Thursday, 17 August 2017

Suatu Hari Kau dan Cinta Mengajak Aku Bercanda

Aku bangun dengan sebelah tanganku terikat pada tiang ranjang. Aku mengerang – semua lelaki seperti itu: mereka membantumu melepaskan pakaian tapi tidak menolongmu mengenakannya kembali. Aku melepaskan diri dengan sedikit geram kesal. Saat itu subuh belum datang, kamar masih oranye oleh penerangan lampu tidur yang hampir redup. Ketika aku hendak beranjak, pria di sampingku menggeliat. Meraihku sekali lagi ke dekapannya. Aku hampir siap sekali lagi ketika ia sampai di lekuk leherku dan berbisik, dia mencintaiku. Aku mendorongnya keras; menamparnya hingga ia benar-benar bangun. Mendadak ia kedengaran seperti kau. 
Dan kau selalu tahu: aku menolak kalimat aku cinta kau sehabis seks. Aku menolak aku cinta kau yang diucapkan tiga puluh dua kali pada enam puluh empat pasang telinga. Aku bukan tak berjuang, aku hanya menolak menahan orang yang memilih pergi.
sumber foto: tumblr
Aku menyambar kimono malamku dari atas lantai. Lalu berjalan menembus ruang tengah menuju teras yang dirayapi halimun dari udara pagi yang masih perawan. Aku kedinginan dan tidak peduli. Jalanan kompleks begitu sepi, kelenggangan di mana-mana mengambil tempat. Perumahan yang tadinya ramai jadi terasa sangat kosong, ketika orang-orang yang tadinya beraktivitas memilih tidur. Tadinya. Aku meraih kotak rokok, menyalakan satu batang. Parumu sudah sembuh? Aku di sini dan tidak berubah. Aku menghisap dalam-dalam tembakau itu, membakarnya di dalam paruku. Aku sedang mencarikannya rumah. Dia butuh aku, karenanya sekarang ini aku akan sering ke sana menemaninya. Sesekali aku juga memberinya uang untuk jajan sebentar. Aku berharap dia segera pulih. Sebentar lagi aku akan mengunjunginya. Aku menghembuskan asapnya keluar dari dua lubang hidungku. Mengisapnya lagi, dalam, sampai-sampai aku merasa siap tersedak olehnya. Andai dia diizinkan tinggal bersamaku. Kau bagaimana? Sudah sembuh? Aku terbatuk. Kau percaya padaku kan? Aku kembali mengisapnya, berkali-kali hingga setengah. Lalu kubuang ke sembarang arah. Kuambil lagi sebatang, kunyalakan lagi. Kuisap lagi dalam-dalam. Jadi kau lebih percaya dia dibanding aku? Kau cinta aku, kau percaya aku. Aku meremas batang tembakau yang terjepit di antara bibirku, bahkan sebelum ia setengah. Kubuang puntung koyaknya. Kuinjak hebat hingga tak ada kepul yang menyisa. 
Kepercayaan tidak diberikan, sayang. Ia dibangun. Dan kau tidak memberiku bahan-bahan untuk menjadikannya kokoh. Ia sering goyah dan aku kerap ragu.

Aku merapatkan ikatan tali kimono di pinggangku. Rasanya belakangan ini sejak-sejak waktu, aku lebih mudah menggigil. Mungkin ada perban yang terbuka dan lupa kututup, hingga udara mudah masuk menusuk tulang, hingga udara mudah masuk membangun rumah di ruang kosong di kedalaman. Udara yang dingin itu. Dan aku lupa – atau kehilangan – cara memeluk diri sendiri. Aku menemukanmu di pesta. Dan dia memiliki ciuman yang seharusnya hanya kita punya. 

Sayang, cinta hanya sementara. Lukanya, tapi. Selamanya.

Suara derap kaki orang terdengar dari kejauhan. Seorang pria paruh baya terlihat mengenakan celana training, kaos polos, dan sepatu olahraga untuk lari paginya. Kulihat lagi, seorang perempuan tua duduk di selasar di seberang rumah, mengamati si pria paruh baya menyelesaikan putarannya. Mari menikah. Kita bangun keluarga kecil bersama. Miliki anak lucu dan keliling dunia. Si pria akhirnya lewat di depanku. Pandanganku mengekorinya. Kenapa selalu tidak. Apa lagi yang kau tunggu. Lambaian tangan kecil diberikan si pria pada perempuan tua di seberangnya. Aku tersenyum kecil. 

Kita hidup dalam kemungkinan-kemungkinan, sayang. Aku takut aku hanya belum menemukan seseorang yang mampu membuatku menjawab iya.  

