Saturday, 25 August 2018

Nasi Goreng Salty, Pilihan Tasty Buat Kita yang Vegetarian


Sejak dulu, aku selalu suka nasi goreng dan tak pernah bosan. Nasi goreng andalan sekaligus langgananku adalah nasi goreng yang dijual di gerobakan di ujung kompleks rumah. Sajiannya sederhana saja: nasi goreng dengan telur dicampur sayur caisim dan suwiran ayam. Kalau disantap saat malam dan masih dalam keadaan hangat: nikmatnya jadi berkali lipat. Terlebih kalau ditemani es teh manis, membayangkannya saja bikin lapar! Tapi, kebiasaan itu berubah karena sekitar dua atau tiga tahun lalu, aku memutuskan menjadi seorang vegetarian. Aku tak bisa lagi menyantap nasi goreng biasa yang mengandung produk hewani: suwiran ayam, minyak sapi, dan perisa (ayam, sapi, dan lain-lain). Namun, bukan berarti kecintaanku terhadap nasi goreng harus terhenti. Aku pun mulai berburu nasi goreng vegetarian yang tersedia di kotaku, Tangerang. Dan, aku menemukannya! Di sebuah resto vegetarian sederhana di pinggir kota Tangerang, Visual Veggie House, ada tujuh menu nasgor vegetarian yang tersedia. Namun, yang bikin nagih di sini adalah Nasi Goreng Salty!
Penampakan Nasi Goreng Salty yang Kupesan di Visual Veggie House
Wangi Bumbu Xiang Chun

Tantangan memasak nasgor vegetarian ada pada cita rasanya. Kenapa? Karena masakan vegetarian wajib menghindari semua jenis bawang, bumbu dapur berperisa hewani, dan tentunya: minyak babi dan sapi. Sepintas, kita pasti mengira rasanya tidak akan enak tanpa semua itu. Namun, Nasi Goreng Salty berhasil membuktikan kalau kita salah.

Nasi Goreng Salty dimasak dengan penyedap rasa Xiang Chun yang khas. Bumbu penyedap ini terbuat dari paduan minyak nabati dengan daun cina Xiang Chun yang harum. Sehingga, enggak heran kalau Nasi Goreng Salty punya bau wangi nan unik. Soalnya bumbu Xiang Chun memang diracik dari bahan-bahan alami: kedelai, daun Toona Xiang Chun, hingga wijen. Komposisi itu juga yang memberi bintik dan warna kehijauan untuk tiap butir nasi gorengnya, sehingga tampilan Nasi Goreng Salty beda dari yang lain!
Wangi Bumbu Xiang Chun yang Khas Di Kalangan Vegetarian
Topping Variatif Nan Favorit

Kalau makan nasi goreng enggak akan lengkap kalau enggak ada topping-nya. Nasi Goreng Salty yang memang dihidangkan tanpa kecap, menyuguhkan campuran topping yang variatif: telur, cah taoge, cabai merah, dan potongan daging ikan asin vegetarian. Tak lupa juga irisan tomat dan timun sebagai pelengkap. Semua topping itu dengan perhitungan yang sesuai, disatukan dalam sepiring Nasi Goreng Salty. Dan, dari keseluruhan topping, tentunya yang paling kusuka adalah potongan daging ikan asin vegetariannya.

Potongan daging ikan asin vegetarian itu tak hanya topping kunci yang memberi Nasi Goreng Salty lebih tasty, tapi juga dimasak dengan cerdas. Soalnya daging ikan asin ini dipotong panjang, dengan pinggiran yang digoreng gurih tanpa menghilangkan rasa asin pas dagingnya di sisi tengah. Ada sensai ‘kriuk-kriuk’ renyah, namun juga berdaging. Jadi, bisa kita bayangkan sendiri ketika menyendoknya bersama campuran topping lainnya: rasanya luar biasa! Aku sering menyisakan potongan-potongan daging ikan asing vegetarian di Nasi Goreng Salty ini sebagai topping yang save the best for last, hehehe.
Toppingnya banyak dan enyak!

