Wednesday, 18 March 2015

Memorabilia Sepasang Kekasih



“…hanya orang yang paling mencintaimu, yang mampu membunuhmu.” – Orang yang Paling Mencintaimu, Bernard Batubara.
Dan, aku mencintaimu. 
***
Aku berjalan-jalan di bahu jalan kompleks perumahanku ketika malam sudah menyentuh waktu pucatnya. Kueratkan mantel kumal  berwarna merah jambu yang sudah memudar menuju kelabu, tapi aku menyukainya; bukankah begitu cara seseorang mencintai? Kamu tahu mungkin kekasihmu berkali-kali membawa mendung untuk hari-harimu, tapi kamu tetap bertahan dengannya, alasannya sederhana; kamu menyukai hujan. Dan, sebuah hubungan itu dibina dengan berdansa di bawah badai hujan, bukan dengan cara menghindarinya. Jangan salahkan dirimu, aku juga demikian. Kutendang beberapa batu kerikil yang berbaris acak di langkah-langkah depanku, mengira-ngira sudah berapa kali aku harus berjalan sendirian di pertangahan malam, untuk menemuinya.
Kedua tanganku yang mulai gigil, kumasukkan ke dalam saku mantel yang cukup hangat – tapi tanganku tak pernah merasa nyaman di dalamnya, ada sesuatu yang janggal, yang menganggu, yang kerap tersembunyi di balik salah satu saku itu; yang menyengatku. Terlebih ketika lelaki itu sudah membuka pintu kamar apartemennya, menyambutku dengan mata setengah mabuknya. Aku tersenyum; sudah berapa kali kujelaskan padamu, aku memang mencintainya – bau tembakau yang khas di tubuhnya, lengkung senyumnya yang menggoda, mata sayunya yang menjaring, dan pelukan eratnya yang menelanjangiku; sekaligus membuatku tak mampu bernafas.
“Lama menunggu?” kataku akhirnya. Lelaki itu menggeleng, melemparkan tatap matanya yang memikat itu untukku; hanya sayang saja, kadang kala senyum itu tak seutuhnya dan sepenuhnya milikku. Ia menghambur memelukku, selain aroma alkohol yang menyetubuhi sekujur tubuhnya, samar aku membaui aroma lain yang tidak asing di lehernya, itu aroma yang hampir setiap pagi kusiram di atas kulit-kulit tubuhku, tapi lelaki itu masih saja memelukku erat. Terlalu erat, hingga aku bisa merasakan luka dan lebam yang menyisa di beberapa titik tubuhku meraungkan sakitnya; yang kerap kuperoleh darinya.
“Tak pernah ada tunggu yang sia-sia, ketika itu tentangmu,” ujarnya dengan nada berat yang kurindukan. Tangannya yang berkulit kasar mulai menari-nari di antara anak rambutku, menarik gumpalan rambutku ke belakang; memaksaku mendongak ke arahnya. Saat itulah, tanganku mulai menggigil sekali lagi. Dingin. Beku. Wajahku pucat, dan ia tidak peduli.  Seperti yang kulakukan tadi, kumasukkan kedua tanganku ke dalam saku mantelku – yang janggal, yang menyimpan sesuatu.
“Bagaimana jika itu tentang orang lain yang bermalam dan lelap di sini selain aku?” tanyaku, sembari membiarkan bilah benda tajam menari-nari di dalam tubuhnya. Setelah ia selesai mengerang, aku duduk menindih tubuh lelaki itu yang jatuh terkapar di atas lantai dingin apartemen pada pertengahan malam. Tanganku tak lagi dingin, sudah hangat oleh cairan merah yang membasahi telapak hingga punggung tanganku.
“…karena, pada malamnya kita bercinta, lalu paginya aku melahirkan kenangan. Jika lelaki punya permainan, perempuan selalu punya rencana,” bisikku meninggalkannya.
This entry was posted in

