Sunday, 23 August 2015

Catatan Panjang tentang Apa yang Mereka Sebut Cinta


Aku tak pernah bercerita panjang lebar tentang hal-hal seperti ini – tapi ini malam Minggu, baiklah katakan saja ini Sabtu malam; dan topik ini kerap mengusikku. Lantaran tiap malam-malam seperti inilah, risau hati melayap ke mana-mana. Dan, sesungguhnya ada cita-cita yang lebih penting menunggu kita untuk berupaya.
Dulu, seorang teman pernah datang padaku dan menyindirku dengan kata ‘kuper’ (baca: kurang pergaulan). Ini mungkin terjadi karena sepanjang hari di sekolah yang dilihatnya adalah aku membawa buku RPUL (rangkuman pengetahuan umum lengkap) ke mana-mana, saat itu aku ingat – aku mempelajari nama-nama ibu kota, serta masih mencoba mengenali kepulauan Indonesia dari peta.
Selanjutnya, ia jumpalitan dari satu kelompok ke kelompok lain membincangkan perihal cinta – yang kala itu, sedang tren hal-hal seperti: kalau-elo-pacaran, berarti-elo-sudah-dewasa. Percayalah, aku sangat kesal – dan ingin membalaskan dendam kesumat ala anak-anak; bisakah kita lupakan saja kalimat yang ini? Menit itu juga, aku bertanya padanya di mana ibu kota Peru, dan memintanya menunjukkan padaku letak pulau Jawa di peta. Ia hanya diam, menggeleng tidak tahu – lalu mengapa kamu tidak menarik lengan lelakimu ke hadapanku untuk menjawabnya?  
Aku terdiam – jadi siapa yang kuper sekarang (?) – aku seperti melihat seorang penggemar fanatik sepak bola tapi tidak bisa menjelaskan apa itu offside.
Dan beberapa bulan lalu saat aku menaiki angkutan umum, aku mencuri dengar percakapan siswi SMP – mereka membahas tentang kriteria suami masa depan; ingin yang humoris, pengertian, dan lain-lain. Saat itu, ingin sekali aku melepas masker penutup hidungku dan menceritakan seuntai kisahku pada mereka seperti ini:
“Aku pernah bertemu lelaki yang kuajak mengobrol tentang bagaimana pemanasan global semakin terdengar mengerikan, dan lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, lalu lelaki itu menjawab seperti; aku tidak peduli, yang hanya aku pikirkan adalah kita.”
“Bagaimana kamu bisa tidak peduli? Munculnya tren Post-Apocalypse yang diangkat menjadi tema berbagi karya fiksi, bukanlah sekadar khayalan semata dan imajinasi biasa dari para seniman. Keterjebakan sebuah kehidupan di antara distopia dan utopia yang tergambar dalam karya teranyar Lois Lowry, The Giver, bukan main-main. Ironi mesin otomat hijau yang dicontohkan Gaarder dalam karya barunya, Dunia Anna bukanlah lelucon. Ini berangkat dari kegelisahan dunia mengenai Bumi yang semakin menua, dan tingkah manusia yang lupa di mana sesungguhnya ia berumah. Kalau pemanasan global benar-benar memakan habis Bumi, coba katakan padaku di mana kamu akan mengajakku berkencan?”
“Akan kubawa kita ke ujung dunia, yang hanya kita berdua, kita bisa ke Mars.”
“Kebetulan pendaftaran untuk menghuni Mars sudah dibuka, mengapa tidak kamu saja bergabung untuk memastikan adanya air dan oksigen yang cukup bagi kita?”
Baiklah lelaki itu terdiam, dan aku masih belum selesai bicara.
 “Nilai tukar rupiah melemah, dampak yang sangat terasa adalah meningkatnya harga bahan baku yang kita impor. Apa artinya kalau bahan baku naik? Bahan-bahan lain yang memanfaatkan bahan dasar terseut akan ikut naik. Terjadi inflasi, ujung-ujungnya rakyat yang juga adalah kita berdua – kamu dan aku, ikut terkena. Kalau sudah begitu, coba jelaskan padaku pengeluaran kita yang akan meningkat tiap kali jalan untuk makan dan menonton bersama? Masalah rupiah memiliki dampak kontinu dan domino yang sangat besar, lalu kamu masih berpikir untuk hidup dengan makan cinta.”
