Tuesday, 28 June 2016

Menengok Ulang Awal Perjalanan Novel ‘Time in a Bottle’



Fakta: ini novel kolaborasi pertamaku (setelah biasanya aku menulis solo). Pertanyaannya, bagaimana bisa? Dan, beginilah ceritanya:
Bermula dari aku mengikuti seleksi outline naskah yang diselenggarakan Elex Media Komputindo. Aku terpilih menjadi salah satu finalis terbaik untuk mengikuti workshop ‘Berbagi Cinta Lewat Kata’ bersama puluhan finalis lainnya. Selain diberi materi terkait kiat-kiat menulis novel yang menarik, cara memasarkan novel, sampai sesi sharing bersama editor dan pihak penerbit, para finalis juga dibentuk menjadi sebuah tim yang dipilih secara acak. Setiap tim nantinya diwajibkan membuat kerangka cerita novel bertemakan ‘Playlist’ yang nantinya akan dilombakan dan dinilai oleh Elex Media untuk kemudian dipilih menjadi tiga besar outline terbaik yang akan ditulis dan diterbitkan. Pada pembentukkan tim itulah, aku bertemu Kak Sian Hwa, Tia Marty, dan Indriyani Rahayu. Kami dimentori Kak Rina (editor senior di Elex). Sebelum akhirnya kami dieditori Kak Afri, yang begitu sabar menghadapi kami semua yang susah diatur ini.
foto bareng Indri (salah satu penulis novel TIAB dan teman kolaborasiku) di Workshop Berbagi Cinta Lewat Kata
Dan, percayalah, ketika berdiskusi tentang ide, kami sangat heboh (baca: berisik)!
Terlebih saat menentukan setting tempat...
“Bandung?” “Semarang?” “Medan? Hehehe.” “Bekasi saja!” “Gimana kalau yang di luar?” “Aku pernah ke Makau. Di sana ada bla-bla-bla.” “Ya sudah, Makau saja! Kalau enggak tahu, kita bisa riset dan saling nanya.” “Ayo cepetan take, sebelum diambil!” “Kita MAKAU!!!” teriak salah satu di antara kami (aku lupa siapa, mungkin Tia) agar terdengar oleh MC di panggung.
Sepintas ketika berlanjut memikirkan nama tokoh...
“Kita bikin nama karakternya saja dulu. Gue Alora.” “Aku Marvel deh.” “Woaaah, boleh juga. Agak gimana gitu ya nama Marvel.” “Duh, aku apa ya?” “Kalau Rachel, nanti ejaannya ‘Rahel’ atau ‘Rechel’ ya enaknya?” “Aku Maria saja deh.” “Eh, tunggu-tunggu.”
Sekilas saat menyusun adegan...
“Aku pengen deh macam salah satu drama Korea yang ada payung di dalam kamar itu loh.” “Oh ya, yang romantis, yang cowoknya kasih headset ke telinga ceweknya dari belakang, tiba-tiba.” “Ini mau dibuat ada semacam konflik pelarian gitu enggak?” “Tiap orang urus cerita masing-masing tokoh saja, terus disatukan dengan radio.” “Tiga cewek ngejer satu cowok, endingnya enggak jadian semua.” “Enggak bisa gitu, enaknya tuh...”
Sebentar ketika membangun karakter...
Rachel kudu anak sosialita tajir, yihaaaaa.!” “Maria kerja di kasino kali ya? Tapi punya kelemahan tersendiri yang dipendamnya yang bertetantangan sama pekerjaannya.” “Hem, kalau Alora...” “Enggak mau tahu, aku maunya si Marvel itu bisu atau enggak buntung. Tapi dia itu pianis. Bikinlah dia kecelakaan, atau kenapa dah, entar aku pikirin asalkan si Marvel cacat.” Mendadak anggota kelompokku sunyi, krik-krik...melihat ke arahku dengan pandangan njirrrr sadis amat, apa yang ada di kepala ini anak ya? Kebanyakan baca buku apa sih.
Tahukah kamu...
buku catatan kecil tempat ide awal novel 'TIAB' ditulis
Awalnya ide yang ada di coretan buku adalah karakter-karakter dengan selera musik yang berbeda. Ada yang berprofesi jadi anak band yang suka sekali mendengar lagu populer Korea, penyuka musik klasik yang suka sekali mengirim request ke radio, dan sejenisnya. Mereka punya kisah masing-masing, yang terhubung dalam satu sesi cerita di radio. Lalu mendadak berganti lagi. Debat (enggak sampai bunuh-bunuhan kok!) Ganti lagi. Terus-menerus begitu sampai waktu habis dan kami kelabakan menyusun cerita.
Dari seluruh ‘kekisruhan’ yang sempat terjadi, kami secara bergantian mengisi bab-bab yang disusun menjadi outline, yang harus diserahkan menit itu juga ke Elex. Saat itu, aku didaulat jadi koordinator tim yang membuat daftar nama dan nomor kontak anggota tim andai kata outlinenya terpilih. Kupikir – yang aku yakini, kami semua juga sepemikiran – bahwa kami tak akan menang. Bahkan, kertas kontak itu sudah lama kuhilangkan. Tapi, di suatu siang – ketika Kak Sian sedang tidur, aku duduk malas-malasan pada sebuah resto kecil, Indri dan Tia entah tengah tenggelam dengan aktivitas apa, aku menerima surel dari Elex yang mengatakan tim kami termasuk tiga besar tim dengan outline naskah terbaik. Kami diminta siap mengerjakan proyek kepenulisan outlinenya agar menjadi novel utuh bersama editor yang sudah ditunjuk.
Gubrak! Aku susah payah mencari kontak Kak Sian, Indri, dan Tia yang akhirnya kutemukan dalam galeri foto ponselku, karena untungnya aku sempat memotret kertas kontak. Aku menghubungi mereka satu persatu dengan pesan yang kutulis dengan begitu antusias (baca: norak!). Bahkan, aku sampai terloncat dari bangku resto itu, melompat-lompat sembari menghampiri temanku yang sedang duduk di depan, memeluknya tiba-tiba sementara ia berpikir aku sinting.
Dan, sama seperti proyek kepenulisan pada umumnya. Ini memiliki jangka waktu tersendiri. Diperlukan pembenahan dan penambalan cerita sana-sini untuk menyatukan kepala yang beda-beda. Kupikir ini akan jadi pengalaman yang menyenangkan. Kenyataannya...ini perjuangan penuh darah (baiklah, ini berlebihan memang)! Tapi memang benar, ini proses kepenulisan kolaborasi yang penuh intrik (hahaha): menulis sambil menabuh genderang perang bersama; karena ribut arah cerita, plot kesukaan masing-masing, adegan ciuman, sampai debat penggunaan kata ‘flat’ atau ‘apartemen’!

0 Comments:

Post a comment