Monday, 9 March 2015

Tentang AL

Minggu itu, aku menerima sejumlah pesan bertanda tanya, isinya sama. Menanyakan perihal siapa AL.
Katanya, AL terlalu hidup dalam hari-hariku untuk menjadi sekadar tokoh rekaan. Ada bait cinta yang sengaja dititipkan dalam nama AL, karenanya, banyak yang percaya jika AL bukan orang yang hanya hidup di kepalaku. Lagi-lagi, menurutnya, AL cukup nyata untuk disentuh – oleh kenang, yang mekar dan ranum. Jadi, teka-tekinya masih sama; siapa AL.
Begini saja, akan kukatakan padamu siapa AL, dengan cara yang teramat sederhana. Kamu bisa membayangkannya; mungkin sosoknya, atau setidaknya kamu juga tahu bagaimana bayangnya meningkahi hati yang basah oleh hujan. Karena, ada banyak kunci di sini.
Pertengahan minggu lalu, aku bertemu AL; masih sama dan terus mengulang, ia masih mengenakan malam di tubuhnya - aku akan terus mengulang ini. Agar lebih mudah, kukatakan langit malam yang runtuh itu berarti pakaian hitam, dan pikat malam yang melelapkanmu dalam lantunan pengantar tidur, adalah utuhnya AL. Lalu, tentang mata AL yang meminang bulan; ada tengkar yang terbit di sana, maka itu bulan kerap hanya separuh dan menyisakan aku yang berkecamuk. Remuk; tapi ia tak pernah tahu apa yang melapuk.
Lagi, kini matanya sudah bersarang – bukan di bilik hati, sepasang kacamata berembun, manik mataku maupun ruang memoriku; mata hitamnya membangun rumah di cangkir tehku, pada malam menjelang pagi; hampir pukul dua. Di saat itulah, aku hampir gila.
Jadi, kamu tahu banyak hal tentang AL. Ia yang membuatku hanya mampu berkata; tak ada yang menyisa kecuali menyambutnya pulang*. Ia yang membentuk langkah-langkah getar; yang serupa aspal yang gemeletuk di bawah sepatu*. Ia yang mencipta tanya, apakah mungkin cinta bisa terlambat datang?
Dan, AL bukanlah inisial, ia adalah penggal nama. Bukan lagi seseorang, bukan juga cerita-cerita tentang kekasih. Ini tentang pesan hati tersembunyi yang tak sampai padanya. Jadi, siapakah?
Kujawab; itulah AL.

*kalimat terinsipirasi dari cerpen Dee ‘Back to Heavens Light’
*penggal larik puisi ‘Tajam Hujanmu’ karya Sapardi Djoko Damono

Thursday, 5 March 2015

Kepada AL


Al, cerita kita tumbuh dari pertanyaan-pertanyaanmu. Salah satunya, mengapa bulan buram di malam yang merah ini? Dan, aku menulis ini untukmu.

Kendaraan lalu lalang di luar sana, menyinggahi anganku yang tersemat di antaranya. Aku baru saja menerima pesan singkat dari seorang kawan jauhku. Isinya memintaku berhati-hati, karena malam tengah menunggu, dan pagi siap mengintai; keduanya bekerja sama menyusun siasat. Membaca pertanda dan isyarat. Berusaha mengulitiku; yang tengah berdiri terseok oleh bimbang dan terlunta terhadap kenang, pada pinggir jalan di sepotong malam. Mereka kerap bertanda tanya, mengapa mereka tak lagi mampu merengkuh hati; padahal hati sedang dicabik sunyi dan ditertawai sendiri.
Manik mataku berlari pada ruang yang masih menyala. Menyuruh kakiku melangkah, sebelum dadaku pecah karena disesaki rindu tak berkesudahan. Menahun, aku selalu membaca rencana malam; buai mimpi, lolong hewan, derik serangga, lentera nyalang, lengking teriakan wanita dan kelebat bayang-bayang, seluruhnya hanya untuk mencipta bias akanmu. Sebab, malam cemburu. Padamu. Aku menaiki satu persatu anak tangga, irama derap kakiku terdengar jelas ketika malam menciptakan kesunyian utuh untuk membuntutiku diam-diam. Ketika aku sudah menemukanmu, kulihat malam mematung.
Kamu mengunciku dalam sekejap hanya dengan mata sayumu yang menjaring kalbu. Kudapati malam runtuh. Malam pun benar-benar jatuh di atas tubuhmu. Malam menyerah, membiarkan kedua matamu meminang bulan. Mengizinkan angin terus mendesaukan namamu, dan rasi bintang membentuk bayangmu – saat itulah, aku baru memahami alasan mengapa segalanya terasa sepertimu. Sebelum malam benar-benar mati, ia menitipkan satu tanya padaku. Katanya, apa yang membuatku masih di sini, walau sunyi paling sakit sudah menikam hati karena tak jua letih menanti?
Aku menjawabnya, sederhana saja:
karena mencintaimu, Al, sejak awal adalah hening.

