Tuesday, 20 November 2012

Fall...(10)


Maybe, we just met once, but, please pretend this is love .

Berkas mentari baru saja menyapa kaca jendela kamarku yang berembun. Aku terbangun dengan sejuta mimpi tentangmu yang masih membekas di benak. Aku membuka jejaring mobile apps di ponselku, aku tersenyum, kamu memasukkanku dalam salah satu diskusi. Awalnya, aku tidak peduli dengan mobile apps itu, tapi, ketika aku tahu kamu ada, setiap hari aku mengaktifkan mobile networtku, menunggumu menuliskan pesan dan handphoneku yang bergetar memberitahuku. Mungkin bodoh, karena kamu tak pernah memanggilku sampai grup diskusi itu akhirnya mati, kamu keluar, semua anggota keluar dan, aku yang terakhir. Karena masih mencari jejak-jejak goresanmu di layar ponselku.
Cinta kita hanya sebatas lirikan mata di tengah keramaian, senyuman bisu dan sapaan nama tak berarti. Bahkan aku harus menyembunyikan itu semua dengan melakukannya dari jauh dan tentu saja, diam-diam. Ini ironi terdalam. Aku tak tahu, berkali-kali aku mendapati mata kita saling menyapa, dan tatapan teduh itu lagi yang kutemukan. Apa ada cinta di sana? Pertanyaan itu ditelan oleh keramaian dan lenyap di udara yang berjarak dan terbentang begitu luas di antara kita. Berkali-kali juga aku harus segera memalingkan mataku sebelum keberanian menatapmu berubah menjadi cinta yang semakin tak bisa kulukis.
Ini benar-benar menyakitkan. Aku baru tahu, waktu untuk seseorang yang jatuh cinta begitu menjerat, menukik lalu mencekik. Sama ketika waktu akhirnya membuatku mengetahui ternyata ada banyak hati lain tempat kamu terpaut olehnya. Aku segera berdiri di depan cermin lalu bertanya, apakah aku pantas bersanding denganmu? Sedangkan tiga hati lain yang sempat kamu tunggui hatinya, begitu sempurna dan memikat. Aku tersenyum hambar, wajahku pias, kerongkonganku tercekat, aku tidak bisa sesempurna itu untukmu. Tapi, bukankah cinta itu ketika kamu dengan sempurna bisa melihat ketidaksempurnaan seseorang sebagai suatu hal yang sempurna?
Aku tidak pernah memaksamu memilihku. Aku hanya ingin sekali sebelum aku mengucapkan selamat tinggal, duduk denganmu di suatu sore di balik jendela yang memantulkan cahaya senja yang berbaur dengan awan mendung sehabis hujan, dan kita bersama meminum teh hangat kesukaanmu. Itu kebersamaan bisu yang sempurna.
Dan, bersama tulisan ini, kuselipkan cinta di dalamnya…

Saturday, 10 November 2012

Fall...(9)



