Thursday, 29 November 2012

Fall...(13) : Sajak Hujan kepada Secangkir Teh



Kepada kamu, Pecinta Teh,
Ini dari seseorang yang selalu ingin menjadi hujan. Aku takkan menuliskan lagi mengenai sajak-sajak hujan, walau sajak-sajak itu indah dan selalu saja kutemukan kata-kata yang melukismu. Seperti, apakah kamu menunggu hujan reda atau menunggu seseorang saat hujan berhenti? Saat dihadapkan dalam bisik sajak milik penulis Reni Erina itu, aku dilemma, antara menjawab menunggu hujan ataukah kamu, karena aku pun terjebak ditengah rinai hujan, sebab hujan adalah kamu dan kamu adalah pelukis hujan. Tentang rinai, aku punya sajak yang lain lagi, kali ini milik penulis Skylashtar Maryam, yang mengatakan bahwa rinai hujan adalah detik-detik tunggu yang takkan tergerus oleh waktu. Dan, kamu tahu? Di rinai hujan itulah aku menemukanmu, dan aku baru tahu, itu sebabnya, rintik-rintik cinta yang tumpah ruah bersamaan dengan turunnya hujan itu tak pernah lenyap karena ia terlalu kuat untuk digerus waktu dan ditebas jarak.
Ini untukmu, Pecinta Teh. Apakah kamu lelah menerima sajak-sajak hujan yang kutulis untukmu? Sesungguhnya, aku pun lelah. Aku ingin saja berteriak, aku ingin tulisan ini berhenti karena tulisan dan sajak-sajak itu hanya bercerita tentang pesan-pesan tersembunyi dari hujan kepada secangkir teh hangat yang selalu saja mampu menyelimuti kedinginan yang ia buat agar menyeruak dari bulir-bulirnya. Namun, aku hanya bisa berteriak bahwa aku menyelipkan cinta pada kehangatan teh, ketika hujan benar-benar deras dan bisa mengalahkan suaraku. Aku tak ingin kamu mendengarnya, aku takut jika kamu tahu, kamu akan dingin seperti halnya teh hangat yang dicengkeram begitu lama di tengah hujan. Aku pun tak ingin kamu mengarungi samudra, menyebrangi lautan dan menakhlukkan pegunungan, aku hanya ingin kamu mengeja hujan.
Teh dan hujan. Mengapa aku memanggilmu teh? Mengapa aku menjadikan namamu menjadi aneh? Sederhana, karena secangkir teh selalu ditemukan menemani hujan. Dan, aku ingin kamu selalu kutemukan menemaniku, karena akulah hujan itu. 
Di kala hujan, saat rintik hujan jatuh ke Bumi dan saat aku jatuh padamu,
Dari seseorang yang selalu ingin menjadi hujan.

Monday, 26 November 2012

Fall...(12)



How long till we call this love?
Aku takut tulisan ini tak akan pernah habis bercerita tentangmu. Aku takut, jika angka 15 terlewat dan tulisan tentangmu belum juga berhenti. Aku takut, itu berarti aku benar-benar mencintaimu.
Please, don’t stand so close to me, I have a trouble breathing. I’m afraid of what you’ll see.
Ini akhir minggu, dua hari aku tak bertemu denganmu. Terakhir kita bertemu, di hari Jumat, di sebuah bangku yang disusun seolah menjadi meja bundar dalam sebuah bahasan penting. Perhatianku terbagi, antara menentukan kemajuan tim-ku dan kamu. Logikaku bekerja keras agar tetap focus, dan hatiku tertekan begitu dalam karena harus berusaha menyembunyikanmu.
I will take that hurf of fall, if that fall is falling into you.
Aku gelisah, waktu semakin lama semakin merangkak naik dan berbisik padaku, kamu akan segera keluar dari diskusi alot ini, dan bukankah benar? Kamu mendorong jauh bangkumu, berjanji akan kembali. Aku tahu, tidak. Bisakah kamu cukup hadir di diskusi ini bukan karena jadwal yang mengharuskanmu, cukup karena aku ada? Harapan dan binarku seketika meluap pergi bersama kamu yang membuka pintu dan keluar.
I have waited you for a thousand years, but, I’ll love you for a thousand more.
Sesungguhnya, ini tulisan khusus untuk bercerita tentang tatapan manik matamu. Yang tak hanya teduh, yang memiliki binar menenangkan dan memikat. Tapi, aku tak tahu, tulisan kali ini justru bercerita tentang kamu yang lagi-lagi membuatku tersiksa. Terlebih itu, saat aku menulis ini, aku tahu kamu tengah tersenyum dan tertawa bersama mereka, kelompok mereka yang di dalamnya ada dia, satu-satunya orang yang mungkin menjadi alasan bagimu tidak menuliskan puisi untukku.

Fall...(11)