Monday, 2 March 2015

Perempuan yang Menyebut Dirinya Bebek Kelabu


Sore ini, ketika aku tengah diusik waktu tunggu yang mencekik, seorang perempuan berlari ke arahku. Ia duduk di hadapanku, tiba-tiba. Cukup lama sebelum akhirnya ia menangis bisu; aku senyap. Mata merahnya menjajakiku, berbisik kalimat Murakami, “…karena kekerasan tidak selalu bersifat fisik, luka tidak selalu mengeluarkan darah.” Aku bergetar, aku tak sanggup menelan Murakami di sore yang muram hari ini. Lambat laun, perempuan itu mulai berkisah, keseluruhan kisahnya tentang ia yang menjelma bebek kelabu. Lantas, kuobrolkan padanya cerita-cerita ini. Cerita yang kudapat sekilas dan sepintas; di tiap harinya.
Kubilang, pagi ini aku bertemu banyak orang. Salah satunya, seorang ibu paruh baya berkerudung biru dan berbaju hijau berlengan panjang nan kumal. Sebelum aku bersua dengan beliau, aku memperhatikannya dari balik dinding bangunan yang menjulang angkuh, yang tiap harinya kutelikung. Beliau tengah mengangkat sekarung goni botol plastik di punggungnya, dan besi pengait di tangan kanannya. Matanya sibuk mengais-ngais harapan di pagi buta; untuk mulut anak-anaknya.
“… dan, aku bisa menarik beliau ke mari, bercakap di antara kita. Karena bagiku, beliau adalah definisi cantik, yang mempertahankan pagi tetap perawan.”
Kukatakan, siang ini aku menyaksikan banyak pertunjukkan. Salah satunya, seorang bapak tua yang membonceng putrinya di jok motor belakangnya. Itu motor usang yang begitu berisik – tapi itu bagai bisikan di telingaku ketika tawa dan obrolan mereka mengiang. Mereka berhenti di sebuah sekolah yang tidak terlalu terkenal, saat remaja putri itu menengok sesaat; rasanya aku mengenalnya. Bukankah ia remaja yang pernah bertemu denganku sejenak lalu, yang mengatakan jika ia berpacaran dengan Bapaknya, berkencan dengan Ibunya, dan bersetubuh dengan Tuhan. Katanya, sebelum tua, sebelum renta, sebelum terlambat menjemputnya pulang.
“… dan, aku bisa mengajaknya ke mari, mengobrol di antara kita. Karena untukku, ia adalah deskripsi bahagia, yang mempertahankan hari tetap ceria dan istimewa.”
Kubisikkan, malam ini aku meniduri rembulan. Karenanya, aku mendengar tangisnya yang diam-diam meraung di angkasa – dan lenyap dimakan sepi yang begitu duka. Kita berdua tahu bagaimana jeleknya bulan, permukaan wajahnya yang coreng-moreng dan bagaimana iri-nya bulan pada bintang-bintang di sekelilingnya. Sedangkan ia hanya menerima suap cahaya dari surya dan memantulkannya seolah-olah itu miliknya. Tapi, aku dan kamu sama-sama tahu betapa bulan yang bertengger di gelap malam sana, yang kerap bersedih, adalah yang paling kita cintai, yang paling setia menemani, yang paling teduh. Hanya saja, si bulan tak tahu. Begitu pun apa yang ada padamu.
“… dan, aku bisa melihat bulan itu, rembulan itu, lengkung sabit itu, dan purnama itu … pada kedalaman matamu ketika mencintai.”
Dan, kulirihkan padanya. Kamu cantik, kamu berharga, dan kamu adalah istimewa. Perempuan itu masih menangis. Tangisnya mengeras, terlalu keras dan kencang hingga mampu membuatku terjaga sekejap. Aku bermimpi – dan saat terbangun, aku melihat perempuan itu di pantulan kaca pada permukaan cermin; aku.
This entry was posted in

