Jumat, 12 Agustus 2016

Bahasa Kesedihan



Aku masih mengenakan kemeja hitam yang kamu berikan padaku sejak minggu lalu. Potongannya sederhana, tanpa model, gelap malam polos. Itu jenis kemeja yang tak berusaha berbicara, ia hanya ingin membungkus tubuh manusia bagai memeluk dengan lembut mengatakan semuanya baik-baik saja, dalam diam. Baru kusadari begitulah desain seragam untuk berduka. Dan aku tak mungkin lupa, ketika membuka paket darimu di teras rumah, ada secarik kertas bertuliskan tangan yang menempel di bungkusan baju, isinya:  
setidaknya setiap orang harus punya satu kemeja berwarna hitam di lemarinya.
Mulanya aku sibuk bertanya-tanya. Sampai akhirnya siang itu kudengar kabar kepulanganmu.
sumber gambar: favim.com


Tenang saja, aku tak akan bertanya bagaimana kehidupan bersama Tuhan di sana, apakah rupa Taman Eden sesuai dengan yang biasanya kita lihat di lukisan-lukisan, atau mungkinkah kamu masih bisa membaca buku favoritmu di sana, dan lain-lain. Aku juga tak akan menangis. Aku tak akan melakukan apa pun yang menandakan seakan-akan kamu masih hidup.
Kamu tidak hidup. Juga bukan mati. Kamu hanya pulang. Aku memahami itu – kita berdua telah sepakat bahwa semesta ini adalah tempat singgah. Kita semua hanya melakukan balap-membalap tentang siapa yang paling lama bertahan di sini, sebelum akhirnya kembali ke rumah. Bahkan kesedihan yang menjadi kabut di pemakamanmu juga berkata padaku; baik-baik saja. Mereka berpora dengan baik di tiap pasang mata di sana. Orang-orang menangis.
Aku tertawa. Satu persatu orang menengok ke arahku dengan pandangan heran bercampur janggal. Mungkin mereka berpikir aku orang yang bahagia kamu pergi. Aku jadi teringat obrolan kita bulan lalu sebelum kamu berjanji akan meminangku, kita berbincang soal bahasa kesedihan. Kira-kira inilah topik kita: di sebuah negara yang nomor satu kepadatan dan jumlah penduduknya, ada satu jasa yang menarik: tim yang bisa disewa untuk datang ke suatu pemakaman dan menangis hebat di sana. Semakin tangisan dan isaknya mendukakan hadirin upacara, bayarannya semakin tinggi. Tentunya tanpa diketahui orang-orang yang datang.
“Ah soal itu, aku juga pernah menonton salah satu drama dari negeri Gingseng, yang menampilkan roh seorang manusia yang mencari tiga tetes air mata ketulusan. Roh itu mencarinya dengan begitu susah payah – karena air mata yang jatuh harusnya yang benar-benar mengandung kesedihan yang utuh. Awalnya ia mengira akan mudah mendapatkannya dari keluarga dan sahabat-sahabatnya, tapi nyatanya tidak.  
Kau tak pernah benar-benar tahu berapa kebohongan yang menyimpan diri dalam satu tetes air mata yang begitu mulia kelihatannya,” ujarmu datar.
Tiba-tiba saja, kamu tak menyukai air mata. Aku pun tertawa; sekali lagi.

Dan, kesedihan mendadak saja masuk begitu banyak melalui mulutku yang tertawa saking terbahak-bahaknya.



Catatan tambahan:
Kupikir selalu ada alasan mengapa orang menyalami meninggalnya seseorang dengan ‘selamat jalan’, alih-alih ‘selamat tinggal’. Sebab, tak ada yang benar-benar ia tinggalkan, ia hanya berjalan terlebih dulu untuk menyapa Tuhan, dan kita belum secepat itu sampai. Dan, ‘hati-hati’ terbaik yang bisa dilakukan untuk ia adalah doa.