“And, what do you do when the one, who means the most to you, is the one who didn’t show?” –Swift, Taylor-
Aku sudah banyak melukismu dengan kata-kata. Menyembunyikanmu dalam cerita-ceritaku. Mungkin, suatu waktu nanti, kata-kata pun akan habis untuk melukismu. Tapi, saat itu terjadi, yakinlah padaku, bahwa ruang di hati ini tak akan pernah habis untuk terus merasakanmu.
Hei, kamu tahu, di suatu siang, saat tugas pertama kita selesaikan, kamu memanggil kecil namaku, meminta ingin melihat hasil tulisanku. Saat itu, ada yang berbinar di hatiku. Satu, aku tahu kamu mencintai duniaku, dunia khayalanku, dunia penuh dengan kata. Dua, kamu ingin membaca hasil tulisanku. Tapi, senyum itu tak pernah bias kutahan lebih lama, karena aku sadar, kamu pasti mengira aku tak pernah menulis cerita untukmu, kata-kata special bagimu bahkan ada irisan hati saat mengingat aku memberi secarik kertas berisi puisi indah bagi sahabatmu, mungkin di depanmu? Padahal, aku ingin berteriak padamu, kamu adalah satu-satunya orang yang mampu membuatku menuliskan banyak cerita tentang seseorang dan sesungguhnya ini semua untukmu. Jadi, jika kamu bertanya padaku suatu hari nanti, sudah berapa banyak orang yang sudah kuberi tulisan khususku, aku akan menjawab, itu kamu. Walau mungkin kamu akan heran, karena kamu tak pernah menerima goresan kata di atas kertas secara langsung satu pun dariku.
Lalu, saat aku memiliki kesempatan untuk mengeluarkan opiniku, dengan tidak mau kalah, kamu pun ikut berdiri hendak menangkis dan menahan opiniku. Aku tersenyum padamu sebelum kamu berdiri dan melawan opiniku, bukan karena banyak hal, hanya satu, aku ingin mendengar suaramu. Sesederhana itu.
Di perjalanan pulang, kamu duduk di belakangku, membuatku sulit untuk menemukan sosokmu, dan tahu kamu, apa yang kulakukan? Aku harus tersiksa dengan menemukan sejuta alasan untuk terus menengok ke belakang. Mengapa ini semua terlihat semakin rumit? Cukup duduk di bangku yang sama di sampingku dan tulisan-tulisan ini selanjutnya akan menjadi tulisan terindah yang pernah kurangkai.
Selalu terlalu banyak cerita tentangmu. Tapi, apakah selalu ada cerita, mungkin sedikit saja, tentangku darimu?

Fall...(8)



Kamu tahu, aku tak pernah ingin kamu menyebut kata cinta, menyeka air mataku atau memberi bahumu untukku. Aku hanya ingin kamu berdiri tak jauh dariku, tak perlu di sampingku. Cukup di sana, benar, di tempat dimana kamu bisa melihatku dengan mudah, bukan dekat, karena aku ingin pastikan, walau dalam jauh pun, dalam keramaian, kamu bisa menemukanku.

Ini satu ruangan, yang dipenuhi riuh, yang didesaki sahutan dan di sinilah, bahkan bukan dalam keadaan tenang yang diselimuti kesunyian yang begitu melankolis, aku mengamatimu lebih mendalam, tentang ekspresimu, tentang bagaimana aku melihat percikan darah seni gerakmu dengan mataku sendiri. Ketika itu, aku tahu, jarak tak hanya menciptakan bentangan jauh, dunia pun seolah ikut dengannya. Mari biarkan aku melukismu dengan dunia seni gerakmu. Gerakan kakimu yang maju dan mundur, perpindahan kaki dan olah gerak tangan serta kaki yang begitu terarah, kamu memiliki bahasa gerak tubuh yang begitu baik. Aku tahu, bakat seni gerakmu tengah mengaliri darahmu, sama saat aku berada di balik komputer dan membiarkan jari-jariku menari, seharusnya aku bahagia, karena aku tahu, kamu sedang mempertunjukkan apa yang kamu miliki, tapi tetap saja aku tak bisa tersenyum, karena itu semua bukan untukku.

Aku ingin sekali bertanya padamu, pernahkan kamu menciptakan seni gerakmu karena emosimu padaku? Sedangkan aku di sini, mengeluarkan segalanya mengenaimu dalam tumpahan kalimat. Menyembunyikanmu di sudut kata-kata. Menyamarkanmu dengan tinta.

Malam itu, aku tak pernah berhenti melihatmu dari sudut mataku, sampai saat suara permainan dimulai, saat dimana seharusnya kita semua memulai mencari kunci sesuati aturan main, tapi, pada awal-awal, aku tak bergerak, aku justru melirik padamu terlebih dahulu, melihat ekspresi antusiasmu. Aku runtuh. Kamu lewat di depanku, tanpa ada mata yang singgah padaku.

Dengar aku, di tengah malam itu, aku sudah benar-benar yakin, aku mencintaimu. Bahkan saat sentuhan tangan itu. Untuk pertama kalinya, aku menggenggam tanganmu. Tapi, ada yang melintas di benakku, membuatku kembali terkoyak,

Apakah mencintaimu harus sesakit ini?