Aku membungkus pandangan, menundukkan kepala. Membawa langkah pergi masuk ke dalam rumah. Kau tahu apa yang lebih buruk dari berita-berita di koran? Kita.*

--
*dikutip dari sajak puisi karya Andi Gunawan
*tulisan ini jadi puncakku merayakan patah hati (setiap malam yang diam-diam) selain dengan membaca puisi keras-keras, merekamnya, lalu mendengarnya sekadar untuk menemani kesendirian yang semakin sering mengajak bercanda ketika aku kehilangan cara tertawa

Wednesday, 9 August 2017

Karakter yang Bertenaga ala Darwis Tere Liye (2)


“Mengukur kebutuhan karakter dalam sebuah cerita mudah saja: hilangkah tokoh itu, jika memang tidak berpengaruh, maka si tokoh memang tidak penting, sia-sia saja dimunculkan. Jadi pastikan tiap karakter yang diciptakan itu memang kita butuhkan dalam cerita,” ujar Tere Liye, menyambung kelanjutannya dari topik ‘Ide’ menuju ‘Karakter’.
Dalam kesempatannya mengisi lokakarya ‘Ide & Karakter’, Tere Liye menguraikan bahwa amunisi sebuah cerita (novel) sangatlah terbatas jika dibanding dengan film. Jika cerita hanya memiliki kalimat dan kata-kata untuk menciptakan banyak hal sekaligus: karakter, latar, alur, dan sejenisnya, film punya kekuatan visual, musik, mimik ekspresi aktor/aktris, dan sebagainya. Oleh karena menyadari itu, sebagai penulis kita harus mampu memanfaatkan semaksimal mungkin elemen yang dipunya. Memandang keterbatasan itu sebagai tantangan. Salah satu caranya untuk menggiring cerita yang kuat dengan segala keterbatasan itu adalah melalui karakter. 

sesi kelas sharing dan disccussion 'Ide x Karakter' bersama Tere Liye
Bikin Profil Karakter Sedetail Mungkin
Karakter harus dibuat sesuai dengan kebutuhan cerita, karena karakter yang nanti menjadi suara dan penggerak plot. Karena alasan itu, Tere Liye menyampaikan bahwa wajib hukumnya bagi penulis membuat profil detik mengenai karakter yang dipakai. Seluruh informasi mengenai si tokoh memang tak harus muncul semuanya dalam cerita, semisal jika golongan darah atau fobia si tokoh tak perlu disebutkan dan memang tidak diperlukan dalam cerita, tak perlu disertakan. Tapi, kita sebagai penulis wajib membuat dan mengetahuinya sebagai cara kita lebih mengenal kepribadian tokoh. Jika kita sudah mengenal luar dalam si tokoh, akan lebih mudah menggerakan kebiasaan-kebiasaannya, mengontrolnya menghidupi cerita. Maka, tips pertamanya adalah detailkan karakter buatan kita.
Show, Don’t Tell
Ini mungkin pengetahuan lama, tapi kerap dilupakan penulis. Cara terbaik untuk membangun kepribadian atau karakteristik si tokoh adalah lewat penceritaan. Kita akan tahu apakah karakter kita sudah baik atau belum, ketika pembaca selesai membaca cerita kta dan masih teringat-ingat oleh tokoh yang kita buat (memorable).  Dan itu bisa dibangun lewat cerita yang digerakkan oleh karakter-karakter kuat. “Ini yang harus dicatat: kembangkan karakter harus lewat cerita, bukan deskripsi yang langsung menyebut begitu saja. Bisa fatal,” tandas Tere Liye dengan nada serius. Karena dengan begitu, karakter akan jadi lebih bertenaga.
Jika sulit, Tere Liye menyarankan untuk membuat karakter berdasar orang yang dikenal di sekitar kita. Bahkan dia pernah membuat karakter berdasar dirinya sendiri sebagai tokoh utama. Itu tidak masalah, asal bagaimana kita mampu menyampaikan gerak karakter kita lewat cerita. Kuncinya adalah lewat cerita. Show, don’t tell. “Di Negeri Para Bedebah dan Negeri Ujung Tanduk, tokoh Thomas saya akui adalah diri saya sendiri, hanya saja saya kemas sepuluh kali lebih hebat dari saya aslinya. Di Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin,  tokoh Danar juga adalah saya sendiri. Cuman, saya buat sepuluh kali lipat lebih galau dan enggak jelas dari aslinya saya, hehehe.”
Observasi Panjang
Karakter pastinya berdekatan sekali dengan adegan. Bagi Tere Liye, membuat adegan kuat yang berkarakter memerlukan observasi panjang. 

“Berlatih menulis baik adalah pekerjaan panjang yang memerlukan observasi tiada habisnya. Saya paling suka mengamati dan mengobsevasi hal-hal sekitar, walau tidak penting, tapi suka saya gali dan simpan di kepala seperti keping-keping puzzle. Keping yang saya yakin akan berguna demi membuat adegan bagi karakter saya,” jelasnya.

