Wednesday, 17 May 2017

Kutipan-kutipan Favoritku dari Novel 'You Got Me'

Ada kalimat-kalimat yang dilontarkan tokoh-tokoh dalam novel You Got Me, yang menjadi favoritku. Kupikir itu karena beberapa kalimat itu kerap mewakili apa yang hendak hati ingin sampaikan, mereka memberi ruang bagi perasaan untuk bicara. Kutipan yang kufavoritkan mungkin berbeda dengan yang kamu suka. Buat kamu yang sudah baca, bisa berbagi mana kutipan favorit dalam buku, versi kamu! Kutunggu ya!

Cinta yang Memilih Bertahan

Selain Persahabatan

Senja Di Matamu

Menghapus Ragu

Pulang

 Nama Lain
   
Jadi Diri Sendiri

Ini kutipan-kutipan favoritku, kalau punyamu?
Eh, enggak tahu kutipan favoritmu yang mana karena belum punya bukunya? Mau tahu cara dapetinnya? Cuma 39.500 rupiah lho, kamu udah bisa dapetin novel setebal 202 halaman ini. Bisa langsung klik gambar di bawah ya!

3 Tempat yang Jadi Setting Novel ‘You Got Me’ Ini Beneran Ada Lho


Selain sekolah SMA di kawasan Kota Tangerang yang jadi setting utama novel soloku kali ini, ada beberapa tempat lainnya yang sengaja kuciptakan dari khayalanku dan ada juga yang memang nyata. Coba tengok yuk!
Times and Books (fiction) x Books and Beyond (real)
Di tempat ini, aku banyak mengolah adegan Rafa yang jadi dirinya sendiri: melakukan hal yang disukainya, hobi yang dulu diminta berhenti. Bayanganku, mereka duduk di sebuah kafe berlantai dua yang didesain dari gabungan konsep bar dan perpustakaan mini. Memilih bangku di pojok ruang, Rafa mengeluarkan peralatan menggambarnya, memulai coret-coret beberapa frame. Di sana ia ditemani Violet yang membeli novel dan membaca di sana, diam. Kamu tahu, kedekatan kita dengan seseorang bisa dilihat dari seberapa nyaman dan tenang kita berdiam dengannya tanpa bicara. Mereka melakukannya hampir tiap pulang sekolah, di kafe Times and Books. Lalu mengambil duduk di dekat jendela besar yang membingkai pandang kesibukan orang-orang di atas trotoar.
Dan, imajinasi akan kafe ini aku adopsi dari Books and Beyond (huehehehehehe, padahal aku sendiri kalau beli buku di sini, langsung bungkus pulang aja dan jarang nongkrong).

times books cafe
 
books and beyond bookstore
Hotel Fisher Castle (fiction) x Istana Nelayan Hotel and Restaurant (real)
Buat yang udah baca, pasti tahu kalau pembuka dan jelang penutup novel ini punya setting di Hotel Fisher Castle. Dimulai dengan undangan reunian yang diterima Violet di Hotel Fisher Castle, ia diajak untuk menelusuri sekali lagi perasaan di masa lalunya yang belum tuntas. Bedanya dengan dulu, kini ia sudah punya jawaban. Tapi mungkinkah semuanya sudah terlambat? Ehm, di Hotel Fisher Castle itulah, Violet mencari-cari sesuatu yang sempat ketinggalan.
Dan, bayangan soal Hotel Fisher Castle ini aku riset dari Istana Nelayan Hotel and Restaurant (Dulunya saat pesta kelulusan, sempat ingin menyewa di sini, tapi enggak jadi, akhirnya di gedung HAPPY. Pesta reuni SMA-ku pun enggan jadi di sana, tapi Bandar Djakarta. Walaupun begitu, aku berupaya menjadikannya nyata di novelku).
ada adegan pool party Hotel Fisher Castle di novel You Got Me