Our love is break, burn and end .
Saat itu, pulang sekolah. Aku memasuki kelasmu dengan rasa yang sama, dilemma untuk meretakkannya, menguburnya atau membuangnya. Tapi, intinya sama; mengakhirinya. Segera. Sebelum segalanya semakin membuncah, menyeruak, menyembul dan kamu merasakan rasa yang sudah lama kusimpan dan kusembunyikan ini. Kita berpapasan, mungkin tidak. Kita hanya berjalan dengan arus yang berbeda dan aku melihatmu sekilas, karena kamu begitu cepat berjalan pergi. Lalu, menghilang. Setelahnya hanya ada cerita tentang aku yang duduk di pojok kelasmu, memilih bangku secara acak yang anehnya bertuliskan namamu, dan berkali-kali aku melirik ke arah pintu kelasmu yang terbuka, mencari sosokmu, bayangmu, berharap mata kita akan kembali bertemu seperti sapaan mata yang bisu sebelum-sebelumnya, tapi kenyataan begitu kejam mencekik, karena hanya ada siluet orang yang berlalu-lalang dan itu bukan kamu.
You keep slipping away.
Ini kali kedua yang menyakitkan setiap kali aku memasuki kelasmu. Kali ini, aku tak bertemu denganmu, kamu lebih memilih berada di luar. Tapi, aku tidak menyesal, yang terpenting, ini kelasmu, kelas dimana kamu pernah berada. Aku merasakan jejak-jejakmu di sini, dan itu lebih dari sekedar apapun.
Should I give up? Should I let go? My mind say yes, but, my heart say no.
Dan, inilah aku, berada di depan komputer hitam LCD terbaikku. Di kamar yang sepi yang hanya melantunkan lagu-lagu melankolis yang menyedihkan. Aku membaca akun sosialmu, akun dimana interaksimu dengan banyak hati lain yang satu minat seni denganmu. Ini sungguh menyakitkan. Tapi, bukan kecemburuan, ini hanya penyesalan menyadari kamu mungkin lebih tertarik pada mereka yang memiliki jurusan seni yang sama denganmu, bukan jurusan seniku, dunia tulis-menulis, yang melankolis, yang hanya bisa menghanyutkanmu dalam dunia yang tidak pernah nyata, rekaan dan khayalan. Berkali-kali aku mengatakan diriku untuk mundur, tapi berkali-kali juga kudapati diriku tertarik semakin dekat olehmu…

Sunday, 25 November 2012

The Lake of Sufi; Happines Formula



Sejatinya, tak ada rumus untuk mencapai kebahagiaan. Tapi, sesungguhnya, ada jalan untuk berdiri di titik kebahagiaan itu, kita hanya tidak menyadarinya, kita tengah berdiri di lingkaran menuju titik itu dan sebuah buku dari Tere Liye berjudul Ayahku (bukan) Pembohong, sekali lagi, mengantarkan kita melewati lorong dan membuka pintu pada kebahagiaan yang sebenarnya begitu dekat dengan kita. Dan, inilah salah satu dongeng Ayah kepada anaknya, anak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng, tentang sesungguhnya, kita bisa menciptakan rumus kebahagiaan itu sendiri, itu sederhana.
Danau Para Sufi. Dari semua dongeng yang diselipkan dalam buku Tere Liye yang satu ini, ini adalah dongeng terakhir yang diceritakan Ayah kepada Dam, anaknya, tentang Dam yang bersikeras mengatakan bahwa selama Ibunya hidup, Ibunya tidaklah bahagia karena tak pernah memakai perhiasan dan baju bagus serta rela meninggalkan popularitas sebagai artis. Dan, dongeng ini sukses mengguggah Dam maupun aku sebagai pembaca. Dongeng ini menceritakan tentang Ayah Dam yang berkelana untuk mencari bagaimana seseorang bisa hidup bahagia selamanya, ini pertanyaan klise, tapi sesungguhnya, kita tak pernah tahu jawaban pasti dan hakekat kebenarannya. Ayah Dam berpetualang hingga bertemu para sufi, para sufi hanya menggeleng tidak tahu, pertanyaan tersebut sulit untuk dijawab, para sufi pun menyarankan Ayah Dam untuk bertemu tetua sufi. Tetua sufi pun berkata, ia tidak dapat menjawab pertanyaan sulit tsb, namun, ia meminta Ayah Dam untuk mencari jawaban tsb dengan membuat sebuah danau besar, danau tsb tidaklah boleh kotor oleh lumpur tanah yang mengalir dari samping maupun dasar. Tetua Sufi tsb akan datang setahun kemudian untuk melihat danau tsb. Ayah Dam pun menyanggupi, di tahun pertama, danau tsb belum selesai. Tahun kedua, air tsb belumlah penuh. Tahun ketiga, air di danau tsb kotor karena pengairan samping yang membawa sisa-sisa lumpur. Tahun keempat, Tetua Sufi mengacak-acak dasar danau dan membuat air danau kotor. Tahun kelima, Tetua Sufi datang kembali, ia tersenyum pada Ayah Dam. 
Lalu bertanya pada Ayah Dam; “Apakah kamu masih memerlukan jawaban atas pertanyaanmu lima tahun lalu?” Ayah Dam menggeleng. Dilihatnya danau yang telah selesai ia kerjakan dengan susah payah, kini danau tsb walau terkena aliran lumpur akan kembali bening dengan sendirinya karena Ayah Dam sudah mengeruk tanah hingga mencapai dasar mata air, sehingga air danau berasal langsung dari kebersihan mata air, tak ada lagi dasar yang kotor. Dan, Ayah Dam mengangguk mengerti dan menemukan jawaban itu saat pengerjaannya di tahun kelima yakni kebahagiaan itu datang dari dalam, diri sendiri. Tidak datang dari luar. Jika datang dari luar, apabila yang dari luar itu hancur, maka kebahagiaan itu akan hancur bersamanya. Sering kali kita mengira, uang, harta, ketenaran dll akan membahagiakan kita, sesungguhnya tidak, kita bisa menciptakan kebahagiaan kita sendiri. Karena, uang bisa habis, kebahagiaan pun habis bersamanya, sedangkan kebahagiaan yang kita bangun sendiri, akan abadi menghadapi celaan dari luar seperti halnya air danau yang muncul sendiri dari mata air, segera menyapu bersih kotornya lumpur yang masuk. Sesederhana itu sebuah rumus kebahagiaan. Telah kamu temukankah itu?
This entry was posted in