Tere Liye mencontohkannya seperti ini. Anak muda awam zaman sekarang apabila sedang mengantre di mini market, sering kali hanya bermain ponsel dan memperbarui status media sosial. Tapi jika anak muda itu berniat jadi calon penulis, yang dia lakukan berbeda; dia akan mengajak ngobrol petugas minimarket lainnya seraya menunggu antrean. Obrolan ringan yang kendengarannya tidak penting selayaknya: makanan apakah yang paling laku di minimarket ini, apa saja yang baru distok ulang, mana yang paling sulit terjual, dan semacamnya. Lalu, anak muda itu akan pulang dengan keping informasi kecil yang terekam dalam otaknya. Terus begitu di tiap kesempatan yang ada, memanfaatkan peluang-peluang untuk mengumpulkan informasi. Tujuan dan gunanya apa?

“Keping seperti itulah yang nantinya kita tarik dari ingatan kita untuk kemudian disusun jadi utuh, ditemukan sudut menarik memulai cerita dari sana, atau lalu ditransformasi jadi pelengkap-pelengkap cerita. Kelihatannya aneh, tapi tahukah kita, setiap jengkal kehidupan kita sesungguhnya adalah ide dan inspirasi itu sendiri. Setiap inci dari kehidupan kita adalah latihan menemukan sudut pandang spesial,” tukas Tere Liye yang jadi pernyataan penutupnya mengakhiri sesi kelasnya yang hanya sekitar 30-45 menit.

Jujur saja, ketika diceritakan hal ini, aku jadi merasa deja vu. Aku memang suka sekali kepo dengan hal-hal ringan yang dianggap abai oleh sekitar. Salah satunya adalah aku mengajak obrol kenek bus transjakarta sepanjang Cyberpark Karawaci – Poris, menanyainya macam-macam tentang lelahnya pekerjaan dia yang mengharuskannya berdiri sampai bagaimana membaca jeda waktu antar satu bus dengan bus lainnya. Percayalah, tips dari Tere Liye satu ini mengenai mengumpulkan informasi remeh-temeh, sungguh menyegarkan pikiran dan membuka kepekaan kita pada lingkungan, tentunya dalam kapasitas kita sebagai penulis.
Pada pesan terakhirnya sebelum kelas benar-benar bubar dan dilanjutkan permateri lainnya, Tere Liye mengajak kita semua untuk keluar dari zona nyaman. Tidak sekadar menjadi genre writer yang membuat penulis hanya terpaku pada satu genre tulisan. Baginya, jika penulis sampai terjebak hanya pada satu genre, dia tidak akan berkembang.
aku: ikut menghadiri undangan Expert Class GPU

"Satu lagi, seluruh pertanyaan kita mengenai tulis-menulis sesungguhnya akan terjawab ketika kita mulai menulis. Menulislah, niscahya seluruh kegalauan dan kegelisahan kita akan pertanyaan-pertanyaan kepenulisan akan terjawab dengan sendirinya.”

Kelas pun berakhir. Sungguh singkat. Tere Liye menolak diajak foto selfie bersama karena sedang terburu-buru mengejar kepulangan. Juga menolak jika foto bersama dirinya diunggah ke media sosial. Namun tak pernah menolak untuk memberi semangat pada siapapun di ruang kelas siang itu untuk menulis dengan segera. Terima kasih!
This entry was posted in

Sudut Pandang Spesial ala Darwis Tere Liye (1)

“Saya tak percaya kalau ada yang bilang ide itu terbatas,” buka Tere Liye dalam lokakarya sekaligus sesi berbagi pada kelas ‘Ide & Karakter’ yang diisinya. Kalimat pembukanya mengingatkanku pada mentorku dulu yang bilang kalau ide selalu ada di sekitar kita, ia bagai menggantung sedia di udara, menunggu kita yang cukup peka untuk menangkapnya dan mengolahnya dengan cara istimewa.
Siang itu (22/7), aku berkesempatan untuk hadir dalam kelas menulis Expert Class yang diselenggarakan Gramedia Pustaka Utama di Jakarta Creative Hub, sebagai rangkaian acara puncak atas kompetisi lomba menulis novel YA & Teenlit Gramedia Writing Project angkatan 3. Salah satu permaterinya adalah novelis laris Tere Liye. Dengan pakaian kasual santai ber-hoodie kelabu, Tere Liye memaparkan materinya dengan penuh canda. Membuat kelasnya menjadi salah satu sesi yang menyenangkan berisi tawa, juga pengetahuan yang bernas.