sumber foto: istananelayan.com, tempat ini jadi inspirasi setting novelku
Victoria Park (fiction) x Victoria Park Residences (real)
Ada adegan yang mana geng persahabatan Rafa-Violet dapat proyek buat bikin film pendek untuk tugas Bahasa Indonesia di Bab Naskah Drama. Saat itu mereka sepakat membuat cerita adaptasi Twilight. Dan, babak-bakbak pertarungan para vampir di hutan akhirnya disetujui diganti di taman Victoria. Banyak sekali hal-hal lucu yang terjadi selama syuting film pendek yang tujuannya serius jadinya parodi.
Nah, taman Victoria ini beneran ada, nama aslinya Victoria Park Residences. Semacam taman di kompleks perumahan Victoria (syuting film pendek yang kumasukkan adegannya di novel pun benar terjadi di lokasi yang serupa).

ini foto ilustrasi Victoria Park bagian bunderannya, aku enggak nemu foto tamannya

Victoria Park jadi salah satu setting novel Yout Got Me
Jadi, sudah baca novelnya belum? Kalau sudah, mana setting dan adegan favoritmu di novel Yout Got Me? Atau, belum punya? Coba cek di bawah ya!

http://andipublisher.com/produk-0217006265-you-got-me-my-lucky-love.html

Tuesday, 16 May 2017

Ini 6 Rahasia yang Wajib Kamu Tahu Sebelum Baca Novel ‘You Got Me’

Tatapanmu mengajakku menimbang perasaan masing-masing, bertanya-tanya tentang harapan yang tak kunjung pasti: mungkinkah kita mampu mencintai lebih dari ini?” – Violet pada Rafael dalam You Got Me. 
foto diambil oleh bhante dhirapunno

Masih tentang romansa sederhana kehidupan remaja, inilah buku aku yang keenam setelah terakhir menerbitkan Time in a Bottle (Elex Media, 2016). Kali ini naskahnya berjodoh dengan salah satu penerbit mayor di Jogja, Penerbit Sheila – imprint buku fiksi dari Andi Publisher. Kalau mau membandingkan dengan lima buku aku yang sebelumnya, novel soloku kali ini punya perjalanan yang lebih panjang dengan proses yang lika-likunya lebih rumit. Jadi, bisa dibilang, akhirnya terbit itu bener-bener lega banget. Dan, melalui tulisan ini, aku mau banyak berbagi cerita jujur di balik bukunya, karena aku percaya, setiap buku memiliki perjalanannya masing-masing hingga akhirnya mendarat hangat di pangkungan pembaca.

Nunggu Sampai 4 Tahun

Pernah denger enggak petuah-petuah buat penulis yang bilang harus sabar? Entah itu saat mengerjakan proses kreatifnya, atau pun pas lagi nunggu kabar naskah? Dan, itulah yang terjadi pada novel ini! Sebenernya, You Got Me, harusnya menjadi ‘anak lahir’ku yang kedua tepat setelah Shooting Star terbit. Karena kabar kalau naskahku diterima itu sekitar 3-4 bulan seusai Shooting Star meluncur ke pasaran. Tapi, yang sedihnya, terjadi beberapa hal (alasan-alasan yang mungkin tidak etis untuk diungkapkan di sini) hingga naskahnya harus molor sampai awal tahun 2017. Bagian paling pentingnya sih, intinya terbit juga, enggak apa nunggu lama, bisa lihat buku sendiri dalam bentuk fisik dan mejeng di toko buku akhirnya, 4 tahun jadi berasa 4 minggu.

Hampir 60% Kisah Nyata

Ini serius. Saat menulis novel ini, aku cukup ngebut (baca: terburu-buru). Alasannya, aku ingin buku ini terbit tepat saat perayaan hari  kelulusan SMA-ku. Kenapa? Soalnya, aku merangkum kisah kehidupan SMA-ku. Itu adalah jenis kisah yang cukup dramatik untuk disebut sederhana, tapi juga terlampau tak jauh berbeda dari yang kenangan putih abu-abu yang banyak orang punya hingga bisa dibilang ringan. Nama karakternya pun sebagian besar tidak kusamarkan, beberapa adegan benar terjadi – hanya saja tentunya, sebagai Tuhan dari cerita ini, aku membumbuinya sedikit -, termasuk geng persahabatan yang digambarkan dalam novel (itu geng sahabat beneran yang kupunya), bahkan juga bagian konflik romannya. Bisa kukatakan kalau novel ini adalah ceritaku yang paling jujur dan apa adanya. Karenanya, gaya berceritaku pun sedikit berbeda dengan kebanyakan buku-buku aku yang lain. Pada novel ini, aku lebih teenlit.

