Sunday, 22 January 2017

Kita Jatuh Cinta Sambil Main Dadu


Aku pernah menunggu pesawat yang empat puluh lima menit lagi terbang ke kampung halamanku dan berharap ada alasan yang membuatnya tertunda. Pengumuman timbul tenggelam di ragam mikrofon dari berbagai sudut ruang tunggu, orang-orang bergerak gelisah. Senja sebentar lagi jatuh, tubuh-tubuh berpindah setengah terbatuk-batuk, mata-mata menempeli jam setengah mengantuk. Terminal keberangkatan domestik. Sisi tengah paling ujung, bersebelahan langsung dengan jendela kaca besar yang menjulang tinggi, tempat favorit yang kuhindari – aku menemukan alasanku di sana.
sumber foto: tumblr frankfurt airport

 Dia menyimpan alasan-alasanku, kamu kerap akhirnya adalah jawaban-jawabanku.

Dia punya manik mata hitam yang tidak mengingatkanku padamu, dengan rambut alis cukup tebal yang juga tumbuh halus di rahang dan dagunya. Menelusuri hutan kecilnya selalu jadi tantangan yang membuat anak kecil yang bandel bangun dalam diri orang-orang. Sore itu, ia mengenakan kaos polos biru tua dengan syal rajutan berwarna cokelat malam. Bangku sampingnya kosong, tapi bukan berarti tidak ada yang mengisinya: cangkir kertas dengan kopi – mungkin Vietnam dengan canda atau Amerika tanpa gula – bukan teh atau cokelat, kamu butuh kopi untuk seorang pembaca Dostoevsky. Aku enam bangku jauh darinya, aku tidak memakai kata pisah seperti padamu minggu lalu, karena tidak ada satu keadaan yang buatku harus pergi, dan dia masih tinggal. Dia melirikku barang sejenak dari balik kemalangan orang-orang yang ditulis Rusia yang ada di tangannya. Kamu tahu, sayang, dia melihatku sebagai peta yang bisa direntangkan di atas meja untuk dibaca dan dijelajahi, dan aku menyadari dia adalah petualanganku – yang salah – berikutnya.

Dia selalu jadi apartemenku dan kamu menjelma rumahku.

Nasi boks dengan air mineral gelas dibagikan untuk penundaan seratus menit ke depan. Aku dan dia – atau dia dan aku – saling beranjak, berpikir mungkinkah ini berakhir dengan bangun bersama pada suatu pagi di hotel Paris tanpa menukar nama, atau sama-sama memelihara apa kabar lewat kartu pos. Tapi, pilihan terakhir terasa begitu aku dan kamu, maka aku menolaknya. Dia mengambil duduk sebelum aku memutuskan di mana, mengarahkan pandangnya padaku sekali lagi, matanya seakan bicara, kemari, aku ingin katakan sebisik rahasia. Aku duduk tepat di belakangnya. Tanpa wajah, tidak ada nama, selain sebidang punggung yang tampak setengah, leher yang terasa penuh karena syal, potongan rambut sedikit acak-acakan.
“...kamu tidak sedang ingin berpetualang, kamu tahu. Kamu tersesat, pemilik pulangmu berganti alamat, kamu harus mencari tahunya, bukan menginap di apartemen asing dan tak lagi kembali. Tuhan menciptakan cinta ketika sedang main dadu, berarti kita bisa mencium kepergian sambil tertawa.”

Dia pasti pergi, tapi kamu sayang, mungkin juga tidak akan tinggal.

Suara perempuan di mikrofon mengabarkan keberangkatan nomor penerbangan tertentu. Dia beranjak tanpa menengok ke belakang, tapi kutemukan bukunya yang ketinggalan dengan halaman pertama memiliki catatan tangannya: hai. kau tahu, beberapa detik lalu kupikir aku jatuh cinta padamu. tapi kurasa kita berdua sama-sama memahami, kehilangan tidak suka bersahabat dengan orang lain. Ia lebih suka sendiri.
Senja benar-benar turun. Petang itu aku menebak-nebak: tidak ada satu pun bagian dari lelaki tadi yang mengingatkanku padamu atau aku sebenarnya tengah berupaya mencari-cari bagian mana dari lelaki itu yang menyerupai kamu, agar bisa kubisiki jika memang Tuhan menciptakan cinta sambil main dadu, mungkinkah sepanjang waktu kita mengucapkan jatuh cinta lalu pergi dan tinggal sambil lalu.
  
*Tangerang yang mendung, 14.43 siang. 

Mengenang 8 tahun lalu pada suatu sore di Soetta atau Polonia (agak lupa) dengan pesawat yang begitu delay, dan diam-diam aku memerhatikan seorang pria dengan laptopnya di belakangku. Aku pernah berpikir jatuh cinta padanya, tapi aku tak pernah percaya pada bandara – tempat pertemuan dengan mudahnya bersua salam perpisahan dan tempat waktu terasa begitu main-main.
This entry was posted in

Friday, 20 January 2017

Dia adalah Pemilik Patah Hati yang Kucintai Sepanjang Waktu


Malam runtuh tepat di atas kepala, dan aku masih terjaga. Menyadari pil yang baru kutegak semingguan ini tidak lagi berguna. Bulatan yang menerbitkan cahaya notifikasi ponselku berkedap-kedip merah – kupikir bukan karena kebingungan mencari cara untuk bertahan hidup, melainkan tidak tahu bagaimana meneruskan rekaman yang kunyalakan sejak dua jam lalu. Mengetahui puisi-puisi yang baru kueja semingguan ini tidak lagi berhasil. Padahal katanya, walaupun puisi tidak menyelamatkan apa-apa, di bibir sajaknya bisa kukecap senyummu berulang kali setiap redup dan berharap*. Tapi, gagal – tak jauh berbeda seperti cara bercerita lewat pesan-pesan yang dihapus sebelum sempat memencet tombol kirim. 
sumber foto: fairy tale tumblr

 Kita memang tidak bisa menyambut kesedihan yang punya baju baru dengan cara-cara dulu.

Menuju satu pagi yang kehilangan bola mata, aku menarik switer biru tua yang menolak kuganti sejak beberapa hari kemarin karena hanya itu satu-satunya benda punyamu yang lupa kamu kirim balik saat kamu bilang tak punya lagi alasan untuk tinggal di sini. Aku pergi menemani diri sendiri ke sebuah teater tua yang hampir bangkrut karena bersikeras hanya memutar filem bisu hitam putih. Ada sisa tiga sampai lima butiran popcorn yang menghitam di samping bangku, dua sedotan bengkok di tangga, dan tiga wadah minum kertas yang ketinggalan di pojokan. Kutemukan juga tiket nonton yang dicetak di kertas koran berbentuk kupon yang sudah remuk di sudut-sudut kaki bangku, sedikit bau keju busuk dan suara pendingin ruangan yang tengah bekerja keras. 