Sunday, 1 March 2015

Tentang Perempuan dan Permainan-permainan


Mataku berlari di atas angka-angka di kalender; hari itu tak ada tanggal khusus. Tapi aku tetap saja mendengar ledak lelatu di kejauhan, terasa janggal meletup di telingaku. Belum lagi, hari itu hujan sengaja membunuh senja hanya untuk bisa menemui malam yang perawan. Terasa ganjil di mataku; karena sebelumnya langit cerah, dan guruh tiba-tiba bertalu-talu tanpa mengirimkan mendung sebagai permisi. Lantas, aku berjalan menghampirimu di ruang kerjamu; ingin menceritakan mengapa alam berbahasa demikian. Aku tersenyum – berharap menemukan kamu yang masih sama; langit malam tetap runtuh di tubuhmu, matamu mencuri sepotong bulan, dan suaramu bersikukuh membentuk hari-hariku. Tapi, nyatanya tidak.
“Kau tahu apa yang paling menyenangkan dalam memainkan game?” tanyamu.
Hari itu, kamu bagai teka-teki. Lihatlah; kamu mengenakan pakaian yang mengingatkanku pada sejuknya subuh yang belum tersentuh. Matamu meminjam bintang sebagai binarnya. Dan, suaramu lenyap – kamu diam dan membisu. Irama langkahku mulai terdengar cepat menuju tempatmu berdiri. Tapi pertanyaan itu mengunci langkahku.
“Mungkin akhir yang menang? Sebuah kemenangan? Tantangan?”
“Lalu?”
“Kamu berhasil menguasai tiap level game itu, keluar sebagai juara, pemenang. Bosan, dan mencari game baru.”
“Lalu?”
Aku melihat seorang perempuan lain masuk ke ruang kerja ini sebagai jawabannya. Perempuan itu melangkah mendekatimu, melilitkan mafela di lehermu dan memelukmu dari belakang. Rasanya, itu karakter game barumu setelah aku. Aku tahu, kamu berharap aku jatuh, gugur dan berdarah seperti permainan-permainan yang kerap kamu mainkan. Tapi, bukankah bagian menarik dari game adalah bagaimana kamu mampu memanipulasinya?
Perempuan itu mengeluarkan sebilah pisau kecil dari balik lilitan mafela pada lehermu, sembari melengkungkan senyumnya untukku. Kamu tersentak, tapi sudah terlambat. Perempuan itu mengupas lehermu seperti mengupas mangga*.

*Kalimat ini terinspirasi dari cerpen Agus Noor #CeritaBuatParaKekasih, yang berjudul 'Seorang Wanita dan Jus Mangga
This entry was posted in