Persembahan Spesial

Sssst, jika pun ada nama tokoh yang kusamarkan, itu adalah Rafael Farel. Panggilannya Rafa. Ia adalah pemain utama dalam skenario You Got Me. Karakter ini kubentuk dari sahabatku sendiri, aku melakukan riset dengan mengamati perilakunya, hobi dan minatnya, sampai mewawancari dirinya. Dan, tentunya itu tidak menjadi sulit – karena mudah untukmu menulis dan memasukkan seseorang yang sempat kamu jatuh cintai kepada ceritamu J . Diam-diam, sebenarnya aku mempersembahkan novel ini untuknya yang sering kujuluki lelaki jenaka (pembaca setia blogku pasti tahu, aku pernah menjurnalkannya sembunyi-sembunyi dalam epsiode ‘Insane’), sewaktu itu, aku berjanji pada diriku sendiri jika ini sampai terbit, aku akan menyatakan perasaanku padanya seraya bilang, “Rafa in this story, is you. And the love isn’t fiction, for me is real.” Sayangnya, sampai novel ini terbit, ia tak pernah tahu ini adalah tentang dan untuknya. Kupikir aku salah menerjemahkan rasa yang ada, itu hanya kenyamanan karena ia adalah sahabatku di mana dan kapan saja. Sebab pada akhirnya, ia mencintai yang lain, demikian pula aku (kamu tentu tahu tentang lelaki dalam episode AL, he has completely had me).

Milih Judul Susah Banget

Ini makan waktu! Judul yang kusodorkan tak kunjung di-acc. Terjadi banyak pertimbangan soal memilih judul. Awalnya aku ingin diberi judul More Than This, karena ini cerita tentang dua sahabat yang ragu apakah mereka bisa mencintai lebih dari status kedekatan mereka sekarang. Tapi akhirnya dirombak lagi jadi, You Got My Yes,  Just Say Yes, dan lain-lainnya. Hingga matang pada kesepakatan: You Got Me, My Lucky Love. Semoga kamu suka ya!

Adegan Bikin Film Pendek Beneran Ada Videonya

Saat kubilang ini 60% nyata, aku enggak bohong. Adegan yang mana geng persahabatan Rafa-Violet sedang membuat film pendek tentang cerita vampir Twilight yang maunya serius dan melanlokis tapi hasilnya malah kayak parodi, filmnya beneran ada. Kamu bisa tonton lewat tautan ini. Saranku, siapin tempat yang nyaman aja dan jauh dari jangkauan orang-orang, karena aku jamin kamu bakal ngakak kalau nonton.

Rampung dalam Satu Setengah Bulan

Tadi aku sempet bilang kalau nulisnya ngebut. Dan memang benar, karena akhirnya rampung dalam waktu satu setengah bulan. Walau sedikit lebih lama jika dibanding Shooting Star yang menghabiskan hanya 2 minggu (aku menulisnya ketika libur Natal). Mungkin bisa cepat jadi karena latar, adegan, konflik, dan semacamnya sudah sangat kukenal. Karena aku menulis novel ini berangkat dari hal yang paling dekat dan intim denganku: lingkungan sekolah dengan segala intrik manis-pahitnya, sahabat-sahabatku, dan tentunya perasaan jatuh cinta diam-diamku, huehehehehe.