Alasan lain mengapa aku menyukai teater yang sedang batuk-batuk ini, selain karena ia menyetia untuk menyimpan apa-apa yang tertinggal, ia juga menyerupai kita kadang-kadang. 

Pincang tapi memaksa untuk melangkah, pelan-pelan, lalu lupa kalau tak ada kaki yang ke mana-mana karena sudah lama dipotong di meja lelaki berjas putih. Kita hanya pura-pura bisa jalan, menyimpan kenangan-kenangan pernah berlari jauh sampai taman-taman yang cuma ada di kepala.
Dari sana, aku bertemu seorang lelaki asing yang kujawab asal iya ketika dia mengajakku ke mana saja, kapan saja, dan jadi siapa saja. Dia melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang ganjil untuk menarik seorang perempuan masuk ke kamarnya, bagaimana kalau dia membawaku berdiri di sampingmu, saat ini juga, dan sekali lagi jadi kita. Aku tidak menjawab iya atau tidak. Karena, bahkan

aku sudah lupa cara bertanya kamu lebih suka capuccino atau tiramisu. Aku tidak ingat cara bercerita bagaimana aku bisa sampai kafe itu. Lelaki tadi melepasku di persimpangan jalan menuju rumah, katanya ia tidak bisa meniduri kesepian yang sama.

Aku pulang, melirik jam beker, masih menuju satu pagi – andai membekukan waktu semudah mengoleksi jam rusak. Lagipula, mengapa manusia membuat jam ketika kesedihan dan kebahagiaan tak pernah tepat waktu*. Dan kali ini tidak ada pil, atau buku puisi lagi. Hanya ada namamu di layar ponsel yang bergetar sekali, pesan darimu yang menanyakan switer biru tuamu. Aku tersenyum, kamu memang pemilik patah hatiku yang kucintai sepanjang waktu.


*dikutip dari ‘Puisi Tidak Menyelamatkan Apa-apa’ karya Aaan Mansyur

*dinukil dari ‘Percakapan’ karya Agus Noor

Tentang Orang-orang yang Dilarang Menolak Perasaan


Dua hari lalu. Seorang pria yang menolak untuk diajak berfoto tapi memberiku tanda tangannya sebagai ganti bukti aku dengannya pernah bertemu. Tidak ada percakapan bagai teman akrab seperti yang orang-orang pikirkan, tiada jua obrolan basa-basi yang berupaya memecah canggung yang biasa dilakukan banyak orang. Aku dan dia hanya saling diam tidak lebih dari lima menit sebelum mengatakan kalau orang-orang seperti kami berdua dilarang menolak perasaan. 
sumber foto: favim
 Katanya, perasaan sekecil apa pun itu, diambil dan diterima sebagai bagian terdalam dari diri – biarkan itu membunuh atau jadikan kita sepi. Dia melakukannya hampir setiap hari seperti sarapan pagi.
Dua jam setelahnya. Seorang wanita yang menolak menyebut nama aslinya tapi memberiku nama panggilan masa kecilnya sebagai ganti bukti aku dengannya pernah dekat. Ada perbincangan hangat bagai sahabat yang pisah menahun lalu bertemu lagi, ada jua bicara-bicara kecil menyelesaikan keasingan yang masih bersisa. Dia dan aku terlibat bibir yang berebutan memberi suara, sampai dia ceritakan tentang kisah yang baru dibacanya dari sebuah novel favorit miliknya. Dia ulang sambil berjalan pulang: seorang Bapak yang memerintahkan kenalannya untuk memberinya sebuah perasaan sedih yang bisa buat lukisan-lukisannya lebih bergairah dan hatinya lebih hidup. Kenalannya membakar seorang anak depan si Bapak. Bukan anak asing, tapi anak kandungnya sendiri. Si Bapak segera duduk di beranda dan mulai melukis kesedihan yang melumurinya, duka yang memuncakinya – sebelum akhirnya si Bapak berhasil menghasilkan lukisan paling menyedihkan yang pernah dimiliki semesta dan jadi gila.
Dua menit kemudian. Seorang perempuan hampir sebaya dan lelaki paruh baya, mengajakku minum kopi. Si perempuan bilang kemarin dari rumah kostnya menuju kampus dia naik ojek dan jadikan itu puisi. Si lelaki paruh baya katakan dari perjalanannya menuju tempat kerja ia lihat razia polisi yang jadi awal cerita razia hati. Mereka saling tertawa bilang perasaan siap siaga di mana saja dan pastikan ia tetap terjaga menerima kemungkinan-kemungkinan yang bisa diabadikan. 
Dua detik selanjutnya. Aku diam – merasakan kamu membawa kesedihan dan kebahagiaan sekaligus, namun aku tak pernah tahu cara menyusunnya agar rapi. Orang-orang bilang aku sedang jatuh cinta, sesekali patah hati.
This entry was posted in