Ditambah Kerupuk Kulit Nori

Kerupuk dan nasi goreng adalah dua varian makanan yang enggak terpisahkan. Ada yang bilang kalau makan nasi goreng tanpa kerupuk itu kayak bakso tanpa kuah gurihnya: enggak afdol! Sayangnya, sebagai vegetarian, aku enggak bisa lagi asal sambar kerupuk karena umumnya kerupuk dibuat dari sari udang dan bawang. Tapi, aku enggak khawatir. Soalnya Nasi Goreng Salty juga disajikan dengan banyak pilihan kerupuk vegetarian, lho. Di Visual Veggie House, sudah disediakan keranjang kerupuk yang bisa kita comot sesuai selera untuk menemani hidangan Nasi Goreng Salty.
Kalau rekomendasiku adalah kerupuk kulit nori! Kerupuk ini digoreng dengan tepung kentang dan rumput laut nori sebagai cita rasa utamanya. Jadi kalau kita lihat di foto, bagian hitam-hitam di kerupuk itu adalah rumput laut nori. Rasanya? Jangan ditanya lagi! Renyah, gurih, garing, enyak, super!
Paduan Surga Kerupuk Nori x Nasgor Salty
Nah, buat kita seorang vegetarian, pecinta nasi goreng, dan penggemar rasa yang enggak melulu itu-itu saja, bisa langsung meluncur buat nyobain Nasi Goreng Salty-nya. Sssst, jangan lupa ajak aku juga yah! Aku senang menemani dan menerima traktiran makan Nasi Goreng Salty, hahaha!

My Food Lover Tips: Nasi Goreng Salty di Visual Veggie House ini punya dua varian masakan yaitu varian Ricchie dan Vegan. Kalau Richie itu, nasgor Salty vegetarian-nya dimasak dengan telur. Kalau Vegan, akan dimasak tanpa telur. Jadi pilih yang sesuai dengan gaya hidup hijau kita yah!
Oh ya, ini #NasiGorengDiKotaku, bagaimana cerita nasi goreng di kotamu?

Cara dapetin Nasi Goreng Salty, dateng aja ke:
Visual Veggie House
Suka Asih, Jl. Taman Makam Pahlawan Taruna No.2, Sukaasih, Kec. Tangerang, Kota Tangerang, Banten 15118