http://andipublisher.com/produk-0217006265-you-got-me-my-lucky-love.html

Sunday, 14 May 2017

Tiga Puluh Dua

satu hal yang ingin kusampaikan sebelum kamu meneruskan ini lebih jauh: tulisan ini tidak akan berjalan bahagia seperti dongeng-dongeng jelang tidur yang kujanjikan padamu tiap malam.
sumber foto: oddysey online
Ada tiga puluh dua berkas masa lalu yang menempelimu ke mana-mana tanpa kamu tahu. Aku tidak benar-benar bisa menemukan di bagian dan sudut mana mereka membuat rumah, lalu menolak untuk pindah – mungkin karena saking sudah lamanya berada di sana dan berbetah, atau kamu memang sengaja tidak mengizinkannya. Biarkan mereka bebas memangsamu dari dalam atau sebaliknya, mereka masih ada karena kamu menikmatinya. 

Kamu paham betul, kenangan adalah semacam potongan-potongan peristiwa lampau, tapi bukan berarti kadaluarsa, asalkan ingatan terus memperbaruinya tanpa hari libur. Mungkin itu juga alasan mengapa, pada ciuman terakhir kita, aku pulang membawa bibir tiga puluh dua rasa.

Stroberi, kutebak. Aku salah, nyatanya ini peach. Ia terasa manis sekaligus asam yang meledak lembut. Apa iya ini sedikit mint. Kepalaku menggeleng, perlahan jadi terasa seperti cokelat – butir-butir meises yang menyisa di ujung. Aku pun menjilat bibirku sendiri, masih hangat, tekananmu di sana masih menyisa – namun rasanya ganjil. 

Aku gagal mengenali rasa asli bibirmu yang awalnya kukira kayu manis. Sebanyak itu, sayang, mana yang paling kamu favoritkan diam-diam – tepat saat kamu memejamkan mata dan melumatnya satu persatu?

Mendadak, aku tidak bisa tidur. Guling ke kiri, ke kanan. Duduk sebentar, rebah sejenak. Aku mengulangnya hingga malam berjalan seperempat menuju subuh. Aku ingat bagaimana orang-orang meneriakiku kalau kamu adalah jenis lelaki yang sejak awal memang ingin kuhindari. Ini peringatan.  Jadi, aku harus segera mengepak koper pergi sebelum melemparkan diri pada petualangan yang menyakitkan. Tapi aku menolak berhenti, memilih tersesat. Menjebak diri pada kemungkinan-kemungkinan. Jadi aku tidak heran kalau tadi kita mendekap tubuh satu sama lain, dan aku kesulitan memilih lengan mana yang harus kusambut. Sebab tiap inci tubuhmu merentangkan tiga puluh dua pasang lengan yang berebutan minta dipeluk. Lengan-lengan mungil berkulit aneka warna, bertangan polos atau yang berjam tangan atau bergelang, berkuku kuteks pastel atau lentik apa adanya. 

Buatku bertanya, jika orang melakukan sesuatu hal berdasar apa yang pernah mereka alami dan ketahui, pelukan seperti apa yang akan kamu berikan padaku menurut tubuh siapa-siapa yang pernah kamu dekap dalam tiga puluh dua pasang rentang lengan yang sempat mampir? Seramai itu, sayang, lalu mana yang paling kamu rindukan sembunyi-sembunyi – tepat ketika kamu membuka tubuhmu dan menerimaku masuk?

Sampai di sini, kita pun diperangkap macam-macam kekhawatiran; kamu sibuk meyakinkanku kalau dihitung dari nol sampai tiga puluh dua, mau mulai dan berakhir di angka mana pun, aku selalu berada di angka satu. Tiba di sini, kita pun digulung macam-macam kegelisahan; aku rutin memikirkan mungkinkah apapun padamu adalah yang pertama, dan apa saja padaku adalah yang ketiga puluh tiga. 

Sayang, bagaimana mungkin kita bisa saling menyatakan jatuh cinta – ketika kamu memelihara kenangan yang belum tuntas, dan aku memburu kenangan yang belum pernah ada?