Kita Berangkat dari Pertanyaan-pertanyaan Tanpa Tanda Tanya


Siapa kamu. Bersediakah kamu menelanjangi diri lalu bersiap mengenakan kata sebenarnya untuk menjelaskan dirimu. Percayakah kamu pada Tuhan. 
Yakinkah kamu nabi-nabimu akan menjadi penyelamat dan menjemputmu saat kamu mati nanti, bukan dosa-dosamu. 
Mengapa kamu suka warna hitam, dan tidak bilang saja kamu suka oranye, ungu, merah, hijau, kuning, biru dan lain-lainnya kamu sebutkan semua jenis warna, yang bukankah kalau dicampur akan jadi warna hitam. 
sumber foto: pinterest
 Kapan terakhir kamu tertidur dan merindukan bibir salah satu perempuanmu dulu.
Apa alasanmu begitu berani membuat seseorang merasa sangat kehilangan dan kembali dengan keyakinan penuh kamu akan diterima dengan hati lapang terbuka. Mungkinkah kamu sempat berpikir mengatakan pada seorang perempuan bahwa dia akan ditolak seluruh lelaki kecuali kamu pernah menyakitinya, karena itu seperti menempatkannya di posisi terbuang dan pilihan terakhir, sedangkan tidak ada seorang pun yang ingin dicintai dengan cara seperti itu. Bukankah itu barbar. Maukah kamu mencoba mengganti kemeja warna gelapmu dengan kaos hitam dan syal setengah tergantung di leher, dan kupilihkan yang berwarna biru tua. Bisakah kamu berhenti bersikap sok ganteng. Mengapa kamu tak pernah menjawab tantangan untuk membongkar semua keliaran dalam kepalamu yang kamu bilang kalau dikeluarkan akan membuatmu kelihatan lebih aneh dari alien, sedangkan mungkin keliaran itu sudah selangkah di depanmu dan kamu hanya kalah dan malu untuk mengakuinya. Apa yang benar-benar kamu pikirkan selain melawan Illuminati tiap kali kamu sulit tidur menjelang pagi, karena yang terlintas di benakku adalah bagaimana bergabung dengan Illuminati dan membunuhmu. Pernahkah kamu beranggapan mimpi-mimpi manis adalah hal-hal yang tak pernah kita dapatkan dan mimpi-mimpi buruk adalah cerminan diri kita sesungguhnya di dunia nyata. Bisakah kamu berhenti memakan daging-daging sialan itu. Manakah keganjilan yang lebih kamu suka: deja vu-deja vu yang tak terjawab atau kematian mendadak. Siapa yang kamu lihat ketika berdiri depan cermin saat bangun di pagi hari dan sebelum lelap di pagi hari. Pernahkah kamu bertanya bagaimana andai kita meninggalkan satu sama lain. Apa benda peninggalan dari siapa pun itu yang paling kamu jaga bagai jimat penyelamatmu yang kamu sembunyikan dari orang-orang agar mereka tak tahu dan menilaimu yang tidak-tidak. Jika kamu punya kesempatan membunuhku, apa cara paling baik yang akan kamu lakukan. 
Dari mana kamu yakin untuk bilang mencintaiku dan percaya saja ketika aku mengatakan hal yang sama padamu.
Apakah kamu menganggap secangkir kopi dengan lipstik merah adalah suatu bagian yang seksi. Kapan kamu pernah benar-benar menemukan dirimu menangis. 
Lebih suka mana, meneguk minuman paling favoritmu sendirian atau menyantap makanan yang jadi alergi dan fobiamu bersama orang yang paling kamu cintai. 
Terakhir, mungkinkah kita berangkat dari pertanyaan tanpa tanda tanya yang berusaha kita temukan jawabannya pada diri masing-masing, bukan dimulai dari perasaan yang orang-orang bilang jatuh cinta. Senyap, kamu dengar itu.
Sayang, sampai di sini, apakah kamu menyadari kita baru saja berangkat dengan begitu acak dan berantakannya, bersama segudang pertanyaan tanpa tanda baca sejatinya. Bukan karena lupa, tapi mereka memang adalah sekumpulan pertanyaan yang kehilangan kemampuannya bertanya. 
Atau itu mungkin bukan pertanyaan untuk dijawab, tapi hanya kumpulan pertanyaan yang kehilangan waktu untuk diberi cerita.
*ditulis beberapa bulan lalu entah kapan, baru diunggah dengan sedikit pengeditan

Thursday, 29 December 2016

Meminjam Sapardi untuk Bilang Aku Ingin Mencintaimu dengan Sederhana Seperti yang Sudah-sudah


aku pergi ke pasar tadi pagi, Sapardi ada di mana-mana. puisiku basah sebelum sempat aku kirimkan untuk dibaca olehnya. padahal, aku ingin bilang padanya kalau aku baru saja bertemu seorang lelaki setahun lalu dan menemukan sederhananya kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. aku mengenalnya lewat suara yang dipakainya memanggil namaku seraya mengetukkan punggung jemarinya di atas meja kantor. dan, waktu itu april, ia memberiku kakek berjenggot dua belas dua puluh lima, tapi bukan itu yang benar-benar kuingat sebagai hadiah ulang tahun. namun ketika dia mengeluarkan kertas catatan kuning kecil dari balik saku jaket hijau tuanya saat aku bilang, aku terlalu banyak dan terlampau penuh menampung bagian-bagian yang dia pernah bilang tak pernah damai dalam diriku. dia membelinya entah di toko apa, semenjak itu dia tidak tahu, dia berhasil membuatku membiarkan diri dibaca satu persatu. 
sumber foto: Tumblr

dia pemilik puisi-puisiku. 

aku ada di pasar tadi siang, Sapardi ada di mana-mana. puisiku kuyup sebelum sempat aku berikan untuk dipindai olehnya. padahal, aku ingin bilang padanya kalau aku baru saja bertemu seorang lelaki enam bulan lalu dan menemukan sederhananya isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. aku menghabiskan sisa-sisa ruang untuk kenangan dengannya dan ini hal-hal yang kuingat: dia memundurkan langkah saat menaiki eskalator untuk menyamai laju kakiku, mengeluarkan ponsel di sebuah festival untuk segera mengunduh aplikasi asing yang sama sekali tidak dia tahu karena tahu aku tertarik dengan stannya, sampai membuka peta digital ketika pertama kalinya mencari tahu posisi rumah mungilku, tiba-tiba mengganti foto profil dengan kartun-kartun yang kupakai untuk mencandainya, benar-benar membeli buku yang kusebut sambil lalu, namanya muncul mengisi kuesioner yang targetnya harusnya bukan dia, dan kerap melempar pandang sebentar ke arahku setiap asyik bicara dengan orang-orang yang penasaran dengannya. 

bagian-bagian itu, yang luput, yang abai, yang lupa, yang katanya tak punya tempat di ingatan, baru kusadari justru hanya bisa ditemukan dua jenis orang: penguntit idiot yang profesional atau aku yang sedang jatuh cinta.

aku pulang dari pasar tadi malam, Sapardi tak ada lagi di mana-mana. puisiku tenggelam di genangan air pinggir jalan sebelum sempat aku poskan untuk dipayungi olehnya. padahal, aku ingin bilang padanya kalau aku baru saja bertemu seorang lelaki sabtu ini, di depanku, dan menemukan sederhananya selamat natal dan tahun baru bisa jadi begitu istimewa dengan membacakannya puisi aku ingin mencintaimu dengan sederhana.  

tangerang yang hujan
ditulis pada satu setengah jam menuju pukul nol-nol, malam sabtu di pojok kamar yang berisik
Desember 08, 2016

Friday, 2 December 2016

Bertanya Lebih Dari Sekadar Siapa Namaku


Jika kamu setuju tiap orang punya kematian-kematian kecil yang mereka simpan sendiri, kamu mengiyakan setidaknya dua hal ini: pembunuhnya adalah kita masing-masing dan setiap harinya adalah perjuangan menyelamatkan diri. Tidak mengherankan, sayang, kita bahkan disebut sebagai cinta yang berjihad melawan trauma*.
sumber gambar: favim.com
Tapi hari ini, aku menolak mendongengkan cerita-cerita yang memakai kata kita. Terlalu banyak bisa berbahaya, karena akan kamu muntahkan. Tulisan yang memuja-mujimu juga terlampau manis hingga aku ketakutan kamu hilang karena tertelan. Sesekali, aku ingin telanjang dan biarkan kamu membaca aku. Menelusuri lekuk tubuhku sebagai konflik-konflik yang kamu telusuri dengan penuh kejutan. Dan, kamu menyadari aku tak pernah sesederhana kelihatannya. 