(kanan ke kiri: Aan Mansyur, Rosi L. Simamora, Tere Liye)
Berpikir Di Luar atau Tanpa Kotak
Buat Tere Liye, tema tulisan bisa apa saja. Beragam dan bermacam-macam, terserah ingin berangkat dari topik yang seperti apa. Namun kuncinya satu bagi mereka yang penulis baik: selalu mampu menemukan sudut pandang spesial. Inilah letak perbedaan mereka yang awam dengan kita yang ingin jadi penulis. Penulis selalu cukup peka dan kreatif untuk berpikir beda: di luar kotak atau bahkan tanpa kotak itu sendiri. Sampai pada penjelasan singkat dengan penuh penekanan atas ‘sudut pandang spesial’ itu, Tere Liye berhenti dan mendadak mengajak seluruh peserta untuk berlatih membuat satu paragraf dari satu kata: hitam. Kami ditantang untuk menemukan sudut lain yang menarik dari sebuah ‘hitam’, hanya dalam waktu kurang dari lima menit.
Saat itu aku dengan terburu-burunya menulis, “...aku kehilangan kedua bola mataku kemarin. Setiap harinya adalah malam, dunia yang kukenal kemudian hanyalah hitam.” Begitu pula peserta lain, yang diminta membacakan hasilnya. Tanggapan Tere Liye kemudian menjadi bagian paling penting.
Menurutnya, mengapa rata-rata memaknai hitam sebagai warna. Tere Liye bercerita, dia pernah mengisi lokakarya di sebuah sekolah tinggi yang mana pesertanya hampir seratusan orang. Dia melakukan tantangan kecil yang sama, dan sekitar puluhan orang bahkan hampir sembilan puluh persennya menulis hal yang tak jauh berbeda; hitam diletakkan sebagai warna atau makna kegelapan. Sampai kemudian dia menemukan satu anak yang menceritakan bagaimana sepotong warna bernama hitam adalah si tukang telat, hingga warna-warna lain memusuhinya. Itulah alasan mengapa hitam tak ada dalam deret mejikuhibiniu-nya pelangi. Kami pun tertegun.
“Itu yang saya maksud menemukan sudut pandang spesial. Jadi, langkah pertama bagi penulis untuk mengolah ide jadi hasil yang menarik adalah sudut pandang spesial!” tegas Tere Liye sekali lagi. 

suasana Jakarta Creative Hub yang hari itu jadi tempat dilaksanakannya Expert Class GWP #3
Penulis x Koki
Selain hitam, Tere Liye banyak memaparkan contoh kasus bagaimana penulis yang mampu menemukan sudut pandang spesial dari sebuah ide, akan menemui keberhasilan menulis ceritanya. Salah satunya adalah novel Ayat-ayat Cinta karya H. El-Shirazy. Selama ini pola kisah romansa selalu berlatar kota metropolitan, negara-negara Eropa dan Asia yang jadi tujuan wisata penuh keindahan. Tapi pernahkah terpikir untuk memasukkan negara seperti Mesir, ditambahi bumbu keagamaan dan adat yang ketat? H. El-Shirazy melakukannya. Keluar dari zona nyaman pola cerita roman selama ini. Beliau menemukan sudut pandang spesial yang tak didapatkan orang-orang.
“Bagi saya, pekerjaan penulis mirip dengan koki. Bahan makanan yang biasa saja bisa diolah jadi makanan lezat di tangan koki handal. Ide yang umum bisa saja dikemas jadi cerita menarik di tangan penulis yang punya sudut pandang spesial,” tutur Tere Liye sebagai penutup, lengkap dengan penekanannya di kalimat terakhir.
This entry was posted in

Friday, 4 August 2017

Langit Malam Itu Berwarna Biru

Di lahan parkir sebuah mall, aku melompati tali pembatas antara kendaraan dan ruang jalan. Tidak terlalu tinggi, bahkan tidak mencapai betis. Aku berjalan masuk ke lobi pusat perbelanjaan itu akhirnya. Rasanya tak ada yang istimewa, tapi lompatan kecil pada tali pembatas itu mengantarku pada waktu yang dulu sekali ketika masing-masing dari ujung tali dipegangi oleh dua orang teman sepermainanku. Mulai dari sebatas pinggang, dada, telinga, kepala, hingga puncak merdeka. Aku memejamkan mata, masih segar salah satu di antara mereka berteriak, ver, lo ‘kan jago, masak kayak gini harus jaldu-jalti. Kapan terakhir kau melempar kerikil ke arah jendela kamar teman tetanggamu untuk memaksanya keluar bermain? Jangan menghitungnya. Aku takut menyadari tenggat-tenggat yang menolak selesai, nyatanya telah perlahan memangsa dari belakang. Sayang, kemudian aku terkesiap. Aku rindu. 

sumber foto: teenage mess tumblr
Setelah itu, apa pun yang ditulis di sini hanyalah nostalgia.