Kamu brengsek, kekasihku – walau aku pun tak lebih baik. Kamu mengingatkanku pada  tokoh lelaki favoritku yang menyusun diri tampak sempurna dengan keping-keping masa lalu yang dilemparkan bersisa padamu. Lalu kamu menjadikannya semacam topeng dan mulai tidak memercayai orang-orang. Kamu bermain, dan aku menyukainya. Menikmatinya. Jatuh cinta padanya – padamu.
Aku hampir tidak pernah bergabung dalam sebuah permainan atau game, jadi sekalinya aku mendaftarkan diri, sayang, aku membawa sepenuhnya diriku, melakukannya dengan serius. Bukan untuk menang, tapi agar bisa bertahan untuk bisa bermain sepanjang waktu bersamamu – selamanya.

Thursday, 4 May 2017

Kita dalam Elegi

aku percaya jika orang-orang setidaknya pernah menerima satu pertanyaan yang membuatnya diam, bukan karena tak punya jawaban, melainkan kepala sulit menemukan kata yang tepat untuk mewakilinya: kalimat-kalimat luruh seketika ketika diminta keluar. mengenai ini, dulu sekali, ceritaku pernah pulang dengan babak belur dari salah seorang editor. ia kemudian mengirimiku pesan, katanya aku harus tahu kapan menggunakan pernyataan yang benar-benar langsung tanpa majas berkias, dan yang butuh metafora. “...gunakan metafora, ketika kamu tahu ada hal-hal yang enggak bisa kamu gambarkan dengan penuh dan utuh jika hanya mengandalkan utak-atik kata, serupa hal yang sedemikian besar, kuat, dalam, atau apa pun hingga kamu butuh sesuatu untuk menguraikannya cocok pada ruangnya,” ujarnya. 

saat itu kupikir, editorku tengah bicara tentang kamu. dan hal-hal yang ia maksud adalah semacam perasaan yang diam-diam orang nikmati sekaligus hindari: jatuh cinta.

lalu, rasanya tiba-tiba semesta mengamininya, ikut merayakannya dengan tanda-tanda yang buatmu terhenyak: sabit yang terbunuh tiap malam demi surya pada paginya, trotoar sunyi yang punya jenis hening yang menenangkan karena pernah ada kenangan yang ranum lewat di sana dan purnama-purnama setelahnya tak pernah punya hening yang sepi, lautan yang selalu pulang pada pantainya, bangku taman kota yang tasnya mengelupas seakan bilang usia kamu dan aku pernah bersama di sana, dan bahasa-bahasa lainnya yang bikinmu menyadari jika ini semua terlalu asing juga indah untuk diterjemahkan sendirian. ia butuh dua yang jadi satu: kita. 

tapi, mencintai adalah penderitaan tersendiri, itulah mengapa ia hanya terjadi pada mereka yang berani. sesederhana itu: apakah kamu-aku demikian?

dalam empat jam lusa malam, kubilang kamu terburu-buru, kausebut aku mengulur-ulur. sedangkan perasaan, sayang, ia bertahan semana jauh orang-orang di dalamnya mampu menoleransi bagian kosong sebuah permainan bingo, sebagai bagian dari pencarian untuk ditemukan lengkapnya. sedangkan siapa saja di dalamnya hanya berupaya agar tidak lupa memberi tahu satu sama lain jika ada yang salah mengambil angka bingo-nya.

nyatanya kita tak pernah punya rasa yang terlampau kuat agar waktu tak semudah itu mengusiknya, kita tak pernah benar-benar memiliki waktu yang cukup panjang supaya rasa tak secepat itu selesai.

pada akhirnya rasa takut itu mampir untuk katakan mungkin saja kita tak lagi berjalan di ritme yang sama. kamu dan aku jatuh cinta seraya membayangkan bagaimana kita pergi satu sama lain. aku pernah mencoba mengundang bayangan-bayangan semacam itu untuk singgah – seperti dipaksa terbelah dari apa yang menjadi bagian dari dirimu: sebab aku kerap berpikir tempat paling sederhana dan liarku adalah di kedalamanmu. memisahkannya seperti memaksa lengan lepas dari tubuhnya, hingga ia lupa bagaimana caranya memeluk seseorang dengan utuh.
andai benar demikian - kamu letih bermain ketika bahkan aku baru mulai -, aku hanya ingin mencintaimu – berani dan merdeka – sekarang ini, bila pun kemudian kamu dan aku sampai pada garis finish yang berbeda, setidaknya di satu waktu, aku bisa menulis roman yang isinya aku pernah jatuh cinta pada seseorang, pernah memilikinya adalah kebahagiaan yang puisi: dan seumpama puisi, ia bisa berdiri sendiri menemukan pembacanya, tanpa harus benar-benar menengok siapa penulisnya. 