Pertanyaannya, mungkinkah cinta masih terasa sama dan polos seperti kali pertama, lalu tulus layaknya tepatnya ikrar sepanjang masa, ketika kamu tahu aku tidak seperti ramalan-ramalan lucu zodiak di halaman belakang majalah langgananku, hasil sebaran tarot yang memunculkan kartu-kartu keberuntungan, dan fantasi-fantasimu.

Aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Aku tidak memikirkan Paris atau Leiden. Aku hanya ingin mengamit tanganmu, jalan ke mana saja, tanpa peta, tanpa ponsel yang membantu hidup orang-orang – sekaligus meremukkan kehidupan itu sendiri-, aku ingin kita tersesat – sampai harus terpaksa masuk ke toko yang menjual cindera mata yang bentuknya unik jika tidak ingin disebut aneh, sebagai orang asing yang kedinginan dan lupa caranya saling mendekap satu sama lain. Lalu, di sana kita tidak membeli apa-apa, karena anggap saja kesialan sedang jatuh cinta pada kita berdua karena dompet yang kita bawa kecurian oleh anak kecil yang kelaparan di pasar buah tadi pagi. Kita berlagak bagai pendatang yang cukup kaya untuk bahkan membeli seisi toko itu, kamu mulai bertanya-tanya tentang barang-barang kecil antik favoritmu dan mengabaikan yang paling aneh dan berdebu, misalnya kaca mata berkaca bulat dengan bingkai hitam yang kalau melihatnya mengingatkanmu pada Batavia dan sepeda ontel. Kamu merasa tidak ada yang menarik untuk dibeli – selain kehangatan toko itu yang kamu ambil dengan cuman-cuman, kamu mengajakku menginap di sebuah tempat pelacuran yang menyulap diri jadi motel murah. 

Kamu begitu berani seolah kamu adalah lelaki yang paling bisa dipercaya dan kamu begitu tahu aku – sedangkan kita terlalu banyak menyimpan tetapi dan menyembunyikan padahal. 

Kamu tak menyadari aku diam-diam membeli kaca mata tua itu dengan menukar kalung hadiah dari sahabatku, hanya karena aku merasa si kaca mata terasa mirip denganku.
Cermin entah keseratus berapa yang kuretakkan. Kamu mendengus, mengingat jumlah tagihan termasuk cermin yang hampir pecah yang akan dikirimkan ke rumahmu. Kamu tidak benar-benar mengeluh, kamu tahu aku punya hobi menghancurkan cermin-cermin tiap selesai mematut diri yang tak jauh-jauh dari menyisir rambut yang lebih sering kusut dan rontok. Jadi kamu tidur lagi dengan laptopmu yang menyalakan pekerjaanmu yang tak kunjung selesai. Kadang, kita merasa paling tahu tentang seseorang yang kita cintai hanya karena kita hafal kebiasaan-kebiasaannya, lantas lupa kita terlalu merasa tahu hingga kehilangan cerita dan alasan-alasan yang menyertainya. Dan, malam ini ketika kamu lelap dalam dengkuran, aku dirajai keresahan yang senyap bunyinya hingga tak pernah kamu dengar: tak tahu mengapa harus tidur selain melarikan diri, dan hilang alasan terus terjaga kecuali membunuh diri.

Anggap saja perjalanan ganjil kita sudah berakhir, ini saatnya pulang. Kamu dengan romantisnya seperti tokoh-tokoh cowok di komik Jepang, bilang dengan herannya, Kita pulang? Bukankah selama ini aku memang sudah pulang? Rumahnya kan kamu. Lengkap dengan terkekeh hehehe yang kubilang tak cocok untuk orang penyuka warna hitam sepertimu.   

Aku ikut terkekeh – kamu kira aku terbang hingga atap kamar motel jebol. Sedangkan aku baru saja belanja berbagai wajah di supermarket kemarin malam saat kamu sudah tidur dengan mimpi jadi raja. Tak ada satu pun yang cocok denganku tapi tak apa aku akan menyayangi kepura-puraan. Aku akan belajar menciumi penolakan-penolakan dalam diriku. Kamu tahu, kamu pernah hilang dan aku justru memeluk kehilangan itu bagai kekasihku, mendamaikannya sebagai bagian kosong dari diriku yang baru. Aku tak pernah memusuhi hal-hal baru yang harusnya dibuang, aku sebaliknya memindai cara mencintai mereka, termasuk kamu dan aku.
Aku orang yang rumit, pada akhirnya itu yang kamu katakan sebelum balik ke apartemenmu. Aku diam saja, menurutku itu pernyataan paling konyol setelah dua tahun kita bersama dengan kebersamaan singkat yang kita banggakan. Tidak ada seorang pun yang tidak rumit. Tapi, aku kesal juga, maka sebelum kamu sempat menutup pintu kamarmu, aku menahan tubuh pintu dengan cepat – menarik lenganmu dengan kasar. Lalu, aku katakan kalimat-kalimat pengandaian aneh ini: indomie favorit yang sudah kadaluarsa tiga bulan, lagu-lagu yang paling kamu suka tapi akhirnya bosan karena diputar lebih dari belasan kali setiap hari, cokelat-cokelat Valentine salah alamat, boneka kesayangan yang sudah hitam dan jatuh ke kolong tempat tidur dan tidak dicari pemiliknya lagi, suara sumbang pengamen jalanan, kuku-kuku panjang berkuteks ungu gelap yang dibiarkan mengusam, benda-benda kenangan di gudang yang tak berguna tapi tetap enggan dibuang, ada banyak lagi lainnya tapi aku kehabisan napas. 

Ah, satu lagi, kaca mata tua yang aku beli diam-diam tanpa sepengetahuanmu. Kamu bertanya apa. Aku jawab itu semua terasa seperti aku. Lalu kamu menambahkan, kalau begitu cintamu juga termasuk salah satunya.

Aku tertawa. Kamu masih mengirim selamat pagi dan semoga punya hari yang indah, lalu aku juga masih meneleponmu bilang mau mendengar suaramu dan semua kembali semula: berwarna dan bernyawa. 

