Sunday, 28 December 2014

Percakapan Dini Hari


Sudah kubilang padanya, jika ingin bertemu denganku; tak mungkin selepas subuh, bukan pula menjelang siang, tidak ketika senja merapat, juga tidak saat purnama bertengger. Kukira itu sudah membuatnya mengerti jika aku tak ingin menemuinya. Tapi, saat itu jam dinding menunjukkan pukul nol-nol lewat satu menit. Ia katakan, ini sebelum fajar menyapa, purnama juga sudah diselimuti awan malam, senja sudah mati dan siang tak akan berani mengetuk waktu. Itu pertengahan malam, dan tak ada bintang yang menemani, pun purnama yang terpatri. Yang ada hanyalah ia yang berdiri di ambang pintu rumahku dengan pucat wajahnya. 
“...aku ingin kita membaca kenangan. Temani aku menyusuri ruang-ruang perpisahan. Aku tak mungkin datang sendiri. Aku sudah mencari toko yang menjual organ tubuh, tapi mereka selalu menggeleng ketika kutanyakan adakah yang baru untuk hati yang terluka oleh masa lalu.”
Ia konyol, dan sampai di sini, aku yakin kau tahu apa maksudku.
“...tolong aku. Berhari-hari aku berbincang dengan bulan, berusaha menjadi anak kecil kembali, yang selalu tertawa dan tidak dicekik oleh masalah-masalah rasa. Aku ingin memutar waktu, tepat untuk menghentikan hati yang kala itu ingin menjelajah.”
Ia sinting, dan sampai di sini, aku yakin kau tahu apa maksudku.
“...dan, satu lagi, aku menemukan namamu di antara daftar nama yang disesaki rindu, terperangkap masa lampau dan tidak benar-benar hidup di masa sekarang. Kamu ditampar waktu silam dan dibayangi kabut hari esok. Kamu orang yang gaduh oleh sunyi dan ramai oleh sendiri. Kamu dikoyak kenangan berkali-kali, luka dan berusaha bangkit, namun tak ada yang peduli pada seseorang yang sudah mati dan lebam oleh sunyi.”
Sahutnya dengan seringainya yang menunjukkan mulutnya yang berdarah. Ia baru saja memakan hati seseorang.
“...tapi setidaknya aku masih punya sepotong hati, walau kecil, ia masih menunggu. Itu sudah cukup, biar aku hidup membiru,” bisikku, membuatnya terperanjat. Tak percaya aku masih menyimpan ranting angan yang utuh.
Ia gila, dan sampai di sini, aku yakin kau tahu apa maksudku.
This entry was posted in

