesekali
aku mengarahkan pandang ke arah dinding kaca lobi, mengingat kamu pernah
berjalan di baliknya dan aku mengamatimu dalam diam. Kamu juga pernah duduk di
sini, tepat di sebelah dan mengajakku mengobrol barang sepuluh menit lamanya. Rasanya
masih segar seperti hari kemarin yang baru saja berlalu, walau sudah menahun
lamanya.
Lalu, aku menyentuh udara – bayangmu memudar bersamaan kenangan yang (nyatanya) berserakan di mana-mana.
Subscribe to:
Posts (Atom)