Aku berharap mereka paham jika kamu tak bisa mendapatkan Pangeran William hanya dengan terus memikirkannya dan menggalaukannya, kamu harus menjadi seorang Kate Middleton untuk itu. Saat menulis novel Shooting Star, aku menolak ajakan kawan-kawanku untuk menonton film keluaran terbaru di akhir pekan, karena aku tahu ada naskah yang memanggil-manggilku, dan aku punya impian yang sempat diremehkan untuk kuraih. Ketika menulis artikel feature mengenai MEA yang memenangi juara dua menulis  feature antar-universitas, aku meredam godaan status-status media sosial yang memamerkan kemesraan jalan berdua dengan sepasang kekasih. Dan lain-lainnya, yang karenanya aku kerap dianggap akan menjadi jomlo sejati. Tapi aku memahami; aku menolak pesta hari ini, karena aku akan memiliki pesta yang ditujukan untuk merayakanku nanti.
Aku rasa kita hanya lupa pada kisah sejati Cinderella, ia tidak pernah berharap ada pangeran melawan naga yang akan meminangnya ke istana lewat sepatu kaca, ia hanya fokus pada kebaikan hatinya dan keajaiban itu datang dengan sendirinya. Izinkan aku meminjam sebaris kutipan teramat sederhana dari Mario Teguh yang mengatakan bahwa cinta yang berkualitas datang pada ia yang berusaha meningkatkan kualitas diri.  Kawan, Kitab Penyatuan Jodoh itu ada, dan Tuhan memegangnya sekarang – kita tak perlu takut, kisah kita akan ditulis Tuhan dan itu lebih sempurna dibanding yang dikarang oleh manusia.
Aku – kita – pasti setuju, tak ingin menghabiskan waktu kita – yang merupakan investasi sangat berharga yang kita punya – hanya untuk mengkhawatirkan ‘mengapa dia enggak balas chat gue ya?’. ‘sialan, kok cuma di-read doang sih?’, ‘duh, dia pasti lagi jalan sama cewek lain dan gue dilupain’, ‘kok dia engga ajak gue jalan ya?’, ‘udah makan belum, Ndut?’, ‘kamu tidur duluan deh, Cayank’, ‘jemput dong!’ dan sebagai-sebagainya. Kita butuh memahami – dan seseorang yang mengerti – bahwa mengejar mimpi bukan berarti tidak akan menikah serta meninggalkan cinta, melainkan berusaha menghidupi cinta itu sendiri.
“Bagaimana kita bisa memastikan ia yang mengklaim dirinya cinta sejati itu tidak main-main? Serta yang mudahnya mengajak kamu tidur itu tidak menganggap seks sebagai olahraga favoritnya? Ada hal-hal lebih besar dari sekadar perkara hati yang tak kunjung mendapat tambatan dan diancami perawan-perjaka tua.”
Lalu, air mata yang kerap diturunkan untuk seseorang yang terkadang kita anggap adalah yang lahir untuk mencintai kita (padahal belum tentu iya, karena kita menilainya masih dengan kaca mata merah muda; belum sepenuhnya imbang) – sesungguhnya itu tetes-tetes yang lebih dibutuhkan bagi mereka yang menjadi korban bom Bangkok, tragedi Trigana Air, pengungsi Rohingya, dan berbagai hal lainnya. Air matamu sangat berharga dan bisa disulap jadi bulir doa untuk mereka, ketimbang tumpah untuk ia yang tidak memahami seberapa besar kesedihan menawanmu atas cinta ia yang setengah-setengah.
Apakah kamu percaya padaku– jika cinta tidak datang terlalu cepat atau terlambat, ia akan memelukmu tepat pada waktunya. So, if everything has already written, why we worry?
Dan, cinta yang dewasa adalah yang tidak berpikir dunia hanya milik kita berdua. Ada Tuhan, keluarga, dan sahabat yang mengajarkan kita sejatinya cinta hingga kita mampu mencintai seseorang. Jangan pula kita katakan, kita tidak akan bisa hidup bahagia tanpa si dia. Hey, sebelum ‘si dia’ datang, apakah kamu tak pernah sekalipun bahagia dalam hidupmu? Ketika kamu dibelikan mainan favorit, bolos bersama teman sepermainanmu, dan doa-doa yang dikabulkan Tuhan?
“Ver, tapi kamu sering ngegalau tuh!”
“Hehehe, itu sih memang hobi dan kerjaanku.” (aku pun ditabok ramai-ramai)
Sssst, sesungguhnya prinsip aku sangat sederhana; cinta ditolak, karya bertindak. Galau berkicau, karya menghalau.
Dan satu lagi, aku mencintaimu. Semoga kita akan bertemu dan terikat dalam cinta yang hakiki, yang beriman pada kasih sayang, yang hangatnya bagai rumah.