Thursday, 25 December 2014

Untuk Alaya dan Hari-hari Natalnya

Al, aku tahu kamu pasti bosan, menerima suratku yang entah sudah ke berapa kalinya. Tapi aku selalu memangku harap, semoga kamu tidak bosan membacanya, karena ini caraku untuk menyentuhmu dan menitipkan rindu.
Al, apa kabar?
Ini Natal yang basah. Aku menemukan sisa-sisa kehadiranmu pada boneka pika-pika kuning yang teronggok diam di tepi tempat tidurku. Dan, kamu menyapaku pada kartu-kartu Natal yang terselip rapi di antara tumpukan bacaanku. Kotak kadomu kini berdiri sendiri di salah satu ruang senyap di sudut rumahku, debu-debu tebal berumah di dalamnya dan laba-laba bersarang di sisi-sisinya, lalu ada yang terlupa, kenangan kita terjaga di tiap tubuhnya. Menyenangkan untuk tahu jika kita bertemu saat menysuuri sunyi pada dini hari, selama bertahun-tahun, lalu menukar sekotak cinta di penghujung Natal.
Al, jika mereka bilang; dusta jika berkata cinta mampu memangkas jarak, karena tiap hati membutuhkan peluk yang utuh dan ciuman yang nyata. Ada yang salah. Cinta hadir di sepanjang jarak yang ada, itu membuat rasa yang ada menguat – sadar jika kita membutuhkan kehilangan untuk menghargai sebuah kehadiran. Sebab cium dan peluk bukan perkara permintaan tubuh, itu tentang mengirim hangat dan kasih. Kita buktinya, Al. Kamu membuatku jatuh cinta berkali-kali, di tiap Natal yang hujan mengetuk jendela kamar, bahkan ketika jarak tergelar luas.
Kamu; yang membuatku yakin, jika seharusnya ada cinta dalam persahabatan, dan ada persahabatan dalam cinta. Kamu menjelmakan jarak jadi kebun yang terawat, menyiraminya dengan salam-salam, doa dan semangat yang dikirimkan pada ruang obrolan sederhana kita di tiap waktu senggang yang ada.
Kita sepakat, Natal bukan tentang perapian hangat, lonceng gereja, pohon berhiaskan bintang, kado dan kakek Santa. Tapi ini tentang lahirnya kasih suci yang kudus ke dunia, menyentuh tiap jiwa. Dan, cara terbaik memperingatinya adalah merajut cinta dan memintal kasih, dalam doa-doa hening di tengah malam yang teduh. Sebab, bukan perapian yang membuat kita hangat, tapi cinta. Bukan rumah yang membuat kita merasa terlindungi, tapi keluarga. Bukan kado yang membuat kita bahagia, tapi ingatan seseorang akan kita. Bukan kakek Santa yang membuat kita terjaga hingga pukul nol-nol tengah hari, tapi kehadiran Yesus di hati.
Dan, padamu Al, aku tak pernah lelah membisikan kalimat ini; menjadi sahabatmu adalah indah. Itu salah satu kado istimewa yang masih kuterima tiap tahunnya. Selamat Natal, semoga Tuhan Yesus senantiasa lahir di kedalaman hati kita.