This entry was posted in

Jika Aku Sakit (2)



Aku menyentuh surat pengantar pengecekan darah. Di bagian bawah selembar kertas itu, dibubuhi cap dokter spesialis dengan dua gelar di depan nama, dan tiga titel di belakang nama. Kupikir hasil tes dan kunjungannya nanti di ruang perawatanku akan menyampaikan kabar yang sudah bisa kutebak. Esoknya, pria paruh baya yang terlihat masih segar itu datang, ia berhenti sejenak memandangiku seraya menyentuh bagian perut kiriku, “Hati; livermu terganggu. Itu sebabnya lambungmu nyeri dan...” ungkapnya lengkap dengan serangkaian penjelasan medis. Lalu, kukatakan ini pada dokter:
sumber gambar: weheartit.com
  “Sudah sejak lama hati itu sakit, Dok. Ia tidak hanya terganggu, ia terusik berkali-kali. Karenanya, aku tidak asing dengan kabarnya. Begini penjelasannya, aku punya kebiasaan menelan kesedihan-kesedihan, sering kali terlalu banyak hingga perutku nyeri. Kesedihan itu – berubah jadi racun yang berupaya dibunuh hati, Dok. Awalnya selalu berhasil, hati kerap mencari penawar yang bisa menghibur kesedihan-kesedihan yang menikam itu, tapi mungkin berminggu-minggu lalu, aku telah meneguknya terlalu banyak hingga akhirnya hati kalah. Terlebih aku sengaja memeliharanya, membiarkannya tumbuh subur, kuberi kesedihan makan setiap hari dengan terus jatuh cinta.”
Kukatakan dalam diam. Tak ada bisikan lemah atau suara yang berbicara.
“Kita rawat dulu ya, hati; livernya. Akan dilakukan juga pengecekkan bilirubin. Besok akan saya berikan obat pelindungnya,” lanjut si dokter sebelum meloyor pergi dengan langkah cepat – masih banyak yang menunggu kunjungannya mengabarkan izin pulang dan kesembuhan; sepintas ingin sekali kubertanya padanya, bagaimana rasanya menjadi orang yang mengakrabi diri dengan penungguan?
Aku memanggilnya. Kukatakan padanya seperti ini:
“Pelindungnya, Dok, aku sudah mencarinya menahun dan tak pernah benar-benar menemukannya. Terakhir kali aku berupaya memilikinya, aku justru menjadi perempuan yang berdiri sendiri di halte bus tua dengan penerangan redup pada pertengahan malam tanpa satu bus rongsok pun yang menjemput. Aku pulang dan mendapati buku-buku puisiku sudah berdebu. Lalu aku roboh – aku tahu aku gagal, hatiku benar-benar telah sakit dan jiwaku mengizinkan kesedihan menggerogotinya lebih dalam dengan suka cita. Bagian terdalam dari diriku tahu, rasa sakit dan luka adalah perayaan atas kehidupan yang kumiliki.”
Kukatakan dalam hening. Tiada bibir yang terbuka atau desis kata.
Tapi, aku sempat memanggilnya. Ia menghentikan langkahnya berpikir mungkin ada yang ketinggalan.
“Pasti akan sembuh, Dok?”
Ia menatapku dengan pandangan terheran-heran, menyerupai bengong datar.
“Tentu. Sembuh kok, akan sembuh.”
“Dok, mungkinkah tak ada orang yang benar-benar sembuh, ataupun betul-betul sehat? Kadang kali, penyakit adalah bahasa tubuh yang kelelahan dan mengaku kalah, sementara jiwa masih berkata siap berperang, tubuh pun mengambil jalan pintas,” ujarku, bisu.
Aku tersenyum.

This entry was posted in

Minggu, 07 Agustus 2016

Lebih Dekat dengan Marvel


Apakah kamu pernah terpikir, tokoh-tokoh yang kamu buat, suatu hari bisa bangkit dan keluar dari dalam cerita, lalu mengajakmu mengobrol – atau bahkan memprotesmu? Aku selalu membayangkan kejadian tersebut akan menyenangkan, sampai itu terjadi pada...Marvel; tokoh cerita yang kuciptakan untuk novel 'Time in a Bottle'.
sumber gambar: favim.com