*dikutip dari puisi Joko Pinurbo

Friday, 25 November 2016

Tidak Ada Cerita Cinta Hari Ini


Aku menghitung hari awal pertemuan kita sampai sekarang, kira-kira sudah dua tahun lamanya kamu dan aku mengetahui nama masing-masing, menghabiskan waktu dua sampai tiga hari dalam satu bulan, dijebak gengsi dan rahasia-rahasia hati, dihantui ego dan bagian nyawa yang lain. Selama rentang waktu yang cukup lama itu, dongeng banyak mengambil alih percakapan kita; menjanjikan kebahagiaan yang bahkan belum benar-benar kita berdua temui. Puisi terlampau banyak juga melakoni bahasa kita, hingga menelan suara hati yang harusnya bicara yang sebenarnya. 
sumber gambar: faded tumblr
Kamu tahu, sampai tahap ini, kita memang mengizinkan diri meragu, demi bisa meraba-raba apakah kita mencintai satu sama lain atau mencintai masing-masing. Mendustai diri atau memang mengikuti kata hati?
Radio peninggalan marhum kakek – yang pernah kuceritakan padamu begitu ingin punya cucu tukang baca buku – kubiarkan menyala, selalu tiap menjelang pukul sepuluh. Kemudian aku duduk bersila, membuang pandangan menembus kaca jendela rumah yang kabur oleh kering embun dan debu. Lalu menemukan jalan petak perumahan yang menghitam karena lampu kompleks yang tak menyala sedangkan pungutan terus jalan, keliling-keliling. 
Seperti biasa, lampu ruang tamu masih redup dan aku selalu menolak untuk memperbaikinya: tidak ada yang salah dengan keburaman jendela dan keremangan ruang, semuanya punya satu bau menyerupai tubuhmu yang sampai sekarang belum berhasil kuikat ke atas ranjang: kesedihan. 
Kamu terkejut, sejak aku memutuskan memanggilmu sayang, kamu hanya tak pernah bertanya selama dua tahunan ini, lelaki seperti apa yang buatku benar-benar mengeja diri jadi bagian dari perasaan remaja kasmaran? 
Jangan tanyakan pada tulisan-tulisanku – karena kamu hanya akan menemukan keraguan. Tidak pula menengok ke dalam matamu – sebab aku hanya akan mengecup keyakinan yang diusahakan dengan terbata-bata. Tapi, sampai detik ini, kita masih bertukar sapa baik-baik saja, tetap bilang selamat tidur mimpi indah.
Sebut saja lirik lagu, artikel tips percintaan di majalah, atau rayuan sambil lewat, kamu hampir pasti pernah mendengar kalimat ini: jatuh cinta membuatmu teringat seseorang – mendadak mengiringi tiap gerakanmu, tiba-tiba menempel di kepalamu. Buatku, dibanding diburu ingatan dan kenangan, ia lebih layak dibilang pengintaian diam-diam. Aku duduk di ruang tengah rumah dan melihat ada sedan hitam plat sama yang berputar di kompleks lebih dari tiga kali, kupikir itu kamu yang kurang kerjaan ingin memperbarui berita tentangku. Aku makan nasi goreng di sebuah resto kecil tak jauh dari kampus dan mendapati lalu lalang orang dari balik pintu kaca, tiap kali berusaha menengok, kupikir itu kamu yang muncul tiba-tiba entah dari mana. Aku membaca komik yang tokoh-tokohnya membuat orang-orang berkhayal hal-hal tak masuk akal soal memilih pasangan, lalu kupikir aku melihat wajah mereka serempak berganti jadi kamu. Aku ketakutan. Lantas kamu katakan ini romantis, aku meringis. Sedangkan rindu dan teror sering kali beda tipis, apalagi kalau sudah bawa-bawa cinta yang katanya, tak bisa berhenti.
Lagipula, kamu tahu apa yang salah dari kisah roman picisan zaman sekarang, sayang? Kita masih menganggap kebodohan sebagai pengorbanan.
Lagipula, kamu tahu apa yang benar dari kenyataan, sayang? Kita masih membaca kesedihan dengan bahagia dan menyadari ini semua adalah istimewa lengkap dengan segala kepincangannya.
Tidak ada cerita cinta hari ini. Tapi, aku tidak jamin apakah akan terus begitu besok, lusa, atau hari-hari nanti. Sedangkan hati ini kurang ajarnya bilang, kapan kamu akan ada kembali duduk bersama di sini, lagi? Dan berani janji dan tepati: tidak akan pergi.
*tulisan ini dibuat setelah membaca cerpen-cerpen Rieke Sarasvati dan novel Puthut EA, 
dan juga terinspirasi dari: kamu