It’s Raining


"Di luar hujan,” sahutku hampir berbisik. Perlahan, suaraku tenggelam ditelan hujan yang menderas. Kamu berpaling dari layar yang menampilkan berlembar-lembar kerjamu. Bingungmu menggantung di udara. Aku jadi teringat suatu waktu, kamu pernah bertanya padaku, mengapa hujan. Ketika itu, ingin kukatakan padamu, sudah lama silam aku menutup kisah hujan, tapi namamu membawaku sekali lagi – dan berkali-kali, tentang hujan dan payung-payung rencananya yang menyentuh kalbu. Biar kubisikkan padamu, hujan apa yang kulihat tiap namamu terselip di bilik suara.
Rein, barisan kelabu gumpal awan seakan menertawaiku karena ia menyimpan banyak tebak, sedangkan aku selalu gagal menemukan jawabannya; antara ia membawa duka langit sebab malaikat tengah menangis ataukah itu cara langit menyampaikan cintanya pada Bumi, kekasihnya. Dan, ada hujan dalam kamu; aku melihat rintik-rintik gerimis yang turun malu-malu dan hujan yang menderas di kedalaman dua matamu. Tapi, itulah yang membuatku duduk di ruang kelas, belajar tentang bagaimana hujan menjadi dirinya sendiri dan mencintai apa yang dilakukan dan dikerjakannya pada Bumi.
Rein, aku selalu suka hujan di pertengahan malam, itu seperti setubuh sunyi dengan malam yang berakhir jadi kenangan yang ranum. Menikmati bagaimana sisa rintik hujan menempel pada dinding kaca jendela yang diselimuti kabut dingin. Namun, hujan di pukul nol-nol tidak selamanya sempurna, ia mampu melumatmu perlahan, meremukan tulangmu hingga terkapar di ruang rawat dengan orang-orang berjas putih berlalu-lalang di depanmu. Ini caraku untuk mengatakan padamu, jaga kesehatanmu, karena aku tak ingin menemukan kelas Selasa yang kosong dan libur karena kamu terbaring di ruangan yang dipenuhi obat. Dan, hujan masih turun di luar sana, itu rerintik yang muram.
Rein, kamu mengingatkanku pada aku yang berusaha memeluk mimpi-mimpiku – dengan cara yang berbeda. Untuk tidak menyerah, menyentak kemalasan dan terus terjaga mengejar apa yang kita percaya. Maka itu, aku terus menulis, mengarungi malam dan melewati senja, meniti berpuluh-puluh buku, seperti kamu. Kita punya cara yang berbeda dalam banyak hal, tapi, selalu ada teduh yang sama di bawah hujan.
Rein, kita tahu, aku bukan muridmu yang terbaik, terlebih lagi cerdas. Tapi, lewat tulisan ini, yang kuketik pada pukul satu pagi – karena aku menyukai dini hari ketika aku terjaga oleh bergelas-gelas kafein, kuselipkan cinta di tiap kelas pertemuan yang ada. Sebab, kamu berhasil membuatku menghadiri kelas yang sebelumnya tidak membuatku jatuh cinta – sedangkan kelas-kelas sastra lainnya sukses mencengkeramku pada hari pertama, tapi justru karenamu, aku belajar untuk meniti apa yang baru, itu kelas yang istimewa.
“Ini akan jadi hujan yang panjang, menjelma tirai air di sekeliling kita. Biasanya akan kukatakan pada orang, ini hujan yang tiap bulirnya merintikkan kenangan, ini hujan yang membuat Desember basah, dan ini hujan yang mengetuk pintu hati lalu membuatnya riuh. Tapi, jadi berbeda saat harus kujelaskan padamu.”
Kamu masih berkutat dengan pekerjaanmu, tanpa kamu tahu, hujan di luar sana menyimpan jawabanku yang lain untukmu.
“Rein, ini hujan yang mengingatkanku padamu.”
Untuk seseorang, yang meminang hujan dalam namanya, Rhein Mahatma.
Selamat hari Natal dan tahun baru. Semoga kamu menemukan cinta pada hari-hari yang dipintal bersama kasih Tuhan Yesus di dalamnya. Amen.

Monday, 22 December 2014

Kepada Ibu

ada dekap cinta tak terkata dalam kasihnya yang samudra
sayang miliknya memangkas batas-batas dunia
aku melihat rumah di kedua matanya
Suatu hari, setelah ia menghabiskan sebagian besar waktunya di dapur dan mengurusi pekerjaan rumah – sedangkan aku tidur sampai jam sebelas siang sebelum akhirnya terbangun dengan malas, ia membongkar gudang. Melawan debu-debu yang menebal dan tikus yang bersarang di dalamnya. Ia kembali dengan sebuah album foto yang sudah menguning. Ia meninggalkanku untuk istirahat sejenak, baginya, duduk di depan rumah memandangi lalu lalang orang-orang di kala senja atau pertengahan siang adalah rehat terbaiknya. Aku singgah di ruang tengah, membolak-balik album foto yang menjadi rumah bagi laba-laba dan kutu.
peluknya mencipta perapian di hari yang bersalju
karena cium mengiringi tiap air mata terjatuh
membasuh dengan rasa tak terhitung
aku merasakan tangan Tuhan di tiap sentuhnya
Itu fotoku ketika pertama kalinya merangkak. Belajar berjalan di lorong rumah di kampung halaman. Bermain ayunan dengan dress batik yang dikenakannya. Memaksanya menjadi kuda. Lelap dalam gendongannya. Menjambak dan memilin-milin rambutnya yang tergerai panjang. Dan, membelai kepalaku yang botak ketika tertidur. Aku menyentuh satu persatu lembar foto yang sudah berbau apak itu, debu kenangan begitu tebal tertinggal di sana.
padanya, aku berusaha berterima kasih
untuk segalanya yang ia taruhkan       
sebab mencipta surga di hari-hari yang menguntai keluh
menawarkan harap ketika menuai letih
menderai tawa tuk mengurai hujan jadi pelangi
Aku tak tahu bagaimana harus menggambarkannya, aku mengalami semua yang pertama bersamanya. Aku belajar tentang dunia, tentang apa yang ada, tentang siapa aku dengannya. Aku menyapa cinta dan mengenalinya; darinya. Ia bahkan telah mencintaiku sebelum aku benar-benar menangis untuk kali pertama di dunia. Ia menyayangiku bahkan sebelum melihat fisikku baik atau buruk. Ia mengasihiku sebelum orang lain sempat memikirkanku. Ia mempertaruhkan nyawanya untuk aku yang utuh dan hidup. Ia memberiku segalanya untuk aku yang tidak ada apa-apanya.
Lalu, ia memutuskan untuk tinggal di rumah di sepanjang hidupnya – menjadi koki di rumah untuk aku yang selalu memilih-milih makanan, menjadi badut di rumah untuk aku yang terus menangis hanya karena hal-hal tak berguna, menjadi pengingat waktu untuk aku yang tak hentinya bermalas-malasan, menjadi dokter yang merawatku di saat sakit di pertengahan malam, dini hari atau waktu kapanpun, menjadi guru untuk aku yang tak tahu apa-apa. Ia menjadi apapun untuk tiap keluhanku yang tak pernah berakhir.
Aku tumbuh bersama air matanya. Dengan cintanya yang sedekat alir darahku.
di hari ini, sekarang jua
saat ia masih di sini mengenakan senyum itu
aku jatuh pada pangkuannya
kupanggil ia,
“ibu.”
This entry was posted in