aku pernah jatuh cinta pada seseorang, pernah melihatnya pergi adalah kehilangan yang mungkin metafora pun menolak menjelaskannya.

aku (pernah) jatuh cinta pada seseorang: kamu.

Sunday, 30 April 2017

Membayangkan Kamu Pergi


Aku duduk di beranda rumah seorang perempuan paruh baya untuk sebuah penelitian. Ia cerita ini malam ke sembilan puluh empat ia mengecek diam-diam ponsel lelakinya dan menemukan kalimat-kalimat ranum pujangga-pujangga yang terkirim bukan kepada nomornya. 
sumber foto; iStock
Dan, ini adalah malam ke enam ratus lima puluh tiga ia masih tidur bersama lelaki dengan panggilan sayang yang masih, sembari mencintainya dengan penuh kekhawatiran. “Ver, aku memilih tidak bertengkar dengannya sebab aku hanya tak dapat membayangkannya pergi.”
Di seberang meja, sahabat dekatku tengah bertemu dengan kawan seperjalanannya dulu dalam sebuah tur yang melahirkan kenangan-kenangan yang ia simpan rapi di ruang kepalanya untuk diputar tanpa jeda tanda baca. Walau kadang-kadang agak lambat dan acak di tengah-tengah karena sudah terlampau lama dan tua, ia tak pernah bosan. 
Sahabat dekatku akan merawat dan memeliharanya berulang-ulang agar tidak sampai rusak, sembari menyimpan kata-kata serupa aku jatuh cinta padamu, sendirian. “Gab, aku tak mungkin menyatakannya sebab aku hanya tak kuasa membayangkannya pergi.”
sumber foto: pinterest

Dia mengembalikan kunci mobil pinjamannya pada si bos. Gantinya, ia melembur. Temanku itu tinggal hingga separuh malam menjelang subuh di kantor, hampir setiap akhir pekan menuju Senin. Tatapannya sayu, kelopak bawah matanya menghitam, tapi tetap tidak berhasil menyamarkan binar yang menolak redup di sana. Tubuhnya membungkuk kelelahan, namun selalu bisa terjaga seolah cadagang tenaganya tak pernah menunjukkan nol persen. Radio kantornya menyala lagu yang selalu saja sama yang salah satu liriknya punya kalimat; semua karena cinta. 
Ia masih bekerja, demi pinjaman-pinjaman agar tampak tampil layaknya si bos, tanpa benar-benar orang tahu, termasuk wanitanya. “Ro, aku tak ingin dia tahu sebab aku hanya tak mampu membayangkannya pergi."
Aku pulang, melangkah ke dalam kamar yang tak pernah kupasang lampu, jadi sengaja kubuka lebar jendela yang kusennya sudah usang dan berderit tiap dimainkan udara malam, membiarkan berkas cahaya sabit masuk atau sesekali daun cokelat kering berkunjung. Melepas jaket yang basah oleh hujan di kota lain tadi. Lalu membuangnya ke sembarang arah, sama seperti ketika kamu melempar kemeja hitammu ke kolong kasur. Lalu aku memungutnya, mengenakannya sekarang. 
Mendekap tubuh sendiri seakan itu adalah kamu yang tak pernah bisa kubayangkan pergi. Bukan karena apa-apa, aku hanya tak pahami bagaimana mencintai sambil berpikir tentang suatu waktu engkau akan meninggalkanku*.
                                                                                                                                                                   