This entry was posted in

Saturday, 22 August 2015

Pelajaran Tentang Cara Melupakan (Aku) dengan Baik dan Benar


“And, i feel you forget me like i used to feel you breathe.” – Swift, Taylor
Sudah episode ke empat, aku akan bertanya hal yang sering kubisikan padamu; apakah sudah bosan, lelah, atau mungkin muak? Kamu selalu punya kesempatan untuk mencaci-makiku, memukulku, meninjuku, atau menghajarku karenanya. Tapi aku berani bertaruh itu tidak menyelesaikan masalah, aku menawarkan pilihan lain; kamu bisa mencoba melupakanku, seperti yang mungkin sempat terlintas di benakmu. Kalau begitu, bisa aku membantumu?
 Salah seorang sahabat jauhku pernah mengatakan, kita tidak pernah bisa benar-benar melupakan seseorang, kecuali ada benturan keras atau kecelakaan parah yang menyebabkan otak kita kehilangan ingatannya. Cara terbaik adalah bukan melupakan, tapi merelakan; yang berarti pelan-pelan melepaskan dan menerima jika aku hanya membuatmu lelah, dan menambah masalah.
“When i try to forget you, i just keep on remembering.”’ – Lavigne, Avril Ramona
Ada lagi, seniorku datang padaku dan bercerita ihwal melupakan. Pendapatnya sama, kita tidak mungkin bisa menghilangkan atau melenyapkan seseorang dari ingatan kita. Bahkan, orang yang sepintas lewat saja – semisal perempuan cantik nan menarik yang tak kita kenal – bisa kita ingat terus-menerus, bagaimana dengan orang yang setidaknya pernah menjadi bagian dari hidup kita? Saran yang ia berikan adalah, meletakkan seseorang yang ingin kita lupakan di bagian ruang hati kita yang lain. Biliknya ditutup, kuncinya dibuang. Biarkan saja orang itu beserta seluruh kenangannya tersimpan rapi di sana, menahun, dan izinkan waktu yang perlahan menghapusnya. Karena, perihal melupakan bukanlah benar-benar tidak ingat lagi memori tentang seseorang itu. Kita tetap menjaganya, hanya saja itu tidak lagi mempengaruhi perasaan kita.
Apakah masih tidak berhasil? Biar kuuraikan lewat salah satu teori psikologi mengenai melupakan. Kamu tidak bisa fokus pada seseorang itu saat sedang ingin melupakan, yang harus kamu perhatikan adalah dirimu sendiri. Sebab ini tentang menyembuhkan diri dari orang yang hanya menyakiti dan membebanimu seperti aku padamu. Atau, kamu bisa mencoba melupakan jika kamu tengah melupakan itu sendiri.
Selamat melupakan aku, semoga berhasil – walau sesungguhnya, ketiganya pernah kulakukan dan sama sekali tidak mendatangkan hasil yang berarti, kecuali keadaan seperti; berkali-kali aku mencoba melupakanmu, adalah sesering itu juga aku kembali ditarik padamu. Mungkin alasannya akan terdengar manis; karena kamu terlalu istimewa untuk dilupakan – sebab jika ini kesalahan dan ilusi, aku akan menjawab, ini kesalahan terbaik dan ilusi terindah yang pernah kulakukan.
Dari perempuan yang sedang berusaha menepati janji untuk tidak berubah.