Pulang, aku sengaja membuka pagar sedikit lebih lama. Menengok beberapa blok rumah, tempat dulunya aku berlari ke sana seusai mengerjakan peer demi memamerkan mainan baru atau meneriaki nama teman di dalam untuk mengajaknya keluar berbalap sepeda. Tapi rumah itu sudah sepi – mereka sudah pindah untuk kuliah di kota, sesekali pulang tiap akhir bulan ketika senja sudah memudar sepenuhnya, tepat ketika aku masih di jalan menempuh perjalanan pulang dari pertemuan yang menghabiskan tenaga.
Aku melangkah pelan menuju kamar, kelelahan menempeli tiap gerak tubuhku. Terus begitu, semakin lambat. 
Menyadari kenangan yang tiba-tiba jadi lebih berat: bagaimana mungkin waktu mampu menelan orang-orang sekaligus menyuburkan memori tentang mereka yang sudah lama lewat?
Aku menyandarkan punggung ke dinding, mengingat betapa kelebat kabar selain kesibukan yang menghilangkan orang-orang juga kabar-kabar pulang selamanya.
Kau datang bergabung denganku, duduk di sebelah dalam diam sebelum kau bagi juga kenangan kecilmu. Katamu kau dulu punya teman masa kecil yang buat kau jatuh cinta pertama kali, berpikir dia akan jadi sejatinya kau seperti roman novel-novel yang menjanjikan akhir bahagia. Nyatanya itu hanya ilusi yang hilang ketika kita tak lagi memperhatikannya. Kini dia sudah menikah, punya anak, dan mungkin melupakan apa yang pernah kita yakini menahun silam. Lalu kau bisikkan padaku, orang datang dan pergi, mereka yang dulu dekat kini jauh hingga tak paham bagaimana melipat jarak. Kalau begitu, kadang kala yang dibutuhkan hanya sepotong doa sederhana sebelum tidur yang berisi harapan-harapan baik buat mereka. Itu cara menyentuh mereka sekaligus mengurusi kerinduan janggal yang memuncak. 

Sejenis langkah untuk mendamaikan kecamuk nostalgia ketika janji pertemuan hanyalah berupa kemungkinan-kemungkinan.

“Sesekali aku pun suka mengenangnya; mereka yang hadir untuk menciptakan taman bermain untuk menyuapi kanak-kanak dalam diriku dulu. Ingatan-ingatan yang sudah berdebu ketika aku sedang membereskan isi kepala, tapi aku tetap memilih mereka tinggal dan menghuni ruang istimewa tersendiri di sana. Kadang kujaga dalam doa, agar semuanya baik-baik saja. Jika pun tidak, kupikir itu sudah jadi cara terbaik mendamaikan diri menghadapi kesedihan-kesedihan.”
Mulutku terkunci, seperti biasa. Aku memilih diam, membiarkan suara beratmu menyatu dengan keheningan yang merumahkan diri di setiap ruang.

“Sayang, lagipula ketika kausiap menjadikan kelebat-kelebat memori itu sebagai kenangan, itu berarti kau sudah sedia disodori kehilangan yang menyertainya.”

Tertegun. Aku bangkit. Kau membantuku. Kita kembali melangkah ke luar. Berhenti di selasar, menengok langit malam itu yang di kacamata kau dan aku berwarna biru.

Tentang Berita Obituari yang Kau Gunting Dari Koran Kemarin Dan Kau Kliping

Belakangan ini sejak sebulanan lalu, aku menua di sepanjang Slipi-Tanah Tinggi. Aku menggantung kepulanganku pada halte berlantai seng kotor, tempat kucing-kucing liar memilih tidur seraya menciumi tas orang-orang yang sekiranya cukup iba untuk memberi mereka makan. Aku meletakkan keberangkatanku pada halte setengah jadi, tempat bus-bus kosong menunggu orang-orang menemani kesepian di dalamnya. Lalu hampir setiap hari aku melakukan perjalanan yang memanjang karena kemacetan, yang memendek oleh pikiran-pikiran yang mampir mengajak bicara. Sesekali bentuknya pertanyaan yang mendesak dicari jawabannya di antara desak orang yang bersikeras masuk walau tubuh bus sudah begitu penuh, decak orang yang tak dapat bangku, depak orang yang meminta ruang lebih luas; tidak pernah mudah. Sedangkan kau dan aku tahu, semesta punya kegemaran membubuhi tanda tanya pada banyak hal tanpa menyediakan jawabannya. 
sumber gambar: http://www.visit-petersburg.ru/

hampir belasan tahun, aku mengingatnya tak pernah absen dari sesal-sesal yang masih menolak hangus. bagaimana caranya bebas mengikuti hati tanpa terbawa menuju tempat aku kehilangannya?

Aku membenarkan posisi tasku yang terasa begitu berat ketika kauberdiri di dalam kendaraan besar yang kelelahan tapi lupa caranya istirahat di tengah kota yang tak pernah tidur. Sesekali mencari hiburan kecil mengintipi isi pesan singkat yang dipertukarkan orang-orang yang masih melongok layar kaca ponsel di mana dan kapan pun sekeliling menjepitnya. Atau mencuri dengar radio yang hidup tak mampu mati pun segan yang terputar dengan sedikit sekali daya. Atau menerka mana orang yang berpura terlelap agar tak dipilih petugas untuk bangun memberi tempat. Tiba-tiba saja aku teringat dia yang menggunting obituari dari kertas koran kemarin malam, lalu mengklipingnya bagai koleksi jurnal ilmiah yang disusunnya sedemikian rapi. Kutengok pemandangan di luar jendela yang berlari menjauhi laju bus, kautahu sampai di titik ini aku menemukan jika manusia memiliki hobi menyimpan apa-apa yang menyakiti mereka.

aku selalu merasa sempit, kau tahu – disesaki tanggung jawab yang sekarang meminta jadi nomor satu, kenangan-kenangan yang sudah teronggok jadi sampah sekaligus saksi atas kebodohan dulu-dulu. tapi, memikirkannya membuatku selalu cukup luas untuk memberinya tempat. bagaimana kau sanggup hidup hanya memilikinya sebagai masa lalu?