(*) garis miring berbintang, kalimat ini diambil dari puisi Weslly Johannes berjudul Membayangkan Kau Pergi 
(*) tulisan ini terinspirasi dari puisi Weslly Johannes berjudul Membayangkan Kau Pergi

Aku (Tidak) Menerima Pigura Kosong Darimu Kemarin


aku menerima pigura kosong darimu kemarin. dengan tiga alasan. kamu bilang mungil bentuknya mengingatkanmu pada tubuh kecilku yang bisa kamu lipat masuk kantong. pula, ada kunci yang wujudnya bagai pembuka gembok buku-buku diari, katamu itu simbol-simbolan semacam you’re the key to my heart. atau, inilah yang paling penting: karena kita pernah jalan-jalan ke sebuah museum yang memajang benda-benda yang menimbulkan perasaan-perasaan terlarang, dan aku memilih bingkai tanpa foto sebagai favorit ketika ditanya oleh si kurator. ingatan-ingatan semacam itu yang membawamu pada pigura kosong dan aku.
 tapi kekasih, aku punya ingatan lain. 
pigura itu memajang kelapangan untuk perasaan yang sebegitu luasnya, sebegitu dalamnya
aku menerima pigura kosong darimu kemarin. dulu itu, si kurator sempat bertanya kenapa. aku bilang, bingkai tanpa potret itu seakan memajang kekosongan – cocok buat sebuah rumah yang ruangannya terasa lenggang oleh kehilangan, beranda yang lampunya rusak dan enggan diganti, serta yang dindingnya ditempeli harapan-harapan yang sudah lama aus dan jadi kenangan yang menyerah. bingkai semacam itu akan menyenangkan diletakkan di sana, mungkin di atas bufet berpelitur yang debunya tebal, atau digantung bersama foto silsilah keluarga yang tidak lengkap. dan orang yang menghuninya setiap hari mengandung perasaan ganjil seperti permainan bingo yang tidak selesai. selain itu, kamu sempat melontar tanya mengapa. aku jawab, bingkai yang absen dari foto itu seolah mengajak siapa pun yang memandanginya untuk mengisi sendiri pigura itu dengan bayangan kenangan masing-masing. ia terbuka untuk segala peristiwa dulu atau pun andai-andai besok. pigura yang istimewa. ia bisa paling cocok berada pada dekap sembunyi kesedihan, tapi juga membuka lengan bagi imaji-imaji liar dan paling bahagia sekali pun.
 tapi sayang, aku punya alasan lain.
pigura itu memajang kekokohan untuk perasaan yang sebegitu kuatnya
aku tidak menerima pigura kosong darimu kemarin. sebaliknya, aku menerima pigura penuh darimu satu hari yang lalu. ia kecil, tapi tak pernah terlalu sempit untuk mengisi ingatanku yang lain: kalau kamu memilihnya karena pernah ada cerita tentangku di sana, itu pikiran-pikiran yang mampu membingkai senyum tiba-tiba. dan aku memutuskan menyimpannya sebab ia adalah kepingan kecil darimu, memilikinya adalah kesederhanaan yang menyenangkan. ia ramai, tapi tak pernah terlalu bising untuk memeluk alasanku yang lain: ia tidak sepi seperti pigura yang dipamerkan di museum hingga kubilang cocok diberi rumah yang lengkap dengan segala kehilangannya. ini pigura polos darimu yang punya tempat paling cocok di pojok meja kamar tempat barang-barang favoritku berumah. ia tidur dan sesekali berdiri, sekadar mengingatkan kalau kita berdua butuh punya foto bersama untuk membuatnya jadi lebih sempurna.
sayang, kekasih. apa pun tentangmu dan darimu, bagiku sudah utuh, aku tak butuh lagi yang lain.  