This entry was posted in

Friday, 24 August 2018

Catatan Panjang Tentang Christopher Robin


Sekitar tiga hari yang lalu, aku menonton Christopher Robin, setelah menunggu sepanjang Agustus untuk tayang di Indonesia. Aku kecil selalu suka dengan Pooh; aku ingat ketika aku menggambari Pooh yang gendut dengan toples madunya, lalu menggandakannya banyak-banyak di tukang foto kopi untuk kujadikan buku mewarnai karyaku versi Winnie The Pooh - disamping Peter Rabbit tentunya. Lalu, memilih sprei bercetakkan kepala Pooh yang besar-besar, serta kotak bekal yang memuat potret Pooh dan kawan-kawan yang piknik di hutan. Salah satu boneka yang kukoleksi pun berasal dari serial Pooh, aku tidur bersama Tigger (ssst, T I double guh err. That speels Tigger! Hahaha).
"It always a sunny day when Christopher Robin comes to play."
sumber foto: crofficial
Maka, menyaksikan kembali Robin dan Pooh seperti membawa diriku jalan-jalan kembali ketika aku masih kecil – ketika tidak melakukan apa-apa bukanlah hal yang berdosa. Itu terasa saat Robin akan pergi dan Robin kecil berharap ia bisa berharap untuk tetap tidak melakukan apa-apa, namun ia tidak bisa. Lalu, Pooh dengan polosnya mendukungnya dan mengatakan kalimat yang menarik:  “Doing nothing often leads to the very best kind of something”. Hampir setiap hari kau dan aku mungkin merasa harus melakukan sesuatu apapun itu – agar produktif, agar bermakna, agar tidak sia-sia, dan lain-lain. Lantas aku terdiam dan teringat, tulisan-tulisan terbaikku justru  bermula ketika aku tak bersusah payah mencari idenya – aku hanya butuh diam, merilekskan diri, membuat diri nyaman tanpa memberi tenggat. Aku pun sampai pada pemahaman: kau hanya butuh sesekali diam mengenali diri sendiri tanpa pretensi apa-apa.
What should happen if you forget about me, Christopher Robin?
sumber foto: cr trailer
Kembali soal film, petualangan dimulai ketika Robin dewasa memutuskan membantu Pooh untuk mencari teman-temannya (Piglet, Tiger, Eeyore, dkk) yang hilang. Buatku ada satu adegan yang membuatku hampir menitikkan air mata di sini – ketika Pooh tidak bisa membaca kompas dengan baik, dan mengacaukan semuanya. Lalu, tanpa sengaja membuat koper berisi dokumen penting milik Robin dewasa tercecer kemana-mana. Robin dewasa membentak dan mencaci maki Pooh sebagai beruang pandir, tidak tahu apa-apa, dan tidak tahu sepenting apa isi kopernya. Robin dewasa tidak paham mengapa Pooh bisa begitu bodohnya menganggap dunia ini sebatas dan seindah balon dan toples madu. Sedangkan Pooh pun tidak paham mengapa Robin menganggap dunia ini digantung pada koper berisi dokumen yang dibawa kemana-mana.
“Christopher Robin: There’s more to life than balloons and honey!
Pooh: (doubtfully) Are you sure?” 
Adegan favoritku jatuh pada bagian terakhir film. Diisi percakapan antara Robin dewasa dan Pooh. Ini percakapan yang akan tertanam lama di kepalaku. Pooh bertanya pada Robin dewasa ‘hari apa sekarang?’ Alih-alih menjawab nama hari lengkap dengan jamnya, Robin dewasa menyahut ‘It’s today – hari ini’. Pooh semringah dan berkata, ‘Aku suka hari ini. Sulit bagiku ketika hari ini adalah hari esok’. Aku hampir menangis setelahnya. Dialog ini benar-benar menampar. Pernahkah kita menjalani hari ini sebenar-benarnya hari ini, tanpa mengkhawatirkan hari esok?
“If you live to be a 100, I want to live to be a 100 minus one day so I never have to live without you.”
sumber foto: tyrantgeek
Kita kerap melalui hari ini dengan bekerja keras dan belajar giat bukan demi menjalani hari ini, tapi untuk hari esok, demi masa depan. Lalu mengeluh tiap harinya semakin berat. Lantas lupa, sesungguhnya segalanya akan lebih ringan ketika semua hal dijalani hari ini dinikmati secara sadar dan hadir penuh untuk hari ini. Kita sudah lama sekali menjadikan hari ini adalah hari esok. Masa kini adalah masa depan. Padahal, kebahagiaan itu adalah hari ini dan sekarang. Izinkan aku mengutip dialog antara Robin dan Evelyn, istrinya ketika mereka berdebat mengenai Robin yang tidak bisa ikut liburan akhir pekan. Saat itu, Robin berkilah jika ia bekerja untuk kehidupan yang nanti lebih baik untuk keluarga mereka, sedangkan Evelyn berkata kehidupan mereka adalah sekarang tepat di depan mata Robin. Bukan nanti-nanti. 
Evelyn: You won’t be coming to the cottage?Christopher Robin: It can’t be helped. Evelyn: Your life is happening now, right in front of you!
Sampai di sini mungkin akan ada banyak yang mendebat, hidup memang tak sesederhana yang dipandang anak kecil. Saat itu, aku hanya ingin menyahut kecil, sayang, kita hanya lupa jika hidup dan kebahagiaan itu memang sederhana. Kita lupa semenjak kita beranjak dewasa.
“How lucky I am to have something that makes saying goodbye so hard.”
Goodbye, Christopher Robin...
sumber foto: crofficial
Catatan:
Aku menulis ini seraya mendengar Home, Should I Think yang dibawakan Carter Burwell. Itu musik yang pas untuk menemani kita menikmati tulisan ini. Semoga suka! Ah ya, sesungguhnya dari sisi ide cerita, aku lebih suka COCO, lebih segar dan baru. Sementara Christopher Robin masih mengangkat konflik umum antara orang tua yang sibuk dan anaknya. Tapi, buat kita yang butuh mengambil napas sejenak dan mengizinkan anak kecil dalam diri kita keluar untuk bermain, Christopher Robin termasuk film yang menurutku: must watch! Dan, aku suka sekali bagaimana Pooh menyebut dan memanggil 'Christopher Robin', ikonik - jempol buat pengisi suaranya. 

