Friday, 2 January 2015

Di balik Wajah Senja


Ini baru tiga puluh hari terakhir aku melewati jalan itu. Tepi jalan itu terbentang panjang; berupa trotoar bersih yang memiliki tumbuhan di beberapa titik tengahnya. Hampir tiap sore aku meniti bahu jalan yang menceritakan padaku tentang orang-orang. Biar kugambarkan padamu.
Aku melihat dua orang perempuan, yang duduk membelakangiku. Keduanya saling mematri persahabatan dalam kaitan tangan; memandangi lanskap danau yang terhampar luas di depan mereka. Kuperhatikan punggung mereka kerap berguncang, menahan cekikik tawa dan saling melepar guyon untuk mewarnai sore yang teduh.
Langkahku kembali menjejak, menapaki bahu jalan yang masih jauh tergelar di depan. Setelahnya, aku menemui dua orang pria paruh baya yang duduk di tepi trotoar, memainkan batang tembakau yang mereka isap. Keduanya berpakaian sedikit kumal, sepertinya baru saja selesai melakukan kerjaan yang berat, yang melibatkan fisik – kutemukan noda tanah yang liat di sisi bajunya dan beberapa bercak hitam menepel di lengan mereka. Tapi itu tak membuat mereka berhenti mengobrol dan sesekali menyunggingkan senyum sederhana.
Lain lagi dengan beberapa langkah di depan mereka. Ada segerombol anak remaja yang menggelar tikar di tengah trotoar berumput itu; saling berkumpul membentuk lingkaran dan bermian kartu remi. Beberapa di antara mereka memegang batang rokok dan minuman berwarna. Saling menukar tinju dan canda, tak peduli senja mulai menua.
Ada tikar lain lagi yang tergelar; oleh sebuah keluarga. Mereka hendak membuat pinkik kecil. Aku mengamati si Ibu yang mengeluarkan botol minum dari balik tas putihnya. Si Bapak duduk bersila dan menikmati tembakaunya. Si Anak yang tahu entah ada dimana, sepertinya telah bergabung dengan anak-anak kecil lain di taman bermain yang tak jauh dari trotoar luas dan danau itu.
Lalu, di sepanjang tepi jalan, berjejer rapi pedagang-pedagang makanan kecil, juga berbagai jenis minuman yang dijual. Sesampaiku di ujung trotoar, hanya ada sesosok pria paruh baya – perawakannya terlihat tua dan tidak terurus, berdiri di balik pohon yang cukup besar dengan dibantu tongkat kayunya, menatap sayu dan kosong pada orang yang berlalu-lalang di hadapannya. Aku tersenyum, rasanya pahit dan masam. Dari seluruh potret yang berserak di sepanjang trotoar luas dan danau megah itu, hanya ada satu yang tidak berubah dari wajah senja; pria paruh baya bertongkat kayu itu.
Sore itu, aku mendongak melihat langit yang seperti biasanya; menggurat jingga dan memendarkan cahaya temaram. Tapi hari itu, aku menangkap siratan yang berbeda; sepenggal senja yang muram.
This entry was posted in

0 Comments:

Post a comment