Kenek bus membelah jalan yang dipenuhi gelantungan kepala orang dengan mata jatuh di atas layar. Berjalan tak peduli dengan permisi yang bagai cicit tikus yang tak kedengaran sebelum akhirnya terlindas ban mobil pada pertengahan malam. Berbicara kemudian dengan sang supir sebelum kemudian kembali dan mengumumkan pemberhentian bus yang berubah rute. Aku diturunkan pada halte asing yang lenggangnya terasa ganjil. Mendadak aku lupa alamat rumahku, bagaimana cara pulang. Dan teriakan kehilangan mendadak terdengar begitu nyaring.

dia adalah bukti aku pernah mencintai seseorang begitu dalam hingga tenggelam dan tak tahu cara berenang dengan benar agar semuanya selamat di permukaan. bagaimana kau menjalani setiap hari dengan ingatan yang terus memberi tahu kau sebenarnya adalah sudah mati?

Seseorang asing menghampiriku dengan sepeda motornya. Dia berhenti sejenak, kupikir hendak menjemputku. Namun tidak, dia hanya mendekat menelusuri wajah pucatku lalu bertanya, “Apa kau baik-baik saja?”
--
*ditulis setelah membaca 'perjalanan lain menuju bulan' karya Aan Mansyur
*mengenang seorang pria yang pernah menghubungiku untuk meminta tolong agar aku bisa mengontak seseorang yang dia bilang ' pernah kucintai dengan sangat salah'. 
*beberapa potong kalimat di tulisan ini pernah kuposting dalam stories media sosial aku ketika sedang menaiki bus trans dalam perjuangan pulang yang melelahkan 
This entry was posted in

Thursday, 29 June 2017

Merayakan Kematian

Dulu sekali, aku pernah menonton sebuah acara ajang pencarian bakat. Seorang pemuda menampilkan bagian dari dirinya yang ia rasa paling baik: suaranya. Ia nyanyikan sepotong lagu mengenai Tuhan, kedengarannya pilu. Salah satu juri tampak berkaca-kaca, ia berkomentar bahwa kepergian selalu punya nada-nada rendah yang bicara tentang kesedihan. Namun berbeda dengan rekannya yang lain, wajahnya disinggahi seri dan senyum lebar, dikatakannya mengapa orang-orang memberi makna yang menakutkan dan cenderung gelap pada kematian. Padahal, ketika siapa pun tiada, mereka punya salah satu kesempatan berharga bertemu Dia secara langsung; yang kamu dan aku yakini dan percayai sebegitu damainya selama ini. Lantas, mengapa menyambutNya dengan tangisan, ketika kamu dan aku tahu sesungguhnya salah satu di antara kita hanya pulang ke rumah lebih awal. 
foto: tumblr happy faces
Juri-juri lainnya tampak mengangguk dengan sedikit tertegun menyimak paparan kecil rekan mereka, mungkin menerima sepenggal kebenaran di sana. Aku terdiam lama sebelum akhirnya memutuskan beranjak dari layar televisi, berjalan keluar menuju selasar rumah. 
“Dibanding menyebutnya upacara, aku lebih suka menamainya pesta kematian. Tematiknya kedukaan, dengan kode busana yang menolak warna pelangi. Kau harus datang dengan lebam senja, abu mendung, dan arang malam. Ia punya kesantunan untuk dilarang tertawa. Sapaan apa kabar berganti turut berduka semoga kau kuat yang seribu kali singgah. Digelar setiap tujuh, empat puluh, hingga seratus hari. Siapapun diundang asal ia menyetok air matanya. Ini kesedihan yang begitu istimewa, lihat, ia butuh perlakuan sedemikian khusus.”


Teringat seorang teman yang begitu jauh, pernah mengirimiku pesan via Twitter menanyakan cara menghibur atau memberi kalimat-kalimat penenang bagi sahabatnya yang baru ditinggal orang terdekatnya, bukan yang biasanya, atau celetuk sembarang sahabat dekat. Kupindai pandangan ke arah ujung kompleks, lenggang – rasanya begitu tenang, tapi kamu tentu tahu, hal-hal yang damainya begitu sempurna selalu terasa ganjil. Aku memejamkan mata, terakhir menghadiri pesta yang kamu jauhi itu, mungkin sudah hampir lima tahunan yang lalu. 

Orang-orang menggelar pesta untuk menandai momen-momen yang akan disimpan jadi kenangan, untuk memori yang akan jadi berharga. Begitu juga kesedihan. Kamu dan aku punya duka yang dihormati, karenanya, ia butuh pesta.  Ia perlu hal-hal yang kamu bilang: spesial.