Gadis Papua Bicara Keberagaman: Perbedaan adalah Alat Persatuan


Potongan rambut keritingnya yang dipangkas pendek dengan poni digimbal rapi, menjadikan ‘mahkota’ yang dipunyainya langsung mencuri perhatian. Ditambah lagi kulit cokelat kehitaman yang membungkus postur tubuh tinggi nan tegapnya, berhasil membuat perempuan itu terlihat mencolok di antara mahasiswa yang tengah berkumpul di Kompas Corner. Tak heran jika aku langsung mengenali sosoknya. Ia yang hari itu mengenakan atasan kemeja merah marun berpadu dengan blouse kelabu tua, spontan berdiri menyambutku dengan seulas senyum ramah. Aku akrab memanggilnya Lina, seorang gadis Papua tangguh yang sekarang tengah menempuh strata satu Ilmu Komunikasi di Universitas Multimedia Nusantara. 
Line (di tengah), ketika mengikuti orientation leader di Curtin University
Dari provinsi terluas di tanah air itu, ada sejumlah keping cerita yang disimpan Lina, berangkat lewat perjalanannya menyapa perbedaan-perbedaan di lingkungan sekitar. Perjalanan yang punya kisah tersendiri, karena tak sebatas di ibu kota saja, namun luar nusantara jua. Padanya, kita diajak menerjemahkan ulang makna keberagaman, dan bercermin sekali lagi tentang warna lain Indonesia.
“Kedua orang tua asli Papua. Kampung halamanku di Jayapura, tapi aku besar dan menghabiskan masa sekolah di Timika. Numpang lahir di Jakarta. Les Bahasa Inggris untuk mengasah IELTS/TOEFL di Makassar. Sempat kuliah di Australia dan Malaysia, sebelum kembali ke Indonesia. Karena aku hidup pindah-pindah, aku jadi punya cerita untuk setiap tempat,” ujar perempuan dengan nama lengkap Herlina Anace Yawang, tanpa sekalipun menanggalkan senyum dari bibir ranumnya.
 Sesekali ia terlihat sibuk mengecek berkas-berkas tulisan yang masuk ke surel Kompas Corner dan meladeni beberapa pertanyaan dari beberapa teman kelasnya, di sela-sela obrolanku dengannya. Lina memang mahasiswa yang benar-benar aktif, selain memegang andil sebagai editor Kompas Corner, ia juga bertanggung jawab dalam kepengurusan lakon ‘Les Miserables’ Teater Katak milik kampus, serta menjabat sebagai bendahara komunitas Pojok Sastra. Namun, di tengah sibuknya manajemen prioritasnya, Lina masih sempat meneruskan cerita.
Lina baru duduk di bangku kelas satu SMA ketika menerima beasiswa dari Prof. Yohanes Surya untuk belajar di Surya University. Ia tidak langsung kuliah, melainkan memperdalam ilmu eksatanya di universitas tersebut. Awalnya ia sempat kaget, perubahan tempat tinggal dan budaya antara Papua dan Tangerang Selatan, sama sekali berbeda. Belum lagi, setelah dua tahun ia menamatkan sekolahnya, ia langsung dikirim ke Australia dan Malaysia untuk melanjutkan jenjang studi lebih tinggi.
“Aku ketemu macam-macam orang dari banyak negara ketika di Curtin University, Australia. Mereka sering tanya asalku dari mana, ketika kujawab Indonesia, sebagian besar dari mereka enggak percaya. Mereka bilang; memangnya di Indonesia ada orang berkulit hitam? Saat itulah kujawab, tentu saja ada, Indonesia memiliki Papua, salah satu tempat yang menyumbang ragam warna Nusantara,” sambung perempuan yang sore itu mengenakan kemeja merah marun berpadu blouse abu tua, dengan nada berapi-api.
Kejadian sama juga terjadi ketika Lina singgah berkuliah di Malaysia, teman-temannya mengira ia berasal dari Afrika atau negara dengan ras kulit hitam lainnya. Sesesering itu juga Lina harus menjelaskan ia dari Indonesia; yang akhirnya membuat mereka bertanya-tanya, sekaligus memandangnya takjub bahwa Indonesia sebegitu kaya dan luasnya, bukan terbatas pada tanahnya tapi juga budayanya. Ada surga kecil keanekaragaman di sana. Terlebih ketika Lina sering menceritakan kebiasaan dan tradisi Papua yang dimilikinya.
“Ada waktu ketika aku merindukan rumah; tempat kenangan kecilku tumbuh subur dan ceritaku pertama dirajut. Dulu saat di Papua, kalau ada perayaan ulang tahun atau syukuran diperingati dengan menggelar bakar batu. Itu tradisi khas, yang mana batu-batu dikumpulkan di halaman rumah untuk dibakar besar-besaran di atas tanah yang sudah digali. Di dalam tanah tersebut, ada sayuran dan daging yang sudah ditimbun supaya matang oleh panas batu di atasnya. Enggak jauh beda sama panggang-memanggang. Menariknya, pas aku ceritain ini ke teman-teman, mereka langsung ajak aku barbekyu-an.” Lina tertawa ketika mengingat momen itu. Betapa banyak hal yang harus disesuaikan Lina di tempat baru, tapi ia tidak menganggapnya sebagai persoalan, sebaliknya hal tersebut adalah kesempatan bagi Lina untuk siap menerima pengetahuan dan budaya baru sebagai lahan belajar.