Mari kumulai cerita ini dengan satu fakta: penciptaan tokoh Marvel tidak kulakukan dengan penuh cinta – dan, aku rasa si Marvel menyadarinya, karena hampir setiap hari aku mendengar rutukannya. Mulanya, aku tidak mengira bahwa tim kolaborasiku akan memenangkan tiga besar outline naskah terbaik dalam workshop yang diselenggarakan penerbit Elex. Karena itu, aku sibuk dengan naskah novel soloku sendiri. Naskah yang pastinya sudah memiliki tokoh-tokohnya, termasuk karakter lelaki, sebut saja AR. Kubuat diriku lebih dari sekadar jatuh cinta pada AR, tapi benar-benar mendengar apa yang AR inginkan dalam dunianya, lantas aku sebagai Tuhan menimbang-nimbang apakah akan mewujudkannya atau tidak. Aku begitu tenggelam dengan karakter AR, sampai akhirnya ... kabar kemenangan itu datang! Artinya satu: aku harus menghidupkan Marvel, jatuh cinta padanya, mendengar keluh-kesahnya sebagai pianis buntung, dan menyelami masa lalunya – seketika aku langsung mimpi buruk.
Jadi seperti inilah kira-kira keadaannya: setengah hati kutiupkan roh kehidupan pada tubuh Marvel. Kuberikan ia sebuah panggung cerita yang harus ia jalani, dan kalau sedang iseng, aku membumbuinya dengan masalah-masalah. Dan, karena aku cukup membencinya – sebab gara-gara Marvel, aku harus mengkhianati AR – aku buat ia terhimpit kondisi yang sulit dan konflik yang mengenaskan. Dalam hati; aku buat buntung ah. Ditinggal pacar mungkin? Enggak usah bangkit dari kursi roda yak! Ugh, nyebelin. Satu persatu orang terkasihnya aku putuskan mati saja. Engga bisa main piano lagi seumur hidup ya J. Marvel pun meraung-raung. Saking nasibnya begitu menyedihkan, akhirnya ia mendapat keajaiban entah dari mana untuk lompat dari cerita! Itu kesempatan satu-satunya ia untuk memburu dan menghakimiku!
Di kursi rodanya, ia mengomel. Aku kesal, kudorong ia dengan kasar agar masuk lagi ke dalam cerita. Dan bayangkan apa yang terjadi? Ia mengancam akan mengacaukan plot ceritanya. Kira-kira dengan ketus dia bilang, “Ini adalah hidupku, kamu enggak usah atur-atur. Takdirku memang menjadi tokoh dalam sebuah cerita, tapi nasibku ada di tanganku bukan ditentukan alur ceritamu!”. Mendadak saja aku terduduk lemas di depan laptop. Dasar tokoh kurang ajar dan enggak tahu diri! Bisa-bisanya begitu, tinggal kutulis ‘endingnya Marvel mati’, habislah kau! – tapi tentu saja tidak kulakukan, bagaimanapun aku membutuhkan dia, hehehe.
Lalu, suatu hari aku bertemu dengan ketiga penulis lainnya yang menjadi teman kolaborasiku. Ketika aku curhat mengenai pemberontakkan Marvel, teman-teman sepakat satu hal; aku memang terlampau kejam dan sadis. Kak Tya menyeletuk, “Kalau aku, enggak mau tokohku nasibnya jelek, kasihan. Cukup aku aja yang menderita, Rachel (tokoh binaan Kak Tya)-nya jangan lama-lama.”
Dan, kebetulan, aku juga sempat membaca berkas wawancara seseorang dengan penulis Ray Bradburry. Dalam laporan tersebut, Ray menyatakan bahwa ia tak pernah mengarahkan hidup tokoh-tokoh ceritanya. Mereka – si tokoh cerita – yang membisikkan kehidupan mereka pada Ray, dan Ray menuliskannya. Ray mendengarkan mereka. Ikut masuk ke dalam kehidupan tokoh-tokohnya. Ray tidak benar-benar menciptakannya. Mereka memang sudah ada dengan kehidupannya sendiri di dalam cerita.
Aku terbengong-bengong di hadapan layar. Kudapati Marvel berdiri dengan tangannya yang sudah terlanjur kubuat buntung, seraya meleletkan lidahnya padaku tanda menang. Satu yang pasti, sejak itu aku mulai belajar mencintai Marvel. Aku tidak menempatkan diriku lagi sebagai pihak yang mengendalikannya. Aku memberinya kebebasan.Dan, hal-hal tak terduga pun terjadi. Marvel membangun harapannya pelan-pelan. Ia bangkit dari segala kemurungan yang kutimpakan padanya. Kutemani ia di tiap paragraf yang ia tulis – ia memegang cerita hidupnya sendiri sampai akhir. Aku memotong beberapa bagian dan memilih satu babak dari perjalanan hidupnya yang pas untuk ditaruh di bab ‘The Ending’, sebelum akhirnya kubiarkan dan kulepaskan ia meneruskan kehidupannya. Terakhir kali aku bertemunya, kami berdua telah berdamai. Dan, darinya juga, aku memahami bahwa tak ada novel yang ceritanya benar-benar selesai maupun betul-betul dimulai.
“Ver, revisi dong atau bikin serial kedua yak yang isinya aku jadi pianis tenar yang dipuja-puja seantero negeri, hehehe,” ujar Marvel memelas.
“Kagak mauuuuuuu.”