Friday, 19 December 2014

If That Was A Fairy Tale


satu hal mewah yang pernah kumiliki adalah segenggam persahabatan sederhana

Aku baru ingat jika aku pernah membuat sebuah video album singkat mengenai suatu perjalanan; yang tak pernah kutahu akan berakhir. 2013. Kumpulan potret dan lanskap perjalanan yang diabadikan dan direkam itu menampilkan potongan-potongan cerita yang pernah singgah; dan sempat terlupa. Mungkin, jika ia bukan dalam bentuk virtual, album itu sudah teronggok diam dan tebal oleh debu kenang yang tak tersentuh. Album pertama menarik perhatianku, aku menamainya Forever Friend. Aku membuka file itu, dan aku seperti diajak mengembara pada Agustus tahun lalu, ketika aku menguntai itu semua.
Aku melihat tanganku mengamit padanya. Kita saling menunjuk cakrawala yang sama; tiga sekawan yang saling memangku mimpi berbeda tapi tetap berjanji dalam ikatan bersama selamanya. Aku hampir hanyut dalam isak dan menyatu dengan air mata, tepat ketika aku memalingkan muka.
Aku sempat tersenyum di depan lensa kamera, dan kamera melukisku tengah membentuk simbol daun hati dengannya. Daun hati itu menyimpan banyak, lebih dari sekadar pertemanan di kelas atau kumpul-kumpul di kafe. Kita menukar curahan hati, berbagi rahasia dan tangis-canda.
Aku tersenyum – itu senyum yang sulit, karena rasanya kecut. Kita tampil menjadi siapa diri kita, tak ada yang saling menyembunyikan diri dalam topeng. Menjadi diri sendiri dan nyaman satu sama lain. Tak ada agenda yang harus dikerjakan hari itu, kita hanya memutuskan untuk bertemu dan melakukan apa saja yang bisa dilakukan bersama; bahkan hanya duduk di ruang tamu – menyelotehkan mengenai isu-isu terbaru, berjalan-jalan di sepanjang kompleks perumahan yang sepi, berfoto-foto ria di jembatan tua yang reyot, semak-semak hingga pagar rumah-rumah. Hanya dari hal-hal kecil itu saja, kita tertawa seakan dunia milik tawa kita. Kita menggila. Dan, kita tahu itulah arti persahabatan kita. Orang-orang mengenalmu sebagai kawan yang baik. Tapi seorang sahabat akan melihatmu sebagai orang yang gila. Mereka menemukan apa yang tidak ditangkap orang-orang.  
Aku ingat – pada akhirnya. Itulah mengapa foto-foto yang banyak itu tersimpan dan tercipta. Karena kita sepakat memekukan kenangan. Aku pun menyusunnya dalam rangkaian foto di aplikasi video. Membuat album virtual dengan lagu yang menggambarkan kita bertiga; forever friend. Karena kita saling menawarkan arti ‘selamanya’ dan ‘selalu’.
Aku selalu takut membuka halaman terakhir dari sebuah kisah. Karena pilihannya hanya dua; menjadi sebuah hal yang happily ever after ataukah tragedi. Atau mungkin menjadi kisah yang menggantung, tanpa akhir dan menjadi misteri yang menyiksa kalbu?
Kau tahu, ini begitu menyakitkan, karena ini bukan cerita peri. Bukan pula kisah dongeng. Bukan sejenis kisah yang bermula pada gubuk kecil kumuh dan berakhir dengan istana dan pesta dansa di aula utama yang mewah. Ini seperti Tinkerbell tanpa Peterpan. Cinderella tanpa sepatu kacanya. Putri salju tanpa apel beracunnya. Atau, putri tanpa pangerannya. Ada yang salah, ada yang cacat dan pincang. Sebuah kisah yang meretak, karena peri penolong tak pernah datang. 