“Aku selalu benci pesta. Dalam riuh pesta, ada kalanya kau merasa begitu sepi di antara ramainya sorak orang-orang yang berlomba mengadu kegembiraan. Dalam senyap pesta, ada saatnya kau merasa begitu ramai di antara lenggangnya isak orang-orang yang berkompetisi mengadu tangisannya.”
Aku mendongakkan kepala. Terkesiap, rasanya aku mendapat kupu-kupu bercorak polka putih dengan sayap hitam yang lewat sekelebat saja. Apa mungkin nenek, yang menahun pergi tapi rasanya masih begitu pasti di sini. 
foto diambil dari after midnight tumblr
 Kau tidak membenci pestanya, kau hanya tidak suka pesta jenis ini datang tanpa rencana.
“Mungkinkah terlintas di benakmu, nisan dibuat bukan untuk mereka yang mati, tapi kita yang hidup? Nisan – lengkap dengan epitaf dan iringan euloginya – dibutuhkan bagi kamu dan aku di sini, sebagai monumen kenangan akan seseorang. Menegaskan jika satu-satunya hal paling buruk dari akbar pemakaman sesungguhnya bukanlah tentang kematian seseorang, tapi mereka yang memelihara kehilangan di sana. Aku tak percaya orang-orang takut kehilangan. Buktinya, mereka masih merawatnya setelah mendapatkannya, bahkan menyuburkannya; mengurung diri, berpikir membunuh kehidupannya, dan dan dan. Tak ada kehilangan yang memanjang kecuali kau merawatnya.”

Aku selalu suka bunga di pemakaman. Aku selalu jatuh cinta pada bunga di pernikahan. Kamu tahu, bunga salah satu bagian dari semesta yang menemani prolog dan epilog menjadi manusia. Ia ada ketika kamu lahir sebagai bentuk mekarnya dirimu, sekaligus hadir saat kamu pergi sebagai wujud layunya dirimu: di dunia. Bunga punya dua mata – kamu tak pernah benar-benar hanya menerimanya satu. Selayaknya: kamu kehilangan, kamu mengisi ulang. Kamu melepas, kamu ikhlas.

Ver,”
Orang-orang memiliki caranya sendiri menghadapi kesedihan. Seorang bapak di Tiongkok mengajak putrinya bermain di liang kubur yang sudah disiapkannya untuk putrinya yang sakit-sakitan. Kawan dekat menyumbangkan sekardus mie instan tiap bulannya ke masing-masing panti yang berbeda atas nama Ibunya yang sudah pulang menahun silam. Sebuah keluarga menyewa kelompok tangis untuk meraung di pemakaman. 

Kamu memilih merawatnya utuh lalu menyimpannya di bilik dalam dirimu dan memutuskan tidak akan sembuh seumur hidup.

“Bangunlah, bangkit, sayang. Tidur dan diam, hanya untuk mereka yang mati. Dan, dengan berat hati kukatakan: kamu masih hidup.”
Sayup kudengar suara televisi dimatikan, lampu dipadamkan, dan nyaring dari balik bilik kamar seorang perempuan paruh baya memanggilku masuk. Aku memutar langkah, melenyapkan diri ke dalam rumah. Mungkin seperti itu kamu dan dia. 

Kamu pulang ke rumah untuk istirahat dan berangkat kerja esok pagi, dia pulang ke rumah yang berbeda untuk istirahat dan jadi malaikat yang bertugas esok fajar. Kamu dan dia: pulang pada rumah yang berbeda. Dia hanya pindah, itu alasan kemarin kamu dan aku mengantarnya, lalu mengatakan selamat jalan alih-alih selamat tinggal.
Sebab, tak ada yang pergi.


*tulisan ini untuk mengenang sahabatku di sekolah dasar dulu yang  meninggal sekitar satu atau dua tahun lalu, dan baru kuketahui sebulanan yang lalu ketika hendak mengontaknya lagi via Facebook.

*juga kupersembahkan kepada seseorang yang mengalami kehilangan terbesarnya, dan seminggu awal keras kepala berdebat mengenai kematian denganku, lewat ini ingin kusampaikan padanya aku mencintainya bersama kehilangan-kehilangan yang ia pilih untuk tidak disembuhkan


*dari mereka yang kehilangan, aku belajar bahwa kematian tidak membuat kehidupan jadi sia-sia bagai penungguan pada ajal, sebaliknya, kehadirannya -  yang mengintai dari balik dinding kafe tempat kamu dan aku pertama berkencan, mengintip dari meja kerja apartemenmu, membidik dari bilik toilet umum yang baru kamu pakai, dan dalam ketiba-tibaan yang tak kamu dan aku beri rencana - , adalah cara Tuhan membantu kamu dan aku memaknai kehidupan, ia bukti nyata anugerah memang ada.
This entry was posted in

Wednesday, 17 May 2017

Kutipan-kutipan Favoritku dari Novel 'You Got Me'

Ada kalimat-kalimat yang dilontarkan tokoh-tokoh dalam novel You Got Me, yang menjadi favoritku. Kupikir itu karena beberapa kalimat itu kerap mewakili apa yang hendak hati ingin sampaikan, mereka memberi ruang bagi perasaan untuk bicara. Kutipan yang kufavoritkan mungkin berbeda dengan yang kamu suka. Buat kamu yang sudah baca, bisa berbagi mana kutipan favorit dalam buku, versi kamu! Kutunggu ya!