Tak heran jika proses adaptasi diri, telah jadi sesuatu yang akrab bagi Lina. Perbedaan yang ditemuinya sehari-hari membantunya memahami makna keindahan sesungguhnya. Walau keadaan-keadaan kecil yang ditemukan Lina terus-menerus mengingatkan akan perbedaan yang nyata, seperti sisir kayu khusus untuk menyisir rambut keriting khas Papua tidak akan ditemuinya di negeri Kangguru maupun Jiran, tas anyaman dari kulit kayu kesayangannya yang tak dijual di Tangerang, tatapan pasang mata tiap orang yang penasaran dengan rambut keriting Papua miliknya, tradisi dari kampung halaman yang sulit dijalankannya di kota, dan keadaan-keadaan asing lainnya. Lina tak lantas mengeluh, apalagi menyuarakan perpecahan. 
Sebaliknya, ia bersama kawan-kawan sesama darah Papua yang bersekolah dan berdiam di Perth, bahu-membahu menciptakan komunitas khusus yang mewadahi keunikan budaya Papua dan Indonesia. Dan, selalu saja ada orang-orang yang mampir dalam pertemuan komunitas itu untuk bertanya tentang apa yang Lina dan kawan-kawannya bagi. Lantas mereka saling bertukar kebudayaan, menyatukan pemahaman dengan saling terbuka satu sama lain.
Lina juga mengaku di kampusnya sekarang, Universitas Multimedia Nusantara, tanpa membangun komunitas khusus pun, banyak teman-temannya yang aktif mencari tahu dan akhirnya melahirkan diskusi kebudayaan. Tidak ada yang berusaha sikut-menyikut untuk berdiri di depan dan menyatakan keunggulan sendiri. Perbedaan yang terjadi dan ketidaksepakatan tak dilihat sebagai percikan menuju masalah, justru dialami sebagai rahmat.
Selain itu, Lina juga punya satu misi pribadi: me-rebranding Papua. Lina ingin Papua dilihat sebagaimana yang selama ini banyak diberitakan: tempatnya konflik bersenjata, gerakan separatis, hingga tanah yang tertinggal dari teknologi. 
“Aku mau Indonesia membicarakan perbedaan bukan sebagai kesenjangan, melainkan kesetaraan dan keberagaman yang patut diapresiasi dan dikenalkan. Sebab, keberagaman adalah surga kecil di depan mata, ia buat siapapun belajar sesuatu dan jadikan budaya lebih hidup.” Karena itu, Lina berupaya tanpa henti untuk mengoleksi pengalaman dan mengumpulkan ilmu sebanyak dan setinggi yang ia bisa. Bukan untuk mencapai target pribadi nan berkualitas saja, tapi demi persembahan bagi rumahnya di Papua, juga tanah airnya; Indonesia.
Kunci kesatuan sesungguhnya terletak pada masing-masing individu. Menghargai keanekaragaman Nusantara tidak cukup hanya diam di tanah air, lantas berkata bangga bahwa budaya-budaya yang ada adalah bagian dari kesatuan negaranya. Begitu saja, tanpa aktif berbuat apa-apa, hanya akan berujung sia-sia. Setiap orang perlu untuk keluar dari zona nyaman; pergi ke mana saja, ke tempat yang mana seseorang tersebut jadi minoritas, jadi pihak yang belajar menyesuaikan, jadi posisi yang terbuka untuk menyikapi hal-hal baru dari lingkungan luar, kemudian menjalin keselarasan dalam ragam perbedaan. Kalau sudah seperti itu, semangat persatuan akan menguat, jati diri Indonesia yang toleran akan benar-benar tercipta.
“Kita sering kali memandang perbedaan sebagai sumber masalah, lantas mengotak-ngotakkan diri. Keadaan semacam itu bikin kita melihat dunia hanya dari kotak yang kita buat, sehingga yang tidak sama dengan kita adalah malapetaka, padahal tidak. Perbedaan bukan pusat utama perpecahan, melainkan persatuan. Karena kesatuan terbentuk bukan karena semuanya sama, tapi yang berbeda-beda saling menyatakan diri hidup berdampingan dalam damainya harmonitas. Jadi, perbedaan yang kita namai dengan indahnya sebagai keberagaman, ialah sejatinya alat terkuat untuk menyatukan. Bagiku, mempersatukan nusantara kuncinya bukan pada menyeragamkan semuanya, tapi merangkul perbedaan sebagai sesuatu hal wajar untuk dibagi bersama, memberi warna satu sama lain, dan suatu peluang untuk saling mengisi. Sebab pelangi tidak akan indah jika satu warna hanya berdiri sendiri,” tandas Lina panjang, sambil bangkit dari bangku sofa bundar berkulit hijau. Ia meregangkan sebentar otot-otot tubuhnya setelah lama seharian berkutat dengan laporan dan agenda rapat yang harus diurusnya dalam gunungan berkas.
Jeda sejenak. Kuedarkan pandanganku pada tiap sudut ruangan. Mahasiswa-mahasiswa tampak sibuk mengerjakan tugas, menukar canda dan membaur dengan teman-temannya. Lalu, aku teringat mereka semua adalah teman Lina dari berbagai daerah lain di seluruh Indonesia. Di antara mereka maupun Lina, terlihat gambaran wajah harmoni sebenarnya. Aku tertegun, menyadari setiap orang termasuk Lina, menjadi dewasa dalam perbedaan.
Selang beberapa menit, Lina kembali duduk dan mengikuti pandanganku menyapu keseluruhan ruangan. Tidak ada satu pun di antara kami yang berbicara, hanya diam menikmati riuh perbincangan kelompok mahasiswa yang silih berganti bermunculan. Dan, pelan tiba-tiba, kudengar Lina berbisik kecil di telingaku, sekaligus menjadi akhir dari obrolan kecil kami, “Keberagaman ini, aku menyebutnya anugerah.” (*)