"Kita bakal jadi sahabat selamanya, iya atau enggak?"
"Iya." 
Waktu mengintip dari sudut sunyi, membaca skenario yang sudah ada, lalu tersenyum muram. 

Saturday, 13 December 2014

Serupa Udara



Aku membiarkan kaca jendela tetap terbuka. Desir udara malam mengetuk-ngetuk kusen jendela sebelum ia masuk, meningkahi perabotan ruang kamarku yang ditinggali debu. Purnama yang menggantung di hitamnya malam, menatapku dengan wajahnya yang pucat. Kau tahu, yang tengah bermain di kepalaku adalah; bayangmu yang melompat-lompat di antara api unggun. Maka, aku tak peduli ketika dingin berusaha menjeratku. Satu-satunya yang membuatku gigil adalah mata sayumu yang menjaring kalbu.
tapi, kemarin aku menemukan wajahmu menelikung subuh, bergeliat di sepanjang doa-doaku
Kau bilang, akan memainkan sonata-sonata Beethoven yang kukagumi, atau Yiruma yang kusuka. Kau bilang, akan meminjam Murakami, Kafka, Sarte hingga Hemingway untuk menarik perhatianku di ujung rak buku di perpus sore itu. Terakhir kau bilang, akan mencari Ulysses dan membacanya hingga usai, agar terlihat keren di mataku dan mungkin kau kira, bisa lebih keren dibanding Joyce. Lantas, aku tertawa. Pertemuan pertama kita didesaki tawa-tawa jenakamu, raut konyolmu dan celetukkan-celetukkan lucumu. Kamu pernah menyahut padaku suatu hari; hidup ini tentang bagaimana kamu menjalaninya dalam tawa.
tapi, berpetak-petak rindu merintih, lelah mengetahui sukma menjerit untuk cinta yang tertatih
Untuk pertama kalinya pada penghujung malam itu, aku melihat telaga di matamu. Tatapmu menjelma sungai yang mengalir, membasuh hati yang basah oleh rasa yang menggenang. Tapi, kamu tak pernah mengamit tanganku, menawarkan seikat janji bersama untuk mengarungi perjalanan itu. Ketika malam berakhir dan menyerah pada matahari pagi, aku mati tenggelam dalam manik matamu yang berubah jadi laut. Esoknya, kamu menjadi jangkar usang yang dibuang dari kapal tua yang sudah tersengal oleh zaman. Tak pernah kembali.
Tak tahukah kau, jika aku ucapkan kata rumah, itu berarti dua hal; pulang dan kamu
Dan, untuk seluruh kenangan yang seperti belantara tak terbaca; kutabur kelopak-kelopak bunga di atas nisan kisah kita yang berakhir duka. Subuh itu ketika lantunan doa bersenandung, ada yang mengetuk pintu. Aku tahu itu kamu yang pulang. Walau saat kubuka pintu kayu yang sudah reyot itu, tak kutemukan siapapun. Aku masih mendekap hadirmu yang serupa udara.
This entry was posted in