Thursday, 23 August 2018

Pergi Bermain dengan Teman yang Hanya Bisa Kau dan Aku Lihat


Kita masih mengelilingi kota seusai menonton film yang kubilang berhasil mengajak anak kecil dalam diriku untuk keluar dan bermain. Jalanan lenggang, di pinggiran hanya tersisa satu-dua gerobak jajanan pasar berlampu minyak yang masih menyala. Pintu-pintu pertokoan tertutup rapat, digantungi sampah plastik yang berusaha diraih kucing-kucing jalanan yang masih kelaparan. Aku membungkus pandanganku dan mengalihkannya pada kau yang masih menyetir. Bagaimana kau saat kanak-kanak?
sumber foto: Favim.com

Kau melirikku dari sudut mata. Tak menjawab. Kau hanya menepi ke arah gerobak yang menjual telur gulung. Kita turun. Kau memesan dua porsi dan aku menarik bangku plastik yang ditumpuk dua. Kita duduk menghadap sebuah gedung kuliner yang tubuh putihnya mengelupas dan papan-papan nama restorannya menghitam.
“Aku saat kanak-kanak? Bertanya kenapa bulan mengikuti kemana pun aku pergi. Kenapa pohon-pohon di pinggir jalan tampak berlari ke belakang tiap kali mobil yang kutumpangi melaju cepat. Bangun pagi di hari Minggu demi kartun-kartun subuh, sebelum kemudian tertidur kembali jelang makan siang. Mengupil dan menempeli tumpukan upil ke baju mama. Mengisi kardus kosong hingga cukup kuat untuk kulompati sebagai superman. Menyukai dongeng tentang kelinci yang suka buang besar dan kotornya menggunung. Menjahili anjing tetangga. Bagaimana denganmu?”
Kau tertawa kecil. Lalu beranjak mengambil dua porsi telur gulung hangat yang sudah selesai. Kau celupi dengan saos cabai  yang banyak. Cerita kau mengingatkanku pada aku kecil dulu dan aku sekarang – ada jarak yang begitu jauh dan waktu yang tampak lama hingga aku merasa asing pada diri sendiri.

Aku mengoleksi ratusan boneka, percaya mereka semua hidup. Dan, aku berbicara pada mereka. Aku mengumpulkan daun kering, memetik bunga liar, dan mengambil sisa-sisa sayuran tak terpakai, meraciknya jadi makanan lezat bak tukang nasi langganan. Aku jajan banyak cemilan hanya untuk mengumpulkan kartu-kartu hadiah. Aku menggambar tokoh-tokoh kartun dan menggandakannya di tukang fotokopi, menjilidnya jadi buku mewarnai. Aku –

“...melakukan hal-hal yang bisa kau tebak, tak bisa lagi kulakukan sekarang.”

Dadaku sesak. Kau meraih tanganku.


“Kau tahu bagian apa yang paling kusuka dari Christopher Robin?
Aku menggeleng.
“Percakapan Robin dengan Pooh di akhir cerita. Ketika Pooh bertanya, ‘ini hari apa?', dan Robin berpikir sejenak sebelum menjawab, ‘hari ini, Pooh’. Lalu, Pooh semringah, ‘Aku suka hari ini, karena sulit bagiku ketika hari ini adalah hari esok’.”
Kau menghabiskan tusuk terakhir telur gulungmu. 
“Percakapan itu seakan bicara padamu, hal terbaik ketika menjalani hari adalah kau menjalani hari ini tanpa berpikir soal hari esok. Kau hadir sepenuhnya sekarang. Kupikir itu yang dilakukan setiap hari oleh anak-anak. Dan, salah satu yang masih bisa kau dan aku lakukan.”
Malam itu, kau dan aku tidak pulang. Lupa hari itu hari apa selain hari itu sendiri. Kita sepakat jadi anak-anak yang membohongi mama-papa akan segera tidur, tapi ketika sakelar lampu dimatikan, kita menyibak selimut dan melompati jendela kamar untuk mulai bertualang bersama teman yang hanya bisa kau dan aku lihat.

This entry was posted in