Thursday, 26 February 2015

Suara Wanita yang Menarikku dari Mimpi


“...dan malam ini aku terbangun. Mendengar lengking suara seorang perempuan meminta tolong. aku lantas berlari keluar dari mimpi. Perempuan itu terkapar, dihajar seorang pria yang telah ia tikam sampai berdarah."
Biar kubisikan kenyataan lain padamu, peristiwa itu terjadi awal Februari lalu. Aku sedang tidur - berusaha agar tidak dimakan nyamuk dan diganggu batuk - seorang wanita yang tidur di sampingku terus bergeliat sembari berbicara sendiri. Aku terbangun, kusangka ia tengah dicakar mimpi-mimpi buruknya. Tapi tidak, sebelah matanya berdarah, dan ia terus memeganginya; bukan karena nyeri yang menusuk, sebab aku tak melihat ringis sakitnya. Mungkin lebih karena ia tak ingin kelebat-kelebat masa lalu menjelma hantu yang menggerogoti matanya yang kerap terjaga di pertengahan malam. 
Apa kamu pernah dengar, Ver, tentang air mata yang turun dari mata sebelah kiri. Itu tangis yang terbit dari kesedihan, dan aku telah mencongkelnya. Membuangnya jauh-jauh.
Dadaku bergemuruh. Kelindan kisah yang pernah ia sampaikan hari kemarin, berlari-lari di telingaku. Aku belum lupa ceritanya tentang seorang lelaki yang mengejarnya hampir delapan tahun lamanya, mendapatkannya, menawarkan sebuah rumah kecil, yang berakhir menjadi terungku baginya. Ia mengendap dalam sebuah ruang kamar hingga menjadi tulang; menangis sembunyi-sembunyi di bawah kolong berbau arang; meraung bersama mata yang menyala merah nyalang; bersama seorang lelaki yang kerap menjadikannya samsak dan berteriak jalang.
Apa kamu pernah lihat, Ver, tentang air mata yang turun perlahan menjadi darah. Padahal sebelumnya adalah hujan yang muncul dari ucap cinta.
Aku meremas pundaknya yang berguncang. Ketika ia mendongak ke arahku, baru kupahami; kesedihan paling dalam ada di tiap tetes air matanya. Kedalaman luka ada pada raung tangis seorang wanita. Pada sebuah malam yang membiru; oleh memar dan lebam. Tapi ia hanya menyengir lebar, matanya yang hanya tinggal satu menatap lurus ke arah jendela luar yang mengarah langsung pada teras rumah. Aku terhenyak; ketika kutengok keluar, aku melihat bola mata kirinya tertancap di atas kuku tajam seorang lelaki yang sudah mati olek tikaman – tepat di jantungnya.
This entry was posted in

Sunday, 22 February 2015

Al (3)

"…aku senyap menghadapi bayangmu yang membentuk hari-hariku.”
Pada sebuah petang, aku mendapatimu duduk di balik jendela besar kafe, yang memiliki jam dinding berbandul usang yang khas. Jantungku riuh. Aku menghampirimu. Dan, kamu – yang sedang ditimbuni kertas-kertas kerjamu – menatapku seolah bertanya; apakah kita pernah bertemu. Aku mengulum senyum. Ingin kubilang padamu, beriringan dengan tawa kecil yang terdengar hambar, jika aku bukan perempuan yang mampu membuat lelaki mengingatku pada pertemuan pertama. Ingin kukatakan padamu, bersamaan dengan lengkung senyumku yang terlihat pahit, jika aku bukan perempuan yang bisa membuat lelaki diam-diam mencari tahu tentangku, dan segera meminta nomor teleponku dari kawanku. Aku tidak semenarik itu. Tapi, aku hanya membisu dan mengambil duduk di hadapanmu yang masih melempariku dengan tatap bingung itu.