Friday, 12 December 2014

Stempel Kenangan


“…pada malam yang larut itu, aku tahu ia akan datang. Menawarkan sekilas tamparan atau sekepal tinju. Lalu, kujawabnya dengan sederhana; apa saja. Asalkan jangan hajar aku dengan kenangan…” – dan, ia datang dengan pucat yang mengemas wajahnya, menyodorkanku secangkir teh yang sudah dihinggapi udara dingin malam. Hatiku lebam.

Aku dengannya tidak pernah dekat – pertemuan kami hanya sebatas tatap mata sejenak dan senyum bisu yang dengan mudah berlalu. Namun, ketika ia mengumumkan jika ia akan beranjak pergi dan mengumpulkan kami semua dalam satu ruang rapat sederhana; untuk pesta perpisahan, aku seperti didekap oleh masa silam yang masih tertinggal. Aku tertangkap dalam sarang duka yang menebal. Kabut yang menyamarkan pandang bergelayut di udara. Ruangan seperti tengah dirundung awan-awan abu.
Kudengar ia terus berbicara tentang kepindahannya. Perlahan, aku melihat hujan di matanya. Dan, satu kalimat yang membuatnya berhasil membunuhku; tak ada yang lebih ia rindukan kecuali kekonyolan, hal tidak penting nan sederhana, kejadian-kejadian kecil dan rutinitas bersama orang-orang di sekitarnya dibanding apapun.
Aku pernah berada di tempatnya. Duduk di antara orang-orang, melagukan sajak-sajak perpisahan. Menghibur orang-orang yang akan ditinggalkan. Kukatakan pada mereka, ini hanya sesaat – pada bintang, kau bisa titipkan rindu; pada hujan, kau bisa selipkan cerita; pada fajar, kau bisa sematkan harapan; pada senja, kau bisa sisipkan kisah; dan, pada purnama, kau bisa patrikan potret kita. Tapi, kita semua menyerah juga pada akhirnya; diremas isak dan gelapnya pejam mata, yang berusaha menahan waktu agar tak terus bergerak dan menjadikan segalanya hanya memori.
Sejak itu, ada dinding hati yang selalu basah oleh kenangan tiap hujan mendera; karena rintiknya terus mencipta ingatan silam yang tak kunjung usai. Menunggu hadir utuh seseorang untuk mewarnai potret hitam putih jadi pelangi, lalu merangkulnya dalam peluk. Gaduhnya masa lalu selalu mengukung, dan aku terus menunggu.
“Katakan padaku, selain ponsel dan surat, apa yang membuat kita terus bersama?”
“Banyak. Bukan ponsel, ruang obrolan atau surat yang menghubungkan kita. Itu semua hanya akan teronggok diam, tanpa kita yang merawat rindu dan menjaga kenang agar cinta tetap ada. Kita keluarga, dan itu lebih dari segalanya.”
This entry was posted in