Ulang Tahun yang Diberi Ucapan Selamat (2)


Sekitar dua tahun lalu, aku pernah terlibat percakapan kecil dengan salah seorang kawan dekatku. Kubilang saat masih sekolah, aku sempat memutuskan untuk berhenti merayakan penanggalan dua puluh sembilan April. 
Orang-orang bertambah usianya setiap hari, tak melulu dihitung dengan usia tahun, sederhananya, kamu dan aku sesungguhnya menjalani setiap harinya sebagai hari lahir.
sumber gambar: http://garotasnaamoda.blogspot.co.id
Kawanku membisu. Bibirnya sempat terbuka kecil, hendak mengatakan sesuatu, sebelum kemudian mengatup lagi dengan cepatnya, tampak ragu. Kita masih terdiam. Aku menyandarkan punggung di sofa ruang baca tempatku menyeretnya untuk baca buku. Lama, pandanganku menembus dinding kaca yang menjulang tinggi bagai jendela besar: membingkai taman hijau di sisi trotoar yang bersanding dengan jalan raya. Lenggang. Tiba-tiba, ia melempar celetukan setelah lama menyimpan kalimat.
“Tapi, Ver, entah. Aku takut. Rasanya mungkin kamu benar, tapi jawabanku, aku tetap ingin merayakannya untukmu,” ujarnya kecil, dua bulat manik mata hitamnya menatapku langsung walau binarnya tampak redup. Pandangannya masih belum lepas.
Aku terpaku sejenak di sana dan memutar ulang ingatan-ingatan dua puluh sembilan April yang sudah lewat-lewat. Rasanya bagai tongkat estafet. Di tahun-tahun awal, selalu ada pesta kecil di rumah, Ibu memasak mie goreng, telor merah, kue dengan hiasan mainan dan balon-balon di atasnya yang tidak bisa dimakan, dan lilin angka yang siap ditiup. Tematik di tiap tahunnya, tak lepas dari boneka-boneka yang dipajang, yang dianggap sebagai tamu spesial pesta. Perlahan, tak ada lagi perayaan di rumah – berpindah jadi kejutan-kejutan di ruang kelas dengan kue yang datang tiba-tiba dari balik pintu, kado hasil patungan kelompok-kelompok pertemanan yang dekat, atau keisengan yang bekerja sama dengan guru. Jauh lagi, tak ada lagi perayaan di sekolah – berpindah jadi rencana-rencana sederhana di koridor-koridor kampus dengan skenario yang sama. 
Orang-orang pergi dan beranjak, tapi selalu ada yang baru datang dan berkunjung untuk mengingatkan ulang kamu istimewa.
“Ada alasan kenapa hari lahir akrab dengan pesta-pesta, Ver. Mungkin karena kelahiran memang patut dirayakan dengan bahagia, karena ini anugerah. Tuhan menyayangi mereka yang bahagia atas kehidupan yang Dia berikan. Lalu mengundang orang-orang untuk jadi bagian darinya, bukan melulu mengenai hura-hura, tapi mengajak mereka tertawa dan tersenyum bersama, sebab Ibu dan Ayah juga demikian di hari ini – tanggalnya kamu pertama kali menangis di rumah sakit saking kencangnya ingin bilang, kamu lahir dan siap menggenggam dunia lewat tangan kecilmu. Ulang tahun adalah tentang merayakan terima kasih karena kamu ada.”
Aku tersenyum. Lalu katanya, selamat ulang tahun.
Catatan:
i'm very thankful as always as usual for having all of you
 
it's me and my long distance friendship: Alaya

Kemarin, aku baru saja mengenang dua puluh sembilan Aprilku untuk ke-21 kalinya. Lalu aku merasa tanggal itu jadi istimewa bukan karena itu ialah hari lahirku, tapi karena kehadiran mereka yang membuatnya jadi spesial dan punya tempat untuk disimpan di rak-rak kenangan yang dibuka ingatan bisa membuat siapa saja tersenyum. Karenanya, bersama tulisan ini ingin kusampaikan terima kasih untuk selamat ulang tahunnya dan harapan-harapan baik yang terucap sepanjang hari. Aku berbahagia menerimanya, sebagai bagian dari kasih sayang semesta dan Tuhan karena menghadirkan mereka dalam tahun-tahun kehidupanku hingga hari ini.