“Tidak. Aku hanya perempuan penjaja cerita, yang mencari orang untuk mendengar kisah-kisah. Apa kamu bersedia?”
Kamu tidak menjawab, dan aku tetap saja bercerita. Kuceritakan padamu kisah ini; tentang seorang perempuan yang gila, karena mengatakan pada orang-orang jika ia kehilangan matanya. Padahal jelas sekali, kedua manik hitam matanya masih terpasang di kelopak matanya yang menghitam karena lelah menantang malam. Perempuan itu bilang, ada dua alasan kemungkinan matanya lenyap; pertama, karena matanya menempel pada layar ponselnya sendiri yang menampilkan nama seseorang. Kedua, karena telah bersarang di hati seseorang.
Kamu mendongak. Kutemukan kejut di wajahmu yang penuh dengan garis-garis letih. Kamu menyahut, akhirnya kamu ingat. Aku tersengat, apa kamu tahu jika tanganmu yang tergenggam sekarang, sebenarnya menyimpan manik mataku? Lalu, kamu meneruskan ucapanmu. Kamu pernah bertemu denganku – tapi bukan aku. Sorak girang yang gaduh di ruang hatiku seketika lesap.
“Aku pernah bertemu denganmu, seseorang mirip kamu. Ia adalah perempuan dari masa laluku,” ujarmu, lirih; mungkin mulai dikoyak kenangan yang melarutkanmu. Kamu pun terus bercerita tentang seseorang lain – yang perlahan terdengar samar dan tak lagi kudengar.
Dalam gelap yang mengggulung, aku hanya melihat diriku yang runtuh di matamu, yang tak tahu ada cinta yang perlahan luruh, karena terus menunggu. Apa kamu pernah tahu?

Teruntuk Al, ini seranting kisah yang rapuh lainnya. Kutulis pada suatu sore yang cerah, tapi aku mendengar guruh bertalu di kejauhan. Mungkin ada yang tengah meneriakkan rindu.

Indah Hanaco: Tulislah Apa yang Kamu Suka, karena Tulisan yang Baik adalah yang Ditulis dengan Hati


Pagi itu pada hari kasih sayang (14/2), di Function Room Gramedia Matraman, digelar Gathering and Fun Writing Workshop Menulis Romance bersama Indah Hanaco dan Jenny Thalia. Kegiatan yang diselenggarakan oleh penerbit Elex Media Komputindo itu dibagi menjadi 3 segmen. Dua segmen di awal adalah sharing bersama kedua penulis, dan penerbit (juga editor). Segmen terakhir adalah praktek mengekseskusi ide menjadi outline. Ketiganya dipandu oleh marcomm Elex Media, Intan. Dan, sharing yang penuh cinta itu pun dimulai.