Cinta yang Memilih Bertahan

Selain Persahabatan

Senja Di Matamu

Menghapus Ragu

Pulang

 Nama Lain
   
Jadi Diri Sendiri

Ini kutipan-kutipan favoritku, kalau punyamu?
Eh, enggak tahu kutipan favoritmu yang mana karena belum punya bukunya? Mau tahu cara dapetinnya? Cuma 39.500 rupiah lho, kamu udah bisa dapetin novel setebal 202 halaman ini. Bisa langsung klik gambar di bawah ya!

3 Tempat yang Jadi Setting Novel ‘You Got Me’ Ini Beneran Ada Lho


Selain sekolah SMA di kawasan Kota Tangerang yang jadi setting utama novel soloku kali ini, ada beberapa tempat lainnya yang sengaja kuciptakan dari khayalanku dan ada juga yang memang nyata. Coba tengok yuk!
Times and Books (fiction) x Books and Beyond (real)
Di tempat ini, aku banyak mengolah adegan Rafa yang jadi dirinya sendiri: melakukan hal yang disukainya, hobi yang dulu diminta berhenti. Bayanganku, mereka duduk di sebuah kafe berlantai dua yang didesain dari gabungan konsep bar dan perpustakaan mini. Memilih bangku di pojok ruang, Rafa mengeluarkan peralatan menggambarnya, memulai coret-coret beberapa frame. Di sana ia ditemani Violet yang membeli novel dan membaca di sana, diam. Kamu tahu, kedekatan kita dengan seseorang bisa dilihat dari seberapa nyaman dan tenang kita berdiam dengannya tanpa bicara. Mereka melakukannya hampir tiap pulang sekolah, di kafe Times and Books. Lalu mengambil duduk di dekat jendela besar yang membingkai pandang kesibukan orang-orang di atas trotoar.
Dan, imajinasi akan kafe ini aku adopsi dari Books and Beyond (huehehehehehe, padahal aku sendiri kalau beli buku di sini, langsung bungkus pulang aja dan jarang nongkrong).

times books cafe
 
books and beyond bookstore
Hotel Fisher Castle (fiction) x Istana Nelayan Hotel and Restaurant (real)
Buat yang udah baca, pasti tahu kalau pembuka dan jelang penutup novel ini punya setting di Hotel Fisher Castle. Dimulai dengan undangan reunian yang diterima Violet di Hotel Fisher Castle, ia diajak untuk menelusuri sekali lagi perasaan di masa lalunya yang belum tuntas. Bedanya dengan dulu, kini ia sudah punya jawaban. Tapi mungkinkah semuanya sudah terlambat? Ehm, di Hotel Fisher Castle itulah, Violet mencari-cari sesuatu yang sempat ketinggalan.
Dan, bayangan soal Hotel Fisher Castle ini aku riset dari Istana Nelayan Hotel and Restaurant (Dulunya saat pesta kelulusan, sempat ingin menyewa di sini, tapi enggak jadi, akhirnya di gedung HAPPY. Pesta reuni SMA-ku pun enggan jadi di sana, tapi Bandar Djakarta. Walaupun begitu, aku berupaya menjadikannya nyata di novelku).
ada adegan pool party Hotel Fisher Castle di novel You Got Me

sumber foto: istananelayan.com, tempat ini jadi inspirasi setting novelku
Victoria Park (fiction) x Victoria Park Residences (real)
Ada adegan yang mana geng persahabatan Rafa-Violet dapat proyek buat bikin film pendek untuk tugas Bahasa Indonesia di Bab Naskah Drama. Saat itu mereka sepakat membuat cerita adaptasi Twilight. Dan, babak-bakbak pertarungan para vampir di hutan akhirnya disetujui diganti di taman Victoria. Banyak sekali hal-hal lucu yang terjadi selama syuting film pendek yang tujuannya serius jadinya parodi.
Nah, taman Victoria ini beneran ada, nama aslinya Victoria Park Residences. Semacam taman di kompleks perumahan Victoria (syuting film pendek yang kumasukkan adegannya di novel pun benar terjadi di lokasi yang serupa).

ini foto ilustrasi Victoria Park bagian bunderannya, aku enggak nemu foto tamannya

Victoria Park jadi salah satu setting novel Yout Got Me
Jadi, sudah baca novelnya belum? Kalau sudah, mana setting dan adegan favoritmu di novel Yout Got Me? Atau, belum punya? Coba cek di bawah ya!

http://andipublisher.com/produk-0217006265-you-got-me-my-lucky-love.html