*tulisan ini memenangkan juara pertama dalam ajang lomba penulisan feature Communication Festival 2016 antar unversitas tingkat pulau Jawa, yang diselenggarakan Universitas Multimedia Nusantara


This entry was posted in

Menjawab MEA yang Tak Pernah Main-main


foto diambil di co-working space ruang Dorado, Skystar
Sore itu, ketika langit jingga singgah di Serpong, aku menemui seorang lelaki berpakaian kaus hitam lengkap dengan jaket kain berwarna hijau army di inkubator Skystar Ventures, Gedung New Media Tower Kampus UMN. Senja yang jatuh di tempat kerja lelaki itu, seakan mengabarkan jam pulang kerja sudah tiba. Namun, hal tersebut tak membuat lelaki pemilik nama Alvian Dimas, berhenti menekuri layar laptopnya sembari berkisah.
Sebagai CEO dan Founder dari perusahaan rintisan atau startup bernama INIgame.com, kesehariannya tak jauh-jauh dari mengejar waktu dan menyapa gunungan kerjaan. Namun, melewati senja dan menantang malam dengan setumpuk pekerjaan bukan lagi menjadi hal yang melelahkan baginya, karena itu adalah caranya menyiapkan senjata dan perbekalan untuk menjawab MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN).
Alvian tak gentar menyapa MEA yang kerap dipandang sebagai tantangan berisi sejumlah persaingan tak berkesudahan, Ia sudah menyiapkan INIgame.com sejak Februari 2014 lalu sebagai ‘senjata’ untuk bertanding menghadapi MEA. INIgame.com sendiri adalah sebuah perusahaan rintisan atau startup, yang terwujud dari kombinasi impian, kegagalan, usaha, kerja sama, dan jatuh-bangun tim.
“Aku dan tim di INIgame.com, tidak takut pada MEA. Kita bergerak dan bekerja di bidang game, karenanya kita melihat MEA sebagai suatu permainan. MEA seperti quest game yang harus diselesaikan dengan strategi-strategi matang. MEA layaknya mainan baru yang begitu menarik untuk dicoba. Seakan bermain game, kita akan menemui saat menjadi game over dan kekuatan melemah, tapi bukankah dititik itu, kita punya kesempatan untuk mengulang lagi dan menanamkan skill baru? Begitu juga MEA, ini adalah game dengan sejumlah peluang untuk menang,” ujar remaja berusia 23 tahun itu.
Sembari menyinggahi tatapan matanya pada ruang kerjanya yang sore itu sepi di ruang ‘Volans’, Alvian melanjutkan ceritanya. Ia hanyalah bocah kelas enam SD saat pertama kali mengenal game online, dan mulai menjadi gamers pada umumnya. Perlahan, ia merasa menjadi gamers biasa tidak membuat kesehariannya berarti. Alvian membangun tekad dan berusaha mendapatkan posisi sebagai moderator game di sebuah situs game terkenal saat itu; igamebox.com. Usahanya berhasil, mengantarkannya menjadi global moderator yang menangani sebuah forum game. Ketika itu, Alvian sadar jika tengah terjadi krisis informasi antara konsumen dan produsen game. Seperti ada bola lampu kuning yang muncul dari dalam kepalanya yang bilang ‘harusnya ada portal yang menjembatani keduanya’.
Menyadari adanya persoalan yang mengusiknya untuk menemukan solusi, masa pendidikan menengah pertama Alvian pun dihabiskannya dengan belajar membuat dan mengembangkan sebuah situs secara otodidak. Sebelum akhirnya Alvian berseragam SMA dan mengenal jika kekuatan media adalah satu-satunya jembatan paling tepat untuk mengatasi komunikasi antara konsumen dan produsen game. Saat itu, MEA sudah mulai bergaung. Perdagangan bebas dan pasar terbuka yang ditawarkan MEA tak hanya mencakup sektor barang dan jasa, tapi juga tenaga kerja, mulai menyergap pikiran setiap remaja yang akan lulus sekolah, tak terkecuali Alvian.
“Kekhawatiran dan kecemasan untuk kalah bersaing mulai mewabah. Tapi, kalau aku terus fokus pada kelemahan, kapan aku melihat ini sebagai kesempatan membuktikan diri aku bisa? Bagiku, kemenangan di MEA bukan hanya diukur dari seberapa besar pendapatan atau tinggi jabatan kita dibanding lawan main, melainkan bagaimana aku bisa berperan bagi diri sendiri dan masyarakat di dalamnya,” lanjut Alvian, sambil sesekali mengelap kaca mata berbingkai hitam miliknya yang tergeletak di atas meja kerjanya. Aku mengalihkan pandang pada meja kerjanya yang sering kali menenggelamkannya pada setumpuk kerjaan, tempatnya memonitor hasil kerja kesembilan karyawannya yang semuanya adalah mahasiswa remaja lokal yang ahli di bidangnya masing-masing, dan ‘rumah kedua’nya untuk menerima kunjungan kawan. 
 Pekerjaan Alvian setiap harinya menuntutnya bermain di segala peran, baik menjadi public relations, pelaku IT, hingga gamers itu sendiri. Seluruhnya bukan serta-merta mengejar pemasukkan iklan yang jutaan rupiah, tapi juga menyelesaikan persoalan komunikasi dan edukasi game yang sempat mengusiknya beberapa tahun lalu. Itu membuat pekerjaan dan tim yang dimilikinya berbeda dengan kompetitor lain yang bersaing bebas di MEA nantinya. Sebab, Alvian selalu bilang pada diri sendiri dan kawan-kawan satu tim setiap harinya jika mereka akan bekerja dengan hati.
Bagi Alvian, kunci utama untuk ‘menggembok’ MEA agar tidak mengancam remaja, tidak cukup hanya dengan mendalami kreativitas, berpikir beda, membenahi kesiapan dan meningkatkan kemampuan, tapi juga mengiringinya dengan cinta. Maka, pastikan ide bisnis dan rencana kerja ke depannya adalah hal yang disukai, itu akan membantu seseorang menghadapi kegagalan. Alvian bersama INIgame.com pernah jatuh berkali-kali, mulai dari konsep awal INIgame.com yang kalah saat kompetisi business plan di kampus UMN, sulitnya pendanaan di awal-awal, hingga kebingungan menentukan kanal-kanal berita game yang harus dipublikasikan. Tapi, Alvian menyukai game, menyelaminya bertahun-tahun, dan jatuh cinta padanya. Jatuh dan gagal adalah perkara bangkit lagi. Bersaing di MEA adalah tentang berani bermain dengan kepala tegak. Keyakinan dan kepercayaan pada impiannya, akhirnya berhasil membawa INIgame.com diinkubasi oleh Skystar Ventures, salah satu inkubator dan tempat co-working bisnis yang berlokasi di lantai dua belas Gedung C Kampus UMN.
“Kita punya amunisi-amunisi yang kuat untuk melawan MEA, mengapa harus mundur dan takut? Walaupun gagal, bukankah nantinya kita akan belajar dari pesaing kita agar lebih baik lagi? Kita hanya perlu sedikit optimisme untuk menggenggam MEA,” tambah Alvian, kali ini ia beranjak dari meja kerjanya, berjalan-jalan sejenak melepas penat yang menjerat. Lalu, lelaki kelahiran 9 April itu tersenyum padaku dan bercerita lagi dengan nada pelan berkaitan ‘amunisi-amunisi’ yang akan ditembakkannya pada MEA.
Tiap harinya, ia dan timnya tak pernah absen untuk melakukan networking dengan key person  dari produsen dan perusahaan game. Selain untuk membangun koneksi, juga sebagai kolaborasi. Hal ini berguna agar INIgame.com sebagai portal media game online Indonesia, bisa menguasai titik-titik penting di pasar. Alvian juga memastikan INIgame.com menyediakan versi dual language, jadi tak hanya menyentuh konsumen lokal tapi juga luar. Lalu, menyulap INIgame.com menjadi wadah bagi remaja-remaja kreatif dari lokal untuk menjejaki pengalaman, mengasah keterampilan, dan mencicipi dunia kerja. Terakhir, INIgame.com juga hadir sebagai tempat edukasi bagi remaja-remaja yang tertarik di bidang game, dengan harapan bisa mencetak anak muda siap kerja yang percaya diri dalam menembus MEA.
Terkait banyaknya peran dan pekerjaan yang harus dilakoni Alvian, hingga membuat waktu kerjanya meniti langit gelap malam, Alvian tertawa kecil sebelum sempat menjawab,
“Jika raja tidak benar-benar memimpin, bagaimana ia bisa berharap orang-orang di bawahnya akan mengikutinya? Kamu tidak menjadi pemimpin karena kamu cerdas dalam segala hal dan bisa memerintah begitu saja, kamu berada di posisi pemimpin untuk bekerja lebih keras dibanding orang lainnya. Ini bagai game. Pilihannya ada dua, menunggu MEA datang dan menghancurkanmu begitu saja, atau menunggu MEA sembari menyiapkan plan A dan plan B. Kamu harus menerjangnya balik. Jika pasar bisa begitu terbuka mengobarkan perperangan padamu, kamu harus tertantang untuk mengalahkannya.”
Malam sudah habis memakan sore saat aku pamit dari ruang kerja Alvian dan bersiap pulang. Aku melangkah bersama Alvian melewati beberapa ruang kerja di Skystar Ventures yang penerangannya menyala. Aku pun diberitahu jika tiap ruang kerja dengan nama label berbeda-beda, memiliki sejumlah remaja yang tengah bekerja untuk impian-impiannya. Jadi, di Skystar Ventures yang bertempat di gedung C Kampus UMN berarsitektur ‘telur’ itu, setiap harinya berusaha melahirkan anak-anak remaja yang siap mengupas habis MEA.
Ada senyum yang membingkai bibirku. Kuucapkan pada Alvian sebelum pisah pada pertemuan itu, jika ia, kisahnya dan kawan-kawan remaja lainnya yang tengah sibuk mengolah mimpi-mimpinya, telah berhasil meyakinkan dunia jika Indonesia akan menyambut MEA dengan tangan yang siap merebut peluang. (*)
*tulisan ini keluar sebagai juara kedua dalam lomba penulisan feature antar universitas tingkat pulau Jawa pada ajang Communication Festival 2015, yang diselenggarakan UMN

This entry was posted in