Fall...(7)



Tentang mentariku yang tengah tersenyum dan dikacaukan oleh seseorang yang mendesakku untuk mengikuti acaranya, aku sudah berkata tidak. Aku tidak ingin lagi terlibat dalam suatu kegiatan, sampai kudengar kamu ikut serta di dalamnya. Aku hanya terdiam, ini pertama kalinya aku melihatmu masuk dalam suatu kegiatan. Aku tahu, kamu sudah terjun dalam banyak komunitas yang kamu bangun dari nol dengan jatuh seratus kali, tapi, ketahuilah, komunitasmu tidak kuikuti. Sejak pertama, jalan kita sudah berbeda, kamu seni gerak dan aku seni tulis. Tapi, kali ini kamu berkata iya saat aku berkata tidak. Saat itulah, kutahan lengan seseorang itu, lalu kukatakan iya, aku akan kembali dalam kesibukkanku dengan acaranya. Ia pun mengangguk gembira, aku hanya bisa tersenyum pahit dan berbisik dalam sudut hatiku, ini untukmu, kamu.
Inilah aku, terpaku di balik jendela yang menempeli nama kita, aku tidak berada satu mobil denganmu, aku gelisah, aku menghabiskan semua yang tersisa untukmu. Lalu, aku hanya bisa tertunduk dan berkata, aku tahu, cinta selalu punya cara. Ia selalu pulang bagi siapapun yang mengenalinya dan memilikinya.
Waktu pun merangkak naik, lalu, kutemukan namaku sudah terganti bersamaan dengan mobilmu. Aku hanya tersenyum, begitu tipis, karena aku takut, siapapun itu di sampingku, di belakang atau di seberang sana melihatku tersenyum begitu manis dan lebar hanya saat manik mata ini tertuju pada namamu.
Ini ironi, kamu tahu? Tempat duduk kita bagai cakrawala langit yang terbentang luas dan jauh. Aku hanya bisa melihatmu dari jauh, ah, bukan, aku mencintaimu…selalu dari jauh. Diam-diam, aku meraih ponselku dari dalam tas, mengeluarkannya dan membuka note kecil di sana, menulis, cukup tahu aku satu tempat denganmu, walau itu jauh, cukup tahu kamu ada, aku tak lagi memperhatikan jarak yang tak pernah bisa kulipat ini.
Katakan padaku, mengapa kamu tak menengok sedikit saja ke belakang, melihat manik mata ini yang sedari tadi tak bisa kumalingkan darimu? Ini benar-benar menyiksa.

Monday, 22 October 2012

Fall...(6)



“I make sure to keep my distance, say I love you when you’re not listening.”
Aku menemukan matamu. Dua kali. Lirikan matamu yang teduh itu. Dan, berkali-kali aku menyadari, aku mencintaimu karena manik mata hitam itu. You’ve got me with those black eyes. Tapi, akhirnya, bukankah siang tadi, saat kamu berdiri di pojok lorong kelas dan aku di pojok yang berbeda, saling sibuk dengan diskusi bersama teman masing-masing, antara kamu dan aku tak lebih dari sekedar pertemuan mata lalu membuangnya cepat-cepat seolah-olah ini seharusnya tidak terjadi.
Kamu tahu tidak, aku harus kembali menyelami topik yang sudah kukubur dalam-dalam beberapa tahun lalu. Topik dimana aku sudah lelah untuk membahas dan mendiskusikannya, tapi setelah aku tahu kamu bergelut serius di bidang itu, tanpa banyak pikiran yang melintas untuk kutimba-timbang, aku langsung membongkar kembali ketertarikkanku. Semua hanya agar aku bisa mencipta obrolan denganmu.
Lalu, akhirnya aku menemukan satu hal yang setidaknya membuat kita berdua sama, yaitu secangkir teh hangat di kala senja. Akan sempurna saat kita berdua bisa berdiri di balik jendela sambil menikmati teh hangat kita, aku melukis senja yang hadir di antara kita ‘tuk menghangatkan kesempurnaan kebersamaan itu dan kamu sibuk bercerita mengenai topik favoritmu. Tapi, semuanya buyar dan hanya menjadi angan-angan kelabu, karena aku tahu, semua itu hanya akan terjadi dalam cerita-ceritaku yang terus menerus melukismu. Karena, bukankah seperti yang tadi kukatakan, kita hanyalah sebatas tatapan mata?