Aku duduk dua bangku dari depan, dan menyimak sesi sharing bersama penulis dari Indah Hanaco. Beliau yang hari itu tampil dengan blouse jaring-jaring berwarna pink-keunguan dan rok hitam selutut, berbagi cerita panjang mengenai pengalaman kepenulisannya.
 “Pertanyaan paling dasar ketika mulai menulis adalah bagaimana mendapatkan inspirasi. Aku cuma bisa bilang, itu muncul dari mana saja dan kapan saja. Contohnya karyaku yang berjudul ‘After Sunset’, itu inspirasi awalnya dari baca tweet-tweet Wow Fakta,” ujar beliau, yang kerap menulis sambil membuka-buka KBBI. Tak hanya dari tweet-tweet yang random, tapi bahkan dari sepotong dialog film yang selalu tertancap di kepala atau iklan yang terus-menerus terngiang, bisa jadi bahan tulisan untuk Indah Hanaco. Jadi, jika ada sesuatu hal yang mengundang ekspresi kita, langsung ditulis saja, tidak harus menjadi tulisan yang bagus, karena pada dasarnya: yang penting menulis terlebih dulu. Ketika itu, aku jadi ingat satu quote ini: “menulislah yang buruk, kamu selalu punya waktu untuk mengeditnya dengan brilian.” (untuk kalimat ini, kamu bisa mencari tahu lebih banyak dalam buku Creative Writing-nya A.S Laksana)
Saat inspirasi itu sudah diterima, pastinya akan muncul kendala. Kendala terbesar adalah mendisiplinkan diri, menetapkan hati untuk mulai mengembangkan inspirasi dan ide dasar itu. Bagi Indah, jika writers block menyerang, beliau berusaha menakhlukkannya. Beliau tidak meninggalkan tulisannya begitu saja. “Tetap aku kerjain, walaupun hanya jadi satu paragraf. Jangan ditiingal. Aku pernah meninggalkan naskah, dan sampai akhirnya gak pernah selesai. Satu lagi, mulailah menulis tentang apa yang kamu sukai, karena dengan itu, tulisanmu akan lancar dan writers block tak akan ada.”
Cara terbaik agar sebuah cerita bisa dieksekusi dengan baik dan tidak berhenti di tengah jalan karena tak tahu apa yang ingin ditulis lagi, adalah dengan membuat outline. Manfaat outline menurut Indah Hanaco, berfungsi memagari cerita, membuat penyelesaian naskah jauh lebih mudah (benar jika ada yang bilang, ketika kamu telah berhasil membuat outline, kamu sudah menyelesaikan 40% dari naskahmu), serta menciptakan fleksibilitas terhadap perubahan saat pembuatan naskah.
“Bagiku, outline yang baik adalah memiliki konflik di tiap bab ceritanya. Minimal harus ada kejutan. Tak hanya sebagai tempelan, tapi bagian dari cerita yang mendetil,” tambah Indah, yang mampu pernah menyelesaikan naskah novel hanya dalam waktu 9 hari. 
Selesai dengan ide dan outline, penulis biasanya menghadapi masalah lainnya; mengeksekusi outline agar jadi karya yang diterima. Maka itu, penting untuk memelihara konsistensi dan semangat menulis. Itu bisa didapatkan dengan memikirkan royalti yang akan didapatkan (hehehe). Ada satu kalimat yang aku suka pada bagian ini, Indah Hanaco bilang jika kita sebagai penulis, tak mungkin bisa menyenangi semua orang. Bukankah menulis itu sendiri tujuan awalnya adalah membahagiakan diri sendiri? Lagipula, ketika kita bahagia dalam menulis, tulisan kita juga akan membahagian pembaca yang menikmatinya. Jadi, kunci utama sebelum mulai menulis adalah siapkan diri untuk larut dan tenggelam pada cerita yang kita buat, saat itulah kita mencapai titik menulis dengan hati. 

Kalau cerita sudah selesai dan siap kirim, pastikan itu dikirim langsung pada editornya. Untuk Indah Hanaco, beliau tidak terlalu menyarankan mengirimkan naskah cerita kita pada teman-teman, karena bisa saja teman kita memiliki selera baca yang berbeda dari naskah kita. Hingga akhirnya, teman kita berkomentar yang bisa menjatuhkan kita, atau karena tidak enak hati, memuji-muji kita. Sulit sekali menemukan titik objektivitas dalam penilaian. Jadi, percaya diri saja dalam mengirim naskah. Jangan pernah bilang takut mengirim ke penerbit besar dan mayor, bukankah setiap penulis besar juga dimulai dari penulis amatiran – yang tak pernah berhenti berusaha dan belajar? Mengenai proses belajar, Indah Hanaco bahkan masih belajar dalam memperkaya kosa kata. Tiap kali menulis, beliau masih membaca thesaurus, agar menghindari repetisi kata yang membosankan. Mungkin proses menulisnya jadi lama karena sambil memilah-milah kata di thesaurus, tapi itu bagian dari usaha. Tak ada jalan instan untuk menjadi penulis yang cerdas dalam diksi atau pemilihan kata.
Terakhir dari Indah Hanaco, “Sesungguhnya dalam dunia menulis, tak ada teori resmi yang mengarahkanmu harus begini dan begitu. Semua teori itu akan kamu dapatkan sendiri ketika menjalaninya. Pengalaman yang akan mengajarimu pada akhirnya.” (kalimat ini sejalan dengan apa yang diucapkan Agus Noor dalam kelas kepenulisan Cerpen Kompas yang kuikuti tahun lalu, sila cek di sini)
Aku yang duduk diam di balik bangku bermeja, hanya mengangguk-angguk sembari tersenyum. Bukankah menulis dengan hati itu begitu menyenangkan?