Saturday, 6 December 2014

Seseorang Ini




Aku ingin mengenalkan padamu seseorang. Aku ingin kamu menebaknya, karena aku tahu, kamu juga mengenalnya. Karena, ia begitu dekat denganmu, mungkin saja sekarang ini ia ada di sebelahmu.
Seseorang ini, adalah orang yang tetap mengangkat teleponmu di larut malam, ketika gelap mulai memucat dan mengembuskan udara dingin. Ia tetap terbangun untuk menemanimu meniti cerita-ceritamu yang terkadang itu-itu saja, kisah-kisahmu yang tidak penting, tapi menjadi penting dan berharga karenanya. Ia memastikanmu tidak sendiri di malam tanpa purnama, karena ia berjanji padamu; akan selalu ada, bahkan ketika dunia bergerak perlahan meninggalkanmu.
Seseorang ini, adalah orang yang melihat hujan di matamu ketika kamu berusaha melengkungkan pelangi di bibirmu. Ketika itu terjadi, ia berusaha untuk membawa matahari ke hadapanmu, mencoba mengusir mendung yang bergelayut di benakmu; sehujan tangis yang tak dilihat ramainya orang-orang. Ia mampu mendengar kata-kata yang tak kamu ucapkan, ia membaca diammu, ia memahami bisumu lebih dari kamu tahu. Dan di akhir, ia memelukmu karena gaduhnya pikiran yang berkecamuk dalam ruang kepalamu.
Seeorang ini, adalah ‘rumah’ kecilmu. Tempat kamu berpulang sejenak karena letih oleh suara-suara yang mampir di telingamu dan membakarmu. Ia membuatmu menjadi dirimu sendiri, tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain. Kamu menjadi nyaman akan siapa kamu ketika tertawa bersamanya. Tanpa topeng, tanpa polesan yang menutupimu. Kamu apa adanya; yang gila, yang aneh, yang berbeda. Tapi itu adalah kamu, uniknya kamu ketika menghabiskan waktu dengannya. Ia seperti perapian hangat di rumah yang ditimbuni berlapis-lapis salju Desember.
Seseorang ini, adalah orang yang pernah mengatakan padamu; “…mungkin aku tidak bisa menyelesaikan masalah yang kamu punyai sekarang, tapi aku pastikan kamu tak akan menghadapi masalah itu sendiri.” Maybe, I can’t solve your problem, but I make sure you won’t face them alone. Lalu, kamu terisak. Sebab kamu tahu, kamu tak pernah sendiri, ada ia yang tak akan letih terus menemani; dalam waktu suka-duka yang silih berganti. Ada cinta darinya yang selamanya terpatri.
Seeorang ini, adalah orang yang padanya aku ingin berterima kasih. Ia yang mengajariku cara menderai tawa, merangkai tangis menjadi kenang berarti, menapaki hari-hari, dan memulai perjalanan panjang. Ia tidak pernah berdiri di depanku dan mengangkat dirinya sebagai pemimpin. Ia tidak juga bersembunyi di belakangku dan menjelma pengekorku. Ia selalu berdiri di sampingku, mengamit tanganku dan merangkulku penuh hangat. Kau tentu tahu, ia siapa.
Seseorang ini, adalah ia yang tak pernah kamu sangka akan menjadi sedekat dan seberarti itu dalam hidupmu. Hingga kamu merasa, tak apa menukar seribu teman yang kamu punya sekarang hanya untuk seseorang ini.
Seseorang ini, adalah … sahabatmu.

Teruntuk sahabat-sahabatku. Untukku, sahabat berarti dua; orang yang selalu merajut cerita bersamaku setiap harinya dalam waktu-waktu temu. Dan, orang yang, walau bertemu denganku satu atau dua kali saja, hanya dalam temu singkat, tapi ia sudah mampu menawarkan bongkah kebersamaan untuk ruang hati. Sahabat itu adalah, Desy, Mila, Richky, Richard, Florend, Miranda, Mellyna, Fourin, Nonna, Ricky, Ventura, Nyomin Monika, Gabriella Moureen, Claudia, Ronaldo, Wildan dan banyak lainnya yang tak bisa kusebut hanya sebagai kawan. Mereka adalah sahabat, yang dari tiap tangan mereka, menggurat warnanya dalam hidupku. Terima kasih.
This entry was posted in