Saturday, 10 November 2012

Fall...(8)



Kamu tahu, aku tak pernah ingin kamu menyebut kata cinta, menyeka air mataku atau memberi bahumu untukku. Aku hanya ingin kamu berdiri tak jauh dariku, tak perlu di sampingku. Cukup di sana, benar, di tempat dimana kamu bisa melihatku dengan mudah, bukan dekat, karena aku ingin pastikan, walau dalam jauh pun, dalam keramaian, kamu bisa menemukanku.

Ini satu ruangan, yang dipenuhi riuh, yang didesaki sahutan dan di sinilah, bahkan bukan dalam keadaan tenang yang diselimuti kesunyian yang begitu melankolis, aku mengamatimu lebih mendalam, tentang ekspresimu, tentang bagaimana aku melihat percikan darah seni gerakmu dengan mataku sendiri. Ketika itu, aku tahu, jarak tak hanya menciptakan bentangan jauh, dunia pun seolah ikut dengannya. Mari biarkan aku melukismu dengan dunia seni gerakmu. Gerakan kakimu yang maju dan mundur, perpindahan kaki dan olah gerak tangan serta kaki yang begitu terarah, kamu memiliki bahasa gerak tubuh yang begitu baik. Aku tahu, bakat seni gerakmu tengah mengaliri darahmu, sama saat aku berada di balik komputer dan membiarkan jari-jariku menari, seharusnya aku bahagia, karena aku tahu, kamu sedang mempertunjukkan apa yang kamu miliki, tapi tetap saja aku tak bisa tersenyum, karena itu semua bukan untukku.

Aku ingin sekali bertanya padamu, pernahkan kamu menciptakan seni gerakmu karena emosimu padaku? Sedangkan aku di sini, mengeluarkan segalanya mengenaimu dalam tumpahan kalimat. Menyembunyikanmu di sudut kata-kata. Menyamarkanmu dengan tinta.

Malam itu, aku tak pernah berhenti melihatmu dari sudut mataku, sampai saat suara permainan dimulai, saat dimana seharusnya kita semua memulai mencari kunci sesuati aturan main, tapi, pada awal-awal, aku tak bergerak, aku justru melirik padamu terlebih dahulu, melihat ekspresi antusiasmu. Aku runtuh. Kamu lewat di depanku, tanpa ada mata yang singgah padaku.

Dengar aku, di tengah malam itu, aku sudah benar-benar yakin, aku mencintaimu. Bahkan saat sentuhan tangan itu. Untuk pertama kalinya, aku menggenggam tanganmu. Tapi, ada yang melintas di benakku, membuatku kembali terkoyak,

Apakah mencintaimu harus sesakit ini?

0 Comments:

Post a comment