Catatan tambahan:
Tidak semua tokoh ciptaanku berdemo seperti Marvel. Ada yang kubuat lebih parah dibanding nasib Marvel, dan si tokoh itu diam-diam saja. Menerima dengan pasrah.

Novel ‘Time in a Bottle’: Dengarkan Bukunya, Baca Musiknya



Kau tahu? Tidak ada perasaan yang benar-benar diam – ia hanya diberi jarak yang cukup jauh untuk tak terdengar oleh seseorang yang membuatnya hidup. Dan, kadang kala, perasaan seperti itu memilih lagu atau cerita untuk mewakilinya berbicara. Ia bukan terlalu malu atau takut, hanya saja, kerap kali perasaan tadi terlampau indah sekaligus duka untuk diucapkan dan didengarkan begitu saja. Sesekali, ia membutuhkan paduan puisi dan musik; yang berarti iringan kata dan nada. Mari menikmati keduanya bersama Marvel, Alora, Rachel, dan Maria di ‘Time in a Bottle’, menemukan cinta dalam sebotol waktu....berikut sebagian daftar musik yang menemani cerita mengisahkan dirinya. 
sumber gambar: cuentacuentospr.com

 1. The Sound of Music
Lagu ini hidup di antara rajutan masa kecil mereka berdua; Christine dan Marvel. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah sepotong sound of music yang dimainkan dari jari-jari kecil Christine adalah kenangan yang berupaya dihidupkan atau justru ingatan untuk mengubur masa lalu Marvel kembali?

“...when i’m feeling sad... I simply remember my favorite things. And then I don’t feel so bad...” And, my favorite is you. – Christine ketika tengah bersenandung, halaman 208


2. Scriabie Etude
Pernahkah kamu berjalan di sebuah tempat yang tak kamu kenali dan tiba-tiba mendengar seseorang asing memainkan piano dengan begitu indahnya? Kamu terbius. Kekhawatiranmu pada hal-hal yang tak kamu ketahui berubah menjadi rasa penasaran. Lalu menjelma kekaguman. Perlahan kemudian, hati menerka-nerka kemungkinan tentang jatuh cinta.

“Scriabie etude,” kataku bersemangat. “Kamu memainkannya hampir semulus permainan Vladmir Horowitz. Bagaimana bisa?” – Marvel kepada Christine di sebuah kapel di gereja.


3. Fur Elise
Musik-musik lama bagai kotak kenangan yang sudah berdebu dan disimpan di bawah kolong tempat tidur. Mereka seakan terlupa dan hilang, tapi ketika kamu menemukannya kembali secara tidak sengaja – apa yang pernah disimpan didalamnya menghajarmu sampai kamu tak tak tahu bagaimana mengatur sesak yang menghimpit dadamu.

“Tidakkah kalian pikir Fur Elise sebenarnya sedang merayakan orang yang jatuh cinta, seperti Beethoven saat menggubahnya?” – Marvel semasa remaja


4. Moonlight Sonata
Hati-hati dengan kecantikan, begitu juga keindahan. Terlalu banyak takarannya akan membuatmu tak sanggup menampungnya, kemudian menangis sebelum memuntahkannya. Kupikir cinta juga demikian?

“Begitu cantik dan indah. Namun, dalam keindahan itu, aku menemukan betapa angsa itu sungguh merana dalam kesepian.” – Marvel ketika menafsirkan Moonlight Sonata yang ditanyakan Janitra, guru musiknya


Tadi itu sejumlah musik-musik yang mewarnai perjalanan cinta dalam novel ‘Time in a Bottle’. Pastinya masih ada lagi nada-nada yang menyelip di antara lembaran ceritanya. Bukan hanya piano, kamu hanya belum mendengar bagaimana Joao bergitar dan Alora menyusun daftar lagu pilihan untuk diputar di radio Makau-Indonesia. Sampai akhirnya kamu akan berhenti dan berpikir; sesunyi apapun kisah cinta yang kamu miliki, selalu akan ada lagu yang mampu memberinya suara untuk bicara.