Tentang Indah Hanaco
Lahir di Pematangsiantar, 14 Oktober. Puluhan karyanya telah termuat di media nasional, dan belasan bukunya sudah terbit di berbagai penerbit di Indonesia. Seorang writer, dreamer dan lover yang kini menjadi full-time writer. Bukunya yang terbaru di penerbit Elex Media; Scent of Love in London, bisa didapatkan di toko buku terdekat.
This entry was posted in

Thursday, 12 February 2015

AL (2)


Mengingat AL masih kerap menyesaki ruang kepalaku, mungkin perlahan AL akan memiliki episodenya sendiri. Dan, semoga saja tidak bosan.
Di suatu hari yang mendung, saat langit dipilin-pilin awan abu-abu, aku menyambar secarik kertas, dan bait kecil ini kutulis:
“…hujan hari ini panjang, merinaikan kisah kita yang kerap mengulang. Padahal, kukira sudah jadi arang. Sebab, kutengok hati ini telah usang.”
Aku masih menyukai hujan, dan tengah jatuh cinta – padamu, Al.
“…hujan hari ini masih bertualang, merintikan cerita kita yang sering berpulang. Padahal, kukira sudah jadi kenang. Sebab, kita tak lagi saling memanggil sayang.”
Menurutmu, bagaimana laku orang yang jatuh cinta? Tengah malam, ketika kamu menyapaku – itu obrolan pertama kita, aku nyaris tak bisa melelapkan diri di tubuh hening yang sudah disiapkan malam. Tiap mataku terpejam, bayangmu menjelma hantu yang terus mengusik, aku takut – sebagaimana hantu, kita kerap bersembunyi darinya, tapi bukankah ia sosok yang selalu membuatmu dicekik rasa penasaran?
“…hujan hari ini terus menuang, membulirkan bincang kita yang belum bersua sumbang. Padahal, kukira sudah jadi perang. Sebab, pertemuan kita sering menuai guncang yang bersilang.”
Kemarin, aku mengatakan curahan hati pada kawanku. Kubilang padanya, rasanya aku sudah tidak waras. Aku melihat senyummu di lengkung sabit, bisik namamu dari desau angin, wajahmu pada siluet petang, dan renyah suaramu dalam keramaian. Lalu, setelahnya, aku akan tersenyum sendiri. Tak hanya itu, aku pun meraih ponselku, membaca ulang sejarah percakapan kita di ruang obrolan. Mendadak, itu menjadi bacaan favoritku. Kawanku bilang, aku tak harus ke rumah sakit jiwa, aku hanya perlu mengakui aku telah jatuh cinta, dan itu adalah padamu, Al.
“…hujan hari ini terasa menerawang, mengalirkan tatapmu yang mengundang. Padahal, kukira tak lagi kita bersisa, bagai padang gersang tak berkunang. Sebab, tatap matamu yang mengundang, sudah lama hilang.”
Hari ini, hujan sudah berakhir di langit perumahanku, walau gerimisnya masih malu-malu mencumbui jalan dingin depan pekaranganku. Aku sendiri – kecuali kamu menyebut sunyi sebagai teman hati, itu lain lagi. Tapi aku merasa riuh, kepalaku gaduh menuntut hadirmu di manapun. Aku berusaha mengusir pergi pikiran yang tak henti menguliti hati yang sendiri. Hasilnya, aku ingin membagikan semua yang kutahu dan kurasa padamu, agar sepi tak lagi berusaha mengoyakku. Karena tiba-tiba, aku meraung-menggelepar di depan teras rumahku, hingga orang-orang dengan ribut dan paniknya mendatangiku, merecoki dengan tanya mengapa. Aku hanya bilang, aku didera rindu yang tak berkesudahan, dan hati ini terlalu sibuk menghasilkan cara baru untuk terus mencintaimu.
“…Al, pada akhirnya, harus kukatakan padamu, aku menyemat cinta di tiap mendung yang penuh teka-teki, seperti kamu yang masih serupa tanda tanya. Dan, cinta tak pernah terlambat menemukan jalan pulang. Tertanda rindu, perempuan yang diterungku dalam kedalaman mata sayumu.”