Dongeng-dongeng yang Mati


Ada sepotong lagu cinta yang bermain di waktu menjelang tengah malam, aku berpikir itu tengah menertawakan kita yang seperti ia; lantunannya manis, tapi hanya sementara. Aku gemetar, mengaku kalah oleh langkah awal kenangan. Lalu, tatapanku membentur dinding yang di atasnya tergantung secarik robekan kertas kecil, isinya adalah tulisan tanganku yang sederhana berspidol hitam; ‘...kamu adalah yang menjelma bayang pada malam aku memejamkan mata, dan yang teringat ketika pagi aku terjaga’. Rasanya dadaku menyeri, membawaku pada tiap tarikan nafas yang penuh sesak. Kamu pernah bilang padaku, memori kita terlampau singkat – mungkin itu menjelaskan bahwa ia tidak terlalu kuat untuk mengantarmu mengingatku. Sedang aku di sini, masih saja dungu merasakan ini semua terlalu nyata. Sampai perlahan-lahan selama empat puluh empat hari, semesta menampakkan padaku, menyimpan luka akanmu secara sembunyi-sembunyi ternyata lebih menyakiti dibanding mencintaimu diam-diam.
 Jika kamu ingin tahu hasilnya memendam rindu yang akhirnya membangkaikan diri jadi kubang darah, aku akan memberitahumu. Kira-kira seperti ini muaranya; aku jadi orang yang berbeda. Dongeng-dongengku mati, cerita-ceritaku terlalu lama menunggumu di penghujung malam untuk dikisahkan bersama segelas susu cokelat dan taburan gemintang rekata, hingga ia lama-lama terbunuh karena tak kunjung tidur walau diserang kantuk. Dan kamu tak pernaah datang. Semenjak itu, aku tak lagi mendongeng, aktivitas itu berganti jadi agenda menenangkan risau hati yang menangis sendiri. Kubiarkan juga boneka-boneka berjenggot yang kerap kupeluk sepanjang hari untuk menemani khayalan-khayalanku, teronggok di sudut kasur dimakan dinginnya laluan waktu. Kamu berhasil membunuh anak kecil (yang selama ini kujaga dan kupelihara) dalam diriku, terima kasih. Kemudian, aku menyingkirkan note-note berbagai warna koleksiku yang tercecer di meja belajarku yang bak kapal pecah. Aku berhenti menulis ungkapan singkat atau puisi kecil, aku sengaja menerima sejumlah proyek kepenulisan lain yang menyita waktuku agar bisa menghindari bayanganmu yang jadi hantu. Lain-lain, aku tidak juga lagi tergantung pada es krim untuk bahagia, pada langit yang berganti-ganti cuaca untuk menitipkan rindu, pada buku-buku tua seriusku untuk membunuh waktu. Aku telah berubah, mereka bilang aku mati rasa – mungkin karena terlalu banyak lebam yang sudah membiru serta luka basah yang tak hendak mengering, aku remuk dan tak lagi benar-benar hidup. Aku menggeleng padanya seraya tersenyum letih, tak ada hal membahayakan yang terjadi padaku kecuali ... aku sudah lupa caranya mencintai.
Diikuti aku yang tak paham lagi caranya tersenyum lepas dan bahagia bebas. Aku hanya berjalan dihidupi tenggat-tenggat waktu proyekku, serta bergerak oleh tegakan warna-warni rasa obatku.
Lagi-lagi, mereka kerap menudingku putus asa. Sekali kukatakan, aku hanya sedang terluka begitu dalam, setidaknya itu menunjukkan betapa aku sudah berusaha melakukan hal terbaik yang bisa kuperbuat terhadap perasaan; mencintaimu seutuhnya. Dan, aku percaya, air mata yang jatuh tak pernah sia-sia.
“...kamu tak harus banyak bergerak, sewajarnya kamu dicintai bukan mencintai.”
“...jika kamu pernah bilang rasa ini adalah puisi, berarti ia kemungkinan terbakar di tiap halamannya. Kamu akan terbunuh jika tidak cepat-cepat menyelamatkan diri.”
Ah, apa lagi kira-kira yang mereka sarankan padaku – dan aku hampir menganggapnya bagai hiasan angin lalu. Sebab, sejak awal aku sudah memulai prolog kisah kita dengan kalimat; ‘...seperti inilah cara cinta bekerja; berteman akrab dengan luka’.Aku berharap suatu saat nanti akan sembuh.
Dari perempuan yang sesungguhnya masih bersembunyi pada salah satu bintang yang tertinggal di pucatnya langit malam ini.

Friday, 21 August 2015

Yang Tak (Kamu) Tahu


“...ketika cinta terbata-bata kubaca
aku perlu segera bertanya-tanya
atau mencari padanannya dalam kamus
hingga benih yang mengada tak segera pupus
lantaran sejatinya cuma soal sinyal
yang lebih sering datang dengan nada janggal...”
– kumpulan sajak Ibnu Wahyudi, Ketika Cinta
Kamu percaya pertanda? Dewi Lestari dalam Recto Verso-nya yang indah, menyebut pertanda sebagai cara alam berbahasa – aku menyetujuinya, dan kurasa, itu juga usaha semesta menyampaikan kabar selain melalui kata-kata. Acap kali manusia kerap menirunya, lewat kode dan morse. Atau, bisa juga tampak dari kolaborasi dunia dan kita, yang dalam hal ini, kamu mengambil lakon utama – untuk pementasan bertemakan selamat tinggal.
Aku menangkapnya dari kebisuan panjang empat puluh empat hari kita; yang dihuni subur oleh diam, dan sedikit prasangka-prasangka yang melelahkan. Hari-hari lama – yang harusnya tidak kubincangkan lagi, sebab yang lalu biarlah diletakkan di belakang; tapi ini berbeda. Dan aku tak ingin membiarkanmu terperangkap dalam ketidaktahuan lagi. Sudah terlalu banyak ‘apakah kamu ingat’ dan ‘kamu lupa lagi’ yang tumbuh subur sampai hari ini. Kamu memegang alasan, teramat desak ingatan lain yang harus kamu simpan, namun, aku bisa mengajakmu duduk di sampingku sekarang ini untuk menjelaskan mengenai membran-membran otak, serta kemampuan kepala manusia yang begitu ajaibnya menyimpan bergudang-gudang memori. Jangan gunakan alasan aku yang hidup di masa lalu dan kamu seorang peraih hari depan untuk menyalahi kenangan yang terlupa – karena kita tidak memiliki sejarah atau pun esok hari, kecuali saat ini.
Sesak. Kita - kamu - tak tahu, terjaganya aku sepanjang siang karena tablet-tablet yang kutelan di subuhnya – bahkan sebelum bulir air embun jatuh dari ujung daun. Lain lagi, bebasnya aku bermain-main di lobi-lobi karena beberapa genggam kaplet yang kusimpan dalam saku celana jeansku – yang akan kutegak untuk memastikan tubuhku tidak bertingkah ‘rewel’ dan mampu berjalan selayaknya orang pada umpamanya. Selama obat-obat itu menyetubuhi darahku, satu-satunya yang menyuntikkan hari-hariku agar jiwaku tetap hidup – tak hanya badan kurusku – adalah menerima pekerjaan sebagai kuli kata-kata, yang menjajakan cerita, dan menjual kenangan kita pada mereka yang ingin menyiarkannya pada orang-orang yang mencari luka dalam cinta. Sampai di tulisan ini, kita simpulkan, seseorang bisa bersembunyi di balik ‘hahaha’, di antara ‘baik-baik saja’, di dalam ‘gue engak kenapa-napa’, di sebuah senyum sederhana, hanya untuk menjaga bendungan air mata. Buktinya aku berhasil melakukannya – dan hingga sekarang kamu masih saja memintaku memahami lupa-lupamu.
Kelupaanmu, adalah pertanda sederhana aku tak terlalu penting menjadi penghuni ingatan ruang kepalamu – yang berharga itu. Mereka bilang, mungkin aku kurang kerjaan; mengingat rincian kecil seperti kapan pertama kali kamu mengajakku melihat sepotong senja yang wajahnya memar, tepatnya kamu berencana menghampiriku di suatu malam yang menunggu, obrolan singkat penuh kejutan di sebuah kedai teh ketika kamu mengalah untuk tidak jadi ke kafe kopi, dan lain-lainnya. Aku terdengar sialan memang. Tapi, dari kenanganlah aku tumbuh. Aku hidup. Dan, dari target-target di masa depanlah kamu berkembang, kamu hidup.
Kita berbeda, dan cinta (yang setengah-setengah) sama sekali tidak menolong kita.

Empat Puluh Empat Hari



Akhirnya, aku menulis lagi. Kalau kamu punya kebiasaan mencoret angka di penanggalan kalender yang sudah lewat, kamu akan menyadari, sudah satu bulan lebih aku tidak mengisi jurnal ini – dan, empat puluh empat hari kita kehilangan apa kabar.
Maka itu, bolehkah aku memulainya dengan bertanya sederhana; bagaimana keadaanmu yang sekarang? Kudengar kamu mulai menyentuh impianmu, pekerjaanmu datang menderamu tiap waktu dan memenjarakanmu dalam kata ‘sibuk’. Itu sepatah kata yang teramat berbahaya – kamu tak menyadarinya. Ia bisa menjelma jadi benteng beton tak kasat mata yang berkata pada orang-orang termasuk aku untuk tidak mengganggumu. Tidak masalah, aku pun sibuk dan memahami bagaimana terkadang jadwal merantai keseharian kita – tapi bagiku, kamu selalu punya waktuku di daftar pertama setelah Tuhan dan keluargaku. Namun, rasanya kamu punya pilihan lain. Sibuk terlalu meringkusmu hingga kamu benar-benar terjerat lupa; akanku.
Kira-kira seperti ini hasilnya; sapaan kita memudar, tatap kita tak lagi banyak bercerita, senyum kita lampus sudah. Lalu jika sudah begini, pantaskah aku bertanya akan nasib rasa – yang sempat kubilang padamu akan kujaga, asal kamu, setidaknya mampu meyakinkanku akan tetap tinggal? Aku akan senang hati menanti, menurunkan tiap tangan lelaki yang mengajakku berdansa di Sabtu malam sebab aku menunggumu – dan rela menjadi pohon. Tapi, empat puluh empat hari kesempatan itu digelar di hadapan kita dan kamu tak sekalipun menyentuhnya. Sampai akhirnya, terlalu banyak yang asing merasuki kamu, hingga aku tak bisa menghitung ini sudah muram ke berapa yang menyertai ingatanku akanmu. Mungkin, kisah tentang kita sudah akhir pada salah satu hari dalam empat puluh empat hari yang kita tak saling tahu itu.
Aku tidak meletakkan kesalahan di pundakmu. Hanya saja, dua puluh hari pertama ketika kamu pergi dan entah sedang minum apa di bar sana – dalam sebuah pertemuan bisnis yang sangat penting atau liburan yang begitu jauh – adalah titian hari yang begitu buruk bagiku, dan aku butuh kamu untuk kubagi cerita-cerita yang hanya padamu aku kisahkan; namun kamu mungkin tengah berjemur di pantai, merancang strategi masa depan, menikmati pemandangan malam yang bermahkotakan lampu-lampu berwarna dan lainnya. Lantas, aku di sini belajar hidup dikendalikan sejumlah botol obat, menyimpan rahasia-rahasia, dan mencuri waktu untuk menangis sepanjang malam. Nyeri mengetahui aku terbatuk dan ditenggelami sejumlah luka darah tiap mengingat apakah mungkin ada rindu yang berlabuh padamu agar setidaknya bertanya apakah segalanya baik-baik saja; yang nyatanya hanyalah angan-angan yang teronggok sia-sia. Sekarang, dua puluh hari paling siksa itu sudah berhasil aku lewati – sendirian. Sisanya hanya koreng-koreng luka yang berusaha kutambal tanpa dirimu. Dan, kita sudah begitu terlambat.
Beberapa minggu setelahnya aku mendapati kamu semakin maju dan berhasil dalam kerasnya usahamu. Aku tersenyum di depan buku-buku tua yang kubaca untuk menemani hari-hari sakitku. Aku ingat mimpimu untuk memperoleh juara di usia muda, dan aku kerap berdoa kamu segera menjadikannya nyata. Doa itu  (hampir) sukses – kulihat kamu semakin banyak menangani proyek dan datang ke sejumlah event yang tak kukenal - , tapi tak lagi kudapati kamu yang punya segudang waktu untuk mendengar dongeng-dongengku, mengirimkan artikel-artikel seputar hobiku padaku, menyambung ucapanku tentang hal-hal aneh, serta bertukar kabar apakah kamu bahagia hari ini. Aku menyadari satu hal; akhir bahagia dalam telenovela percintaan dan drama melankolis, bukan milik kita.
Setelahnya, aku hidup dengan mencoba mencintai kehilanganku atasmu*.
Walau, sesungguhnya aku sudah terlalu kebas untuk kembali membangun episode tentangmu – sebab kata-kataku sudah lenyap, aku mencarinya di pasar, supermarket, gudang, kafe dan tempat-tempat lainnya, aku tak menemukannya kecuali pada matamu yang tak lagi menyarangkan tatap padaku.
Untukmu, dari perempuan yang pernah berkata, menyelipkan namamu di antara doa-doa terbaikku.

*diambil dari salah satu lirik